Jikalahari Sebut Pemerintah Membiarkan Yusri Diterkam Harimau di Lanskap Kerumutan


Dibaca: 1806 kali 
Senin,12 Maret 2018 - 18:11:49 WIB
Jikalahari Sebut Pemerintah Membiarkan Yusri Diterkam Harimau di Lanskap Kerumutan Jasad Yusri Efendi. (f: rtc)
GAGASANRIAU, PEKANBARU-Harimau kembali menerkam warga di lanskap Kerumutan. Yusri Efendi, 34 tahun, ditemukan tewas di atas tanaman kumpai—tanaman rumput di atas sungai— pada 10 Maret 2018 di Kabupaten Indragiri Hilir. Saat ditemukan tengkuk Yusri terluka bekas gigitan harimau.
 
Sekira pukul 16.30 Yusri Efendi 34 tahun bersama Rusli 41 tahun, Indra 26 tahun, dan Syahran 41 tahun sedang membuat bangunan sarang walet di RT 038 Simpang Kanan Dusun Sinar Danau Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Inhil. Mereka melihat harimau Sumatera berada dibawah bangunan yang dikerjakan. Pukul 18.25 Harimau tidak terlihat lagi di sekitar bangunan, keempatnya turun dan kembali kerumah tempat mereka menginap. Setelah berjalan 250 meter tiba-tiba harimau datang dari arah depan. Mereka terkejut dan berlari berpencar.
 
Sekira pukul 19.00 Yusri Efendi tidak terlihat, rekan-rekannya berusaha memanggil-manggil, namun tidak ada sahutan dari korban. Para saksi meminta pertolongan kepada warga. Mereka pun berhasil menggunakan perahu kecil. Selanjutnya bersama warga para saksi mencari korban. Pukul 19.30, korban berhasil ditemukan di atas tanaman kumpai.
 
Jikalahari menyayangkan kinerja pemerintah pusat dan daerah yang lamban dalam melakukan review Amdal dan izin lingkungan korproasi HTI dan Sawit di lansekap Kerumutan. Konflik satwa dan manusia banyak terjadi disebabkan terganggunya habitat satwa oleh aktivitas konsesi HTI dan perusahaan sawit. 
 
''Sejak kematian Jumiati Januari lalu, Jikalahari telah berupaya mengingatkan pemerintah agar melakukan upaya yang serius untuk melindungi warga dari potensi konflik satwa dan manusia,'' kata Woro Supartinah, Koordinator Jikalahari, sebagaimana siaran pers yang diterima gagasanriau.com.
 
Dua bulan lalu, Jumiati diterkam Harimau di dalam konsesi PT Tabung Haji Indo Plantation (dulunya PT Multi Gambut Indonesia). Jumiati bersama Yusmawati dan Fitriyanti melakukan pendataan sawit yang terserang hama Ganoderma di konsesi perusahaan KCB 76 Blok 10 Afdeling 4 Eboni State Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Inhil.
 
Tengah asik bekerja, mereka dikejutkan kehadiran harimau. Berusaha melarikan diri meninggalkan lokasi, tiba-tiba setelah berlari sejauh 300 meter, dari arah depan, harimau kembali muncul. Jumiati dan kedua rekannya berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon sawit. Harimau berusaha menangkap Jumiati dengan melompat dan berhasil menggigit kaki Jumiati serta menariknya hingga terjatuh. Jumiati sempat bergumul dengan harimau selama 15 menit, namun harimau tersebut berhasil mencengkram belakang leher dan memakan paha Jumiati hingga tewas di lokasi.
 
Kemunculan harimau sudah sangat sering terjadi sejak 2017 lalu dan sama sekali tidak ada tindakan oleh Pemerintah, bahkan setelah kematian Jumiati, Pemerintah Pusat, KLHK hingga Gubernur Riau dan Bupati Inhil belum melakukan tindakan apapun.
 
''Kematian Yusri tidak seharusnya tidak akan terjadi jika Pemerintah, mulai Bupati Inhil hingga KLHK melakukan evaluasi dan pemulihan SM Kerumutan sebagai habitat harimau Sumatera,'' kata Woro.
 Kematian Yusri dan Jumiati karena habitat harimau ditelah dirusak oleh korporasi sawit dan HTI di lansekap Kerumutan. 
 
Di dalam lansekap Kerumutan ada 15 korporasi HTI dan HPH dan 7 korporasi Sawit: PT Selaras Abadi Utama, PT Rimba Mutiara Permai, PT Mitra Taninusa Sejati, PT Bukit Raya Pelalawan, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Mitra Kembang Selaras, PT Arara Abadi, PT Satria Perkasa Agung, PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa, PT Bina Duta Laksana, PT Sumatera Riang Lestari, PT Bhara Induk, PT Riau Indo Agropalma, PT Bina Daya Bentara dan PT Inhil Hutani Permai (HTI dan HPH). 7 korporasi perkebunan kelapa sawit: PT Tabung Haji Indo plantation/ PT MGI, PT Gandaerah Hendana, PT Guntung Hasrat Makmur, PT Guntung Idaman Nusa, PT Bhumireksanusa Sejati, PT Riau Sakti Trans Mandiri dan PT Riau Sakti United Plantation dengan dua konsesi (sawit).
 
Lansekap Kerumutan salah satunya terdiri atas Suaka Margasatwa (SM Kerumutan) berada di Kabupaten Pelalawan, Indaragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Luasnya sekira 120 ribu hektar.
 
Di dalam lansekap ini ada flora dan fauna. Flora: Punak (tetramerista glabra), sagu hutan (adenantera pavonina), gerunggung (cratoxylum arborescens), bintangur (callophylum schoulatrii), resak (vatica waliichi), balam (palaqium sp). Fauna: harimau loreng sumatera (panthera tigris sumatrae), macan dahan (neofelis nebulosa), owa (hylobates moloch), rangkong (bucheros
rhinoceros), monyet ekor panjang (macaca fascicularis), dan kuntul putih (egretta intermedia).
 
''Kematian Yusri dan Jumiati bukti bahwa korporasi HTI dan Sawit selain merusak hutan juga merusak habitat Harimau, dampaknya konflik Harimau tak bisa dihindarkan. Ini juga tanggung jawab Pemerintah untuk memenuhi hak hidup sebagai hak asasi manusia. Kematian Yusri dan Jumiati membuktikan bahwa Pemerintah masih abai terhadap pemenuhan HAM,'' kata Woro.
 
Untuk itu Jikalahari mendesak:
1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Gubernur Riau segera mereview
AMDAL dan Izin Lingkungan korporasi HTI dan Sawit di atas lanskap Kerumutan.
2. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membentuk tim untuk mengevaluasi tata
kelola dan tata guna lahan di Lansekap Kerumutan.
3. Balai Besar BKSDA Riau bekerja lebih responsif untuk menghentikan peredaran harimau
di pemukiman-pemukiman warga dengan cara melakukan patroli mencegah harimau
masuk ke dalam hutan tersisa di Lansekap Kerumutan.***
 
Editor : Evi Endri
 

Akses gagasanriau.com Via Mobile m.gagasanriau.com
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis,02 Mei 2019 - 10:47:51 WIB

    Lions Club Lakukan Penghijauan di Perkantoran Walikota

    Lions Club Lakukan Penghijauan di Perkantoran Walikota GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Organsasi global yang hanya bergerak di bidang sosial, Perkumpulan Lions atau Lions Club melakukan gerakan penghijauan dengan menanam bibit pohon di komplek perkantoran baru Walikota Pekanbaru, Kami
  • Selasa,30 April 2019 - 18:00:05 WIB

    KPK Menetapkan Korporasi Perkebunan Sawit Sebagai Tersangka di Riau, Gakkum KLHK Kapan?

    KPK Menetapkan Korporasi Perkebunan Sawit  Sebagai Tersangka di Riau, Gakkum KLHK Kapan? GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) layak diapresiasi atas keberaniannya melawan kejahatan korporasi. Keberanian ini juga wujud gerakan yang diinisiasi KPK bernama Gerakan Nasional Penye
  • Kamis,25 April 2019 - 19:56:46 WIB
    KPK Terkesan Pembiaran:

    Perda RTRWP Riau Bertentangan dengan GNPSDA

    Perda RTRWP Riau Bertentangan dengan GNPSDA GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Peraturan Daerah (Perda) Rancangan Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRW) Riau diduga bertentangan dengan Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GNPSDA).  
  • Selasa,02 April 2019 - 17:56:59 WIB

    Aktivitas Galian C Kian Marak di Dayun

    Aktivitas Galian C Kian Marak di Dayun GAGASANRIAU,COM.SIAK - Aktivitas galian tanah timbun atau dikenal dengan istilah Galian C di Jalan Baru, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak kian marak. Mirisnya, kegiatan yang jika tak terkontrol menyebabkan kerusakan lingkungan
  • Jumat,29 Maret 2019 - 12:34:12 WIB

    Kondisi Harimau Sumatera Terjerat di Pelalawan Mengenaskan

    Kondisi Harimau Sumatera Terjerat di Pelalawan Mengenaskan GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU  - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono menyatakan bahwa kondisi Harimau Sumatera yang terjerat di Kabu
KABAR POPULER
KANTOR PUSAT:
Jl. Kertama Marpoyan Damai Perum Nusa Indah A48 Pekanbaru, Riau. 28125
Email: [email protected]
DOWNLOAD APP GAGASANRIAU.COM

  
tembilahan situspoker situspoker agenpoker daftarpoker reviewpoker pokerterbaru poker