Bentangan Danau Gaung Menyimpan Ikan Purba Tropis

Jumat, 08 Oktober 2021 - 18:23:26 wib | Dibaca: 637 kali 
Bentangan Danau Gaung Menyimpan Ikan Purba Tropis
Foto capture video drone @Adikataapa yang memberikan informasi visual kondisi Danau Gaung.

Banyak yang tidak mengetahui keberadaan Danau Gaung di Kecamatan Gaung Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau yang memiliki kekayaan alam luar biasa.

Danau ini dikelilingi pepohonan tumbuh diatas tanah gambut ketebalan lebih dari 50 cm berawa cekungan mengaliri air tawar hitam kemerahan.

Sesuai Schetskaart Van Het Soetanaat Indragiri atau peta sketsa Kesultanan Indragiri dibuat pada masa Pemerintahan Hindia Belanda tercatat disitus Negeri Belanda.

Peta tersebut memberikan goresan toponimi Danau Gaung saat ini masih terjaga kelestariannya. Namun saat ini sebahagia hutan gundul dibabat para pembalakan.

Butuh waktu berjam-jam menempuh jalur sungai Hulu Gaung untuk sampai ke Danau tersebut yang berdekatan dengan Sungai Siam Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Pelalawan.

Bentangan Danau Gaung salah satu Danau terluas yang ada di Indragiri Hilir memiliki luas lebih dari 100 hektare terbentuk secara alami, dengan kedalam puluhan meter. Tepian sungai sebatas dada orang dewasa.

Mengenai lahan gambut, merupakan bentang lahan yang tersusun oleh tanah hasil dekomposisi tidak sempurna dari vegetasi pepohonan yang tergenang air sehingga kondisinya anaerobik. 

Material organik terus menumpuk dalam waktu lama sehingga membentuk lapisan-lapisan tanah yang kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar mengendalikan banjir dan mengeluarkan cadangan air saat kemarau panjang. 

Tanah gambut perannya sangat penting dalam hidrologi, sebagian besar lahan gambut kedalamannya bisa mencapai lebih dari 10 meter memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya.

Bentangan Hutan Gaung ditumbuhi Pohon Meranti, Ulin, Ramin (Gonystylus bancanus), Jelutung (Dyera costulata), Punak (Tetramerista glabra), Bintangur (Calophyllum sclerophyllum) yang saat ini dibabat oleh pelaku ilegaloging.

Menurut penuturan Kepala Dinas (Kadis) Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Indragiri Hilir, Junaidi Ismail, Danau Gaung tersebut bagian dari sabuk hamparan lahan gambut berawa-rawa di pesisir Timur Pulau Sumatra. 

Salah satu bagian hamparan tersebut berada di daerah aliran Sungai Gaung yang memiliki sebuah danau yang bernama Danau Gaung. Danau ini merupakan danau air gambut yang terluas di Indragiri Hilir diperkirakan memiliki luas lebih dari 100 hektare. 

Air yang mengalir dari Sungai Simpang Kiri,  Sungai Terusan Siam dan Sungai Lintang serta beberapa anak sungai lainnya yang bersatu di perairan Danau Gaung, dengan air gambut yang berwarna hitam kemerahan.

Sepanjang sungai terdapat tumbuhan Rasau (Pandanus helicopus) yang membentuk bagaikan gugusan pulau-pulau. Selain itu terdapat pula tumbuhan Bakung (Liliaceae) yang hidup terapung di permukaan air Danau Gaung.

Di sekeliling Danau Gaung merupakan hutan tropis dataran rendah yang memiliki kekayaan berbagai jenis tumbuhan dan kayu rawa yang dilindungi dan memiliki kualitas tinggi. 

Di Hilir Danau Gaung dahulunya terkenal sebagai daerah penghasil kayu terbaik di Pulau Sumatra. Namun itu hanya tinggal kenangan karena pembalakan secara serampangan yang dilakukan kurun waktu 1980-2010.

"Pembalakan meluluh lantakan ekosistem hutan kayu Ramin dan berbagai jenis kayu rawa lainnya," sebut Junaidi.

Kehidupan dibawah permukaan air Danau Gaung menyimpan kelimpahan berbagai jenis ikan air tawar yang langka dan bernilai ekonomi tinggi. 

Ada beberapa jenis ikan antara lain ikan Tapah (Wallago), ikan Biawan (Helostoma temminckii), ikan Kepar (Belontia hasselti), ikan keli atau lele kampung (Clarias batrachus), ikan Haruan atau Gabus (Channa striata), ikan Sengat, ikan Pelompong, ikan Jalai, ikan Baung, ikan Juare, ikan Selais dan juga beberapa jenis udang. 

Disekitar bentang alam Danau Gaung juga terdapat ikan purba tropis yaitu ikan Toman (Channa micropeltes) atau snakehead yang merupakan ikan pemangsa, dan ikan kayangan atau ikan Arwana (Scleropages formosus) yang saat ini sangat sulit dijumpai. 

"Karena begitu banyaknya jenis ikan yang hidup disini maka menjadi habitat berkembang biak buaya air tawar di rawa-rawa Danau Gaung," sebut Junaidi.

CARA NELAYAN HULU GAUNG BERTAHAN HIDUP

Dengan menggunakan alat tangkap lukah, jaring, tajur dan pancing, para nelayan yang tinggal di bagan-bagan ditengah dan pinggiran danau menjadikan sebagai sumber mata pencaharian untuk memenuhi kehidupan keluarga. 

Bagan merupakan rumah panggung tempat tinggal para nelayan yang dibangun menggunakan tongkat kayu berdinding papan diatas permukaan danau secara berkelompok dan berjarak.

Ada beberapa nama bagan di daerah ini salah satunya namanya bagan Siam. Di bagan inilah mereka berteduh dan menginap beberapa hari bahkan beberapa minggu untuk mengumpulkan hasil tangkapan. 

"Sedangkan anak dan istrinya umumnya bertempat tinggal di pemukiman atau perkampungan yang berada di hilir danau," terangnya.

Dengan menggunakan pompong dan sampan mereka melakukan aktivitas nelayan di Hulu Gaung. Menggunakan alat tangkap disekitar perairan danau disela tumbuhan Rasau dan Bakung. 

Hasil tangkapan dikumpulkan didalam keramba apung untuk selanjutnya dijual ke pasar atau ke kampung-kampung yang terdekat. 

Memakan waktu jarak tempuh sekitar 3 hingga 4 jam jika menggunakan pompong untuk menjual ikan hasil tangkapan. 

Kondisi sungai Gaung jika musim kemarau, gerak pompong tidak bisa melaju cepat karena begitu banyak hambatan yang harus dihadapi. 

Jika musim kemarau permukaan dan alur sungai begitu dangkal hingga harus menggunakan galah dan diselimuti tumbuh bakung.

Begitu juga musim penghujan pompong harus menerobos gundukan bakung dan kiambang yang menutupi permukaan sungai begitu rapat dan padat.

TUJUAN BAGAN DIATAS AIR SUNGAI

Jika sampai ke Sungai Gaung, tampak rumah ber tongkat tinggi dipermukaan tepian sungai (rumah bagan), beberapa perahu, serta dilengkapi kerambah ikan apung.

Rumah tinggi diatas permukaan sungai tersebut ternyata memiliki tujuan tersendiri, selain menghindari binatang buas, juga agar mudah beraktifitas di sungai dan membuat kerambah ikan.

Mereka para nelayan sebagian membuat rumah berkelompok, dan ada juga membangun bagan jaraknya jauh-jauh dimana mereka meyakini tempat tersebut memiliki lubuk ikan.

Dalam kesehariannya, para nelayan bekerja menangkap ikan dengan cara memasang jaring, memancing, serta memasang pengelar (perangkap ikan) di sore hari dan akan dibangkit esok hari.

Hasil tangkapan akan dikumpulkan didalam kerambah apung yang terletak di samping rumah panggung mereka. Ikan-ikan tersebut akan dijual ke tokeh dan sebagian dijual di pasar mingguan.

Para nelayan butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan ikan hasil tangkapan, mulai dari ikan biawan, likis, pelompong, haruan, kapar, dan jenis ikan air tawar lainnya. Ini diketahui akibat rusaknya ekosistem sungai.

Dulu para nelayan mengakui sangat mudah mendapatkan ikan, tapi saat ini sangat sulit akibat ulah para pelaku mencari ikan dengan cara menyetrum dan me racun.

Bukan hanya itu, yang lebih parah lagi ialah perambahan hutan serta pengaruh limbah yang diduga berasal dari perusahaan, diduga merusak ekosistem sungai. Dulu air Hulu Gaung bisa diminum saking bersihnya.

MUSIM IKAN TIBA NELAYAN HULU GAUNG MUDEK

Masyarakat Gaung sebagian berprofesi sebagai nelayan jika musim ikan tiba. Profesi ini sebagian diambil untuk memenuhi kebutuhan selain penghasilan kebun.

Jika musim ikan tiba, mereka para nelayan akan mudek (pergi ke Hulu Gaung menggunakan perahu kayu menjalankan aktivitas menangkap ikan).

Para nelayan Hulu Gaung beraktifitas mencari ikan dengan menggunakan sampan kayuh untuk memasang pengelar (perangkap ikan), tajur, dan memancing.

Hasil tangkapan akan dijual ke pengepul, dan sebagian dikirim ke kampung untuk dijual ke pasar mingguan.

Dari hasil tersebutlah mereka para nelayan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk bertahan hidup. Serta sebagian membiayai anak sekolah.

Inilah strategi nelayan Hulu Gaung untuk bertahan hidup, mereka terkadang meminjam uang ke pengepul/tokeh untuk memenuhi kebutuhan jika sudah masuk musim panceklik.

Dari hasil pengamatan, jumlah nelayan disini tidaklah banyak, namun urat-urat struktur sosial masyarakat nelayan ini secara ekonomi sangat lemah, kurang tersentuh bantuan pemerintah.

Penulis: Daud M Nur

Berikut ini link video perjalanan @Adikataapa di Danau Gaung


Loading...
BERITA LAINNYA