Tak ada Pembullyan di SMAN 2 Bangko, Guru Hanya Menerapkan Pendisiplinan

Jumat, 08 Maret 2024 - 22:07:20 wib | Dibaca: 3484 kali 
Tak ada Pembullyan di SMAN 2 Bangko, Guru Hanya Menerapkan Pendisiplinan

GAGASANRIAU.COM, BAGANSIAPIAPI - Isu terkait perundungan siswa oleh oknum guru bidang studi agama SMA Negeri 2 Bangko berinisial  RS terus bergulir bak bola panas. Dibeberapa media online lokal dan TV streaming nampak gencar memberitakan sikap arogansi guru yang mengakibatkan sang siswa terbaring sakit.

Kepala SMA Negeri 2 Bangko, Jonmeri, saat ditemui usai kegiatan isra mi'raj berlangsung di sekolahnya, Jumat (8/3/2024), mengaku sangat menyayangkan hal tersebut. Narasi dalam pemberitaan dinilai tidak berimbang.

"Apakah seorang guru yang ingin menerapkan peraturan sekolah serta berupaya melakukan pendisiplinan terhadap peserta didik nya bisa dikatakan sebuah tindakan perundungan (bullying)?. Saya sebagai kepala sekolah sudah meminta keterangan guru tersebut. Dari pernyataan beliau, keterangan yang diberikan orang tua siswa pada media online itu, sangat berbeda dan tidak benar," ucap Jonmeri kepada awak media.

Ia mengatakan, dari keterangan guru yang mengajar bidang studi agama tersebut, tidak ada pemukulan dengan menggunakan kayu balok dan perkataan kotor dilontarkan kepada siswanya. Bahkan sebaiknya. Teguran yang diberikan guru lantas di balas makian dan kata kata kotor dari siswa tersebut.

"Kejadiannya sudah lama. Jadi pada Jumat Minggu lalu, siswa kita ini bolos saat jam sekolah belum usai. Saya baru beberapa bulan menjabat di sini, tepatnya di Minggu kedua Januari. Setiap Jumat, siswa laki laki kita haruskan sholat di sekolah dan siswa perempuan akan mengikuti pengajian dan pembacaan ayat pendek. Tujuan saya disini hanya ingin anak anak tetap bisa menjalankan kewajibannya. Karena kalau sudah pulang, belum tentu mereka akan mengerjakannya. Kenapa terkesan memaksa, karena saya Lillahi taala hanya ingin dunia pendidikan ini kembali ke tujuan utamanya. Menciptakan dan melahirkan generasi generasi yang sukses dunia dan akhirat. Saya merasa punya tanggung jawab disana. Tanggung jawab moral itulah yang sekarang tengah kita aplikasikan. Alhamdulillah, respon siswa sangat baik. Dengan kesadarannya siswa mengikuti program tersebut. Tapi sayangnya, pada Jumat lalu, anak kita ini bolos dan sempat ditegur oleh buk RS," sebut Jonmeri.

Tak sampai disitu saja, dari keterangan RS, siswa ini kembali membuat ulah dan berhadapan dengan guru yang sama. Karena kata Jonmeri, RS memang salah satu guru yang dinilai sangat concern dalam hal pembinaan disiplin. Hari Senin Minggu selanjutnya, siswa ini kembali di tegur namun sayangnya langsung di respon siswa dengan amukan seraya mengucapkan kata kata kotor yang diarahkan ke gurunya.

"Anak ini begitu ditegur langsung ngamuk ngamuk dan memaki gurunya. Dan itu ada saksinya, ada beberapa siswa di lokasi yang sama menyaksikan dari awal hingga akhir kejadian tersebut. Tak ada perlawanan dari buk RS. Jadi waktunya sangat lama. Kalau di cerna dari narasi yang ada, seolah anak ini pingsan usai dipukul oleh guru kita ini. Buk RS bilang ia "memukul"  bukan waktu bolos,  tapi saat ia  menegur siswa 5 hari yang lalu, dan gara gara buk RS  pukul, anaknya pingsan. Padahal tidak, ada beberapa hari setelahnya, dan siswa kita masih datang ke sekolah. Dan masalah bibir anak ini berdarah karena di sumbat guru dengan jilbab, itu sama sekali tidak benar. Buk RS menjelaskan ke saya kalau saat itu dia hanya menghapus lipstik anak ini. Karena dia kedapatan menggunakan pemerah bibir ke sekolah. Dan itu tidak berdarah-darah. Apakah pantas seorang siswa ke sekolah menggunakan pewarna bibir atau lipstik dan kejadian itu sebelum katanya ada pemukulan," paparnya.

Jonmeri juga membantah jika pihaknya mengabaikan kedatangan orang tua siswa kesekolah. Ia mengatakan, tugas nya dalam  memanajemen sekolah saat ini memang sangat padat. Dan ia belum pernah menerima kunjungan orang tua siswa.

"Kita tidak pernah menutup akses kepada orangtua siswa. Kita sangat welcome. Bahkan kita sudah mengirim guru untuk melihat kondisi siswa dan juga menyurati orang tua untuk menghadiri pertemuan dengan pihak sekolah. Kita siap adakan mediasi untuk persoalan ini. Agar kita bisa menemukan solusi dan persoalan ini biar tau seperti apa sebenarnya. Bahkan awak media yang datang pun tetap saya respon. Hari Kamis (7/3) mereka datang ke sekolah dan belum ada pemberitahuan sebelumnya. Saat itu memang saya sedang ada rapat yang sudah di jadwalkan jauh sebelumnya dengan pihak Dinas koperasi yang sat itu sudah menunggu saya diruang rapat. Saya tetap melayani kawan kawan media, sekitar 5 menit lah, kemudian saya izin untuk menghadiri rapat itu. Kan tak enak rasanya, jadwal sudah ditentukan, pihak terkait sudah menunggu tapi saya buat makin menunggu lagi. Jadi seperti itulah kronologi yang sebenarnya terjadi," tuturnya.

Ia  menyebutkan tantangan dunia pendidikan saat ini sangat berat, mengingat pengaruh karakter anak oleh digitalisasi cukup memprihatinkan. Jadi perlu dukungan semua pihak, agar guru dan pihak sekolah  bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal.

"Kami tujuannya hanya satu, mendidik anak kami agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Jadi pribadi yang baik, sehingga saat mereka kembali ke masyarakat mereka sudah diberikan bekal," tutupnya.


Loading...
BERITA LAINNYA