Telur Lebih Mahal dari Kelapa! Ratusan Mahasiswa dan Petani Bakar Ban di Kantor Bupati Inhil

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:37:52 WIB
AMBAR saat mendatangi kantor Bupati Inhil

GAGASANRIAU.COM, TEMBILAHAN, — Petani dan mahasiswa di "Negeri Hamparan Kelapa Dunia", Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau akhirnya meledak menjadi aksi amuk kekecewaan.

Mahasiswa dan petani kelapa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersama Rakyat (AMBAR) dengan jumlah ratusan tersebut mengepung dan membakar ban di depan Kantor Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Senin (10/8/2026).

Massa pendemo melampiaskan kekecewaan mendalam atas lesunya harga kelapa di tingkat petani yang dinilai kian menindas dan mencekik kelangsungan hidup masyarakat.

Aksi unjuk rasa berlangsung memanas ketika kepulan asap hitam pekat dari pembakaran ban membumbung tinggi di area Kantor Bupati Inhil.

Aparat kepolisian dan Satpol PP dikerahkan ketat mengawal perimeter lokasi guna mencegah bentrokan meluas.

Ironi "Negeri Kelapa": Sebutir Telur Lebih Mahal dari Sebutir Kelapa!

Rahmat, Koordinator AMBAR, menegaskan bahwa anjloknya harga kelapa membuat hasil keringat petani tidak lagi memberi keuntungan yang layak untuk bertahan hidup.

"Petani kelapa hari ini berada dalam kondisi yang sulit. Harga kelapa tidak sebanding dengan biaya dan kebutuhan hidup," tegas Rahmat di tengah kepulan asap ban.

Dalam orasinya, massa membongkar ironi pahit tata niaga kelapa di Kabupaten Inhil yang dinilai sangat acak-adut dan tidak masuk akal.

"Kami meminta Bapak Bupati untuk memperjuangkan harga kelapa. Hari ini lebih mahal harga telur daripada harga sebuah kelapa!" pekik massa aksi saling bersahutan.

Rahmat mendesak Pemkab Inhil tidak sekadar bertindak sebagai 'penampung aspirasi', melainkan mengambil kebijakan konkret yang memiliki tenggat waktu terukur.

"Jangan sampai persoalan harga kelapa hanya dibahas dalam rapat, tetapi tidak ada hasilnya. Petani membutuhkan kepastian harga," cetusnya.

Bupati H Herman Menemui Massa: Mengaku 'Abaikan' Pusat dan Butuh Pendobrak

Menanggapi gelombang protes yang memanas, Bupati Inhil H Herman turun langsung menemui kerumunan massa di halaman kantornya.

Herman berdalih bahwa Pemkab Inhil sebenarnya telah berkali-kali menyuarakan persoalan hancurnya harga kelapa ini ke pemerintah pusat, namun tak kunjung direspons serius.

Ia justru menyambut baik aksi nekat mahasiswa dan petani sebagai 'amunisi tambahan' untuk menekan Jakarta.

"Perlu dukungan dari mahasiswa dan masyarakat bagaimana kita mendobrak agar harga kelapa ini menjadi perhatian pemerintah pusat," ujar Herman di hadapan massa.

Ia menambahkan, Pemkab Inhil juga telah menggalang koordinasi dengan anggota DPR RI untuk mengawal dan menindaklanjuti jalan buntu tata niaga kelapa ini.

Nasib 425 Ribu Hektare Perkebunan Kelapa di Ujung Tanduk

Bupati Herman membeberkan bahwa Kabupaten Inhil memiliki bentangan perkebunan kelapa raksasa yang mencapai kurang lebih 425 ribu hektare.

Anjloknya harga pasar otomatis menghantam langsung urat nadi perekonomian mayoritas warga Inhil yang menggantungkan hidup dari pohon nyiur tersebut.

"Saya sangat berterima kasih. Berarti saya berjuang, pemerintah daerah tidak sendiri. Masyarakat juga ikut membantu, termasuk adik-adik mahasiswa," tutur Herman.

Massa AMBAR menegaskan akan terus mengawal janji Pemkab dan DPR RI hingga ada regulasi serta kepastian harga batas bawah yang melindungi nasib para petani kelapa di lapangan.

Terkini