Balai TN Tesso Nilo Babat Kebun Sawit Dilahan Konservasi

Ahad, 18 Mei 2014 - 11:58:34 wib | Dibaca: 1979 kali 

Gagasanriau.com Pekanbaru-Ratusan hektar tanaman sawit di perkebunan kelapa sawit yang berada di areal konservasi Taman Nasional tesso Nilo Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Minggu (18/5/2014) dibabat oleh Tim gabungan.

"Ini merupakan operasi terpadu yang melibatkan berbagai pihak, dan kami targetkan 200 hektare lahan sawit di dalam taman nasional ini dibabat," kata Kepala Balai Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, Tandya Tjahjana.

Ia mengatakan, operasi terpadu tersebut melibatkan 200 personel gabungan dari Balai TN Tesso Nilo, SPORC Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau, Brimob Polda Riau, Polres Pelalawan, TNI hingga aparat Kejaksaan.

Operasi besar untuk membongkar lahan sawit ilegal di dalam kawasan konservasi TNTN pernah terjadi pada November 2010.

Saat itu, ratusan aparat dengan bantuan alat berat eskavator membongkar paksa tanaman sawit yang ditanam perambah hutan. Namun, operasi tersebut tidak berjalan mulus karena mendapat protes dan perlawanan dari pemilik lahan yang mengklaim sudah memiliki izin resmi kepemilikan lahan, yang membuat operasi itu tidak efektif.

Tandya mengatakan operasi pembongkaran kali ini cukup lancar, dan hanya mendapat kendala karena pohon sawit yang akan dibongkar sudah cukup besar, diperkirakan berumur lebih dari 5 tahun.

Sedangkan, petugas hanya mengandalkan gergaji mesin dalam operasi itu. "Kendalanya pohon-pohon sawit sudah cukup besar," ujarnya.

Menurut Tandya, pembongkaran tersebut sudah melalui sosialisasi cukup panjang bahwa keberadaan kebun sawit tersebut ilegal karena berdasarkan Undang-Undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, aktivitas konversi kawasan hutan taman nasional dikategorikan pencaplokan dan perambahan.

"Lahan sawit yang sudah dibongkar akan dikembalikan seperti ekosistem semula, yakni ditanami dengan tanaman yang semula ada di hutan setempat," ujarnya.

Selain melakukan pembongkaran kebun sawit, ia mengatakan operasi tersebut juga bertujuan untuk membuat batas di taman nasional dengan lahan di luar kawasan konservasi. Caranya adalah dengan menggali parit yang untuk tahap awal ditargetkan mencapai panjang 5-7 kilometer. "Parit itu lebar dan dalamnya sekitar dua meter," katanya.(Ant)


Loading...
BERITA LAINNYA