Dapat Kerja Tapi Sungai Dirusak, Warga Singingi Hilir Minta Perusahaan Bertanggung Jawab

Ahad, 27 September 2026 | 16:51:34 WIB
Warga dan Aktivis saat meninjau sungai Singingi Hilir

GAGASANRIAU.com KUANTAN SINGINGI — Aktivis lingkungan bersama warga menemukan kerusakan ekosistem di kawasan Sungai Tapi, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, memasuki fase mengkhawatirkan.

Karena berdasarkan hasil penelitian, observasi lapangan, serta wawancara mendalam yang dihimpun tim peneliti aktivis lingkungan mengonfirmasi terjadinya penurunan kualitas lingkungan secara masif di wilayah hilir sungai.

Fredollin Napitupulu dari WWF Indonesia, membeberkan berdasarkan penelusuran di lapangan bersama narasumber lokal, Muhsin, mengungkap kontras tajam kondisi perairan, zona hulu sungai tercatat masih relatif alami, sementara kawasan hilir justru menjadi muara akumulasi limbah buangan.

"Pencemaran dipicu oleh tumpukan sampah plastik yang dibuang sembarangan oleh para sopir lintasan, hingga buangan limbah operasional perusahaan yang beraktivitas di sekitar aliran sungai " kata Fredollin kepada GagasanRiau.com dalam keterangan tertulisnya.

Kata Fredo lagi, dampak pencemaran tersebut beruntun merusak kualitas air, mengikis populasi biota air, serta merusak kawasan vegetasi hutan di sekitarnya.

Kondisi tersebut kata dia diperparah oleh maraknya pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di daerah Petai yang menggerus habitat alamiah dan merusak keseimbangan ekosistem lokal.

Perburuan Liar dan Urgennya Pengawasan Hutan

Selain pencemaran air, kawasan hutan Singingi Hilir menghadapi ancaman dari aktivitas kejahatan kehati.

Monitoring berkala yang dilakukan warga setempat mengidentifikasi maraknya perburuan liar berdurasi panjang dengan modus penggunaan senjata api hingga pemasangan jerat rakitan.

Pengawasan independen kawasan hutan menjadi benteng terakhir untuk menekan risiko kepunahan satwa dan menjaga keanekaragaman hayati yang tersisa dari jamahan pemburu.

"Atas rentetan temuan mendesak ini, tim peneliti menjadwalkan audiensi resmi dengan pihak perusahaan terkait guna menuntut pertanggungjawaban pengelolaan limbah dan mitigasi dampak lingkungan " tegas Fredo.

Menyeimbangkan Roda Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan

Di sisi lain, Husein juga dari WWF memberikan gambaran realitas sosial-ekonomi masyarakat lokal.

Keberadaan perusahaan dan aktivitas pertambangan di kawasan tersebut diakui memberikan dampak ekonomi berupa penyediaan lapangan kerja serta pembukaan akses jalan menuju area perkebunan warga.

Kondisi dilematis ini menuntut adanya jalan tengah. Keuntungan ekonomi jangka pendek yang dinikmati warga tidak boleh dijadikan pembenaran atas pembiaran kerusakan lingkungan.

Audiensi mendatang kata Husein diharapkan mampu mendorong komitmen tegas perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR), sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan serasi tanpa mengorbankan keberlangsungan ekosistem sungai dan hutan Singingi Hilir.

Terkini