STN Sumsel Sikapi Harga Karet yang Jatuh

Pemerintah Sumsel Diharapkan Peduli Terhadap Menurunnya Harga Komoditas

Rabu, 10 Februari 2016 - 11:30:03 wib | Dibaca: 2623 kali 
Pemerintah Sumsel Diharapkan Peduli Terhadap Menurunnya Harga Komoditas
Petani Karet.sumber photo greenpeace

GagasanRiau.Com Sumsel - Petani karet Sumatera Selatan sepakat untuk menyuarakan dan menuntut pemerintah melalui aksi massa  untuk menstabilkan harga karet yang jatuh di tingkat terendah.

Harga karet satu minggu sekarang diharga Rp.3 ribu di daerah kami, Rantau Bayur Banyuasin," ujar Arman mewakili kelompok petani dalam kegiatan diskusi yang dilakukan oleh Serikat Tani Nasional ( STN ) Sumsel, dalam menyikapi harga karet yang semakin terpuruk, hal ini disampaikannya kepada GagasanRiau.Com melalui rilis surat elektroniknya.

Dalam kesempatan itu, Arman juga menyampaikan, kondisi ini sangat memprihatinkan, dan masyarakat kesulitan dalam menghidupi keluarganya dengan harga karet yang murah, sementara, harga kebutuhan pokok terus naik.

"Karena itu kami menyepakati akan  turun aksi dan terus mengkonsolidasikan diri dengan petani di kabupaten lain yang juga mengalami hal sama," tambahnya.

Sementara itu, Ketua STN Sumsel, Darwis mengatakan, pemerintah harus campur tangan dalam menangani persoalan ini, jangan hanya berdiam diri, kalau tidak ingin rakyat kita kelaparan.

"Harus dicari solusi segera untuk mengatasi persoalan ini, keluarkan Peraturan Pemerintah soal menaikan harga karet, agar harga karet dapat stabil kembali," ulasnya.

Hal senada juga disampaikan ketua wilayah Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumsel, Jaimarta, dikatakannya, harga karet saat ini jatuh dikarenakan akibat liberalisasi ekonomi yg sudah dilakukan sejak jaman ordebaru sampai sekarang, dan dampaknya saat ini sangat terasa, ketika harga komoditas kita jatuh karena tidak terserapnya karet rakyat. Untuk itulah ia meminta pemerintah untuk membangun industri nasional /BUMN yang menyerap karet rakyat.

Selain itu, ia juga menuntut pemerintah membangun dan menyokong pembangunan mau pun penguatan koperasi petani diseluruh Indonesia.

"Sudah saatnya saat ini kita kembali mengembalikan pola pembangunan ekonomi  ke jalur rel konstitusi UUD 1945 yang sudah digariskan. Tinggalkan pola ekonomi liberal yang menghancurkan tatanan kita dalam bernegara," kata pria yang akrab disapa Jai ini. (*)

Reporter Sutan Kayo


Loading...
BERITA LAINNYA