Tinggi, Kepedulian Megawati Sokarnoputri terhadap Dunia Riset dan Penelitian

Kamis, 15 Maret 2018 - 17:28:37 wib | Dibaca: 4853 kali 
Tinggi, Kepedulian Megawati Sokarnoputri terhadap Dunia Riset dan Penelitian
megawati soekarnoputri

GAGASANRIAU.COM, JAKARTA-Mantan Presiden Republik Inonesia yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memiliki kepedulian yang tinggi terhadap dunia riset dan penelitian di Indonesia, dimaksudkan agar negara tercinta ini semakin maju dan tumbuh besar dengan ditopang lembaga penelitian yang profesional.
 
Pada Kamis (15/3/2018), bertempat di DPP PDI Perjuangan Megawati menerima para profesor dari Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) untuk berdiskusi tentang dunia riset dan penelitian di Indonesia.
 
Merujuk ke belakang Megawati sudah sejak lama melakukan berrbagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian di Indonesia. Mengutip Bung Karno, ia percaya bahwa penelitian akan mampu memperkuat kebangsaan.
 
Ketika Megawati menjabat Presiden RI terus mendorong adanya lebih banyak penelitian, seringkali ia mendapat jawaban bahwa penelitian itu mahal. Namun baginya, kenapa tidak? Toh akan bermanfaat.
 
''Para ekonom bilang pada saya, ‘Ibu tidak tahu penelitian mahal?’ Saya jawab, ‘Ya, betul, tapi kenapa orang lain bisa, kita tidak bisa?’'' (Megawati Soekarnoputri, Anugerah Perekayasa Kehormatan BPPT, 2015).
 
''Biaya atau dana riset itu tidak pernah mencapai 1%, maka saya bilang naikkan saja, bikinlah 5%. Mengapa Amerika selalu memberikan kepada profesor-profesor pintar dana begitu besar, masa kita tidak bisa?'' (Megawati Soekarnoputri, Anugerah Perekayasa Kehormatan BPPT, 2015).
 
Karena Presiden Megawati percaya, bahwa dengan semakin banyaknya riset yang dilakukan oleh Indonesia akan mampu menjaga orisinalitas kekayaan Indonesia
 
''Kenaikan anggaran riset dan penelitian akan mampu menjaga orisinalitas kekayaan Indonesia.'' (Megawati Soekarnoputri, Anugerah Perekayasa Kehormatan BPPT, 2015).
 
Indonesia, misalnya memiliki beragam Flora yang dipercaya memiliki khasiat pengobatan. Riset dan penelitian diperlukan untuk membuktikan secara ilmiah kebenaran khasiat tersebut.
 
Sering terjadi, beberapa peneliti luar negeri secara diam-diam datang ke Indonesia untuk mengambil sampel Flora tersebut untuk diteliti di negaranya.
 
Presiden Megawati mencontohkan, ''Saya ambil bunga dari Indonesia tapi tidak akan ketahuan di mesin X-Ray di bandara. Padahal, secuil bunga itu diperlukan untuk penelitian di laboratorium.''
 
Presiden Megawati mengambil sikap tegas dalam hal ini, ia menyarankan tiap pemerintahan untuk melihat manfaat adanya penelitian bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Tak hanya dari sisi keuangan semata.
 
''Jangan membuat keputusan politik yang hanya mempertimbangkan teknis administratif, yang malah membuat jarak dengan rakyat. Jangan hanya menghitung untung rugi dari sisi bujet sesaat.'' (Megawati Soekarnoputri, Rakornasi PDI Perjuangan 2017). (rls)
 
Presiden Megawati saat itu sedang memperjuangkan nasib para peneliti madya Indonesia. Ia memberi beberapa masukan terkait usia pensiun peneliti. Kan aturan menteri yang mempercepat usia masa pensiun bagi peneliti, dari usia 65 tahun, menjadi 60 tahun. Padahal bangsa ini sangat kekurangan peneliti.
 
''Telah terbit aturan menteri yang mempercepat usia masa pensiun bagi peneliti, dari usia 65 tahun, menjadi 60 tahun. Padahal bangsa ini sangat kekurangan peneliti.'' (Megawati Soekarnoputri, Rakornasi PDI Perjuangan 2017)
 
Presiden Megawati telah memberi saran kepada Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, agar membuat kajian pemetaan aparatur negara. Artinya, reformasi birokrasi harus secara tepat memperhitungkan mana aparatus yang harus dipangkas, mana yang harus dipertahankan dan diprioritaskan untuk kepentingan pembangunan.
 
Menurut Presiden Megawati, tidak ada salahnya jika aturan tersebut ditinjau kembali. Apalagi saat ini kita sedang berupaya membangun Science Based Policy. Dalam kaitannya dengan pelestarian lingkungan, kita bisa adopsi bagaimana masyarakat adat dalam menjalin sinegri dengan alam. ''Kekayaan alam Indonesia sangat luar biasa. Semua yang dibutuhkan dunia ada di Indonesia.'' (Megawati Soekarnoputri, Rakornasi PDI Perjuangan 2017).
 
''Lingkungan alam adalah modal pembangunan bangsa. Alam bukan untuk dieksploitasi, tapi kekayaan alam adalah modal pembangunan.'' (Megawati Soekarnoputri, Rakornasi PDI Perjuangan 2017).
 
''Betapa penting lembaga penelitian bagi sebuah negara bahkan lebih besar lagi untuk sebuah bangsa. Karena tidak ada negara bisa tumbuh menjadi besar dan kuat tanpa ditopang oleh sebuah lembaga penelitian yang profesional.'' (Megawati Soekarnoputri, Dialog Kebangsaan LIPI, 2017).
 
Karenanya, menurut Megawati, sangat penting untuk mempersiapkan tenaga negara yang berwatak pembangunan yaitu rakyat yang terdidik, terlatih, dan menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi tetap memiliki kepribadian Indonesia dan berorientasi pada kepentingan nasional. Sehingga ia mampu memiliki daya cipta, kreatif dan inovatif dengan tetap berdiri kepada jati diri Indonesia.
 
Pembangunan berdikari bersifat ilmiah dan berwawasan lingkungan, Bapak Proklamator kita Bung Karno mengingatkan kita semua bahwa dasar perencanaan pembangunan harus bersifat ilmiah science best policy. ''Saya sangat tahu Pak Habibie pasti setuju seribu persen atas hal ini,’ pembangunan harus bersandar pada research dan penelitian.'' (Megawati Soekarnoputri
Rakornas Tiga Pilar, Berdikari Untuk Indonesia Raya, 2017).
 
''Research pembangunan yang Bung Karno maksud pun adalah research yang berorientasi pada penyelamatan alam dan lingkungan.” (Megawati Soekarnoputri, Rakornas Tiga Pilar, Berdikari Untuk Indonesia Raya, 2017). ''Hal ini sering kita lupakan, kekayaan alam sebagai salah satu modal pembangunan bukan untuk di eksploitasi hanya atas nama investasi.'' (Megawati Soekarnoputri, Rakornas Tiga Pilar, Berdikari Untuk Indonesia Raya, 2017).
 
Menurut Megawatu, eksploitasi alam hanya akan membawa kehancuran peradaban manusia, kekayaan alam sebenarnya adalah modal pembangunan yaang harus dimanfaatkan dengan bijaksana, dengan memperhatikan keberlangsungan ekosistem.  (Megawati Soekarnoputri). ''Tidak ada salahnya kita belajar atau bahkan mengadopsi tradisi masyarakat adat dalam menjaga pola kehidupan yang bersinergi dengan alam dan lingkungan.'' (Megawati Soekarnoputri, Rakornas Tiga Pilar, Berdikari Untuk Indonesia Raya, 2017).
 
Presiden Megawati tidak ingin biodiversitas Indonesia diklaim orang lain, karena sekarang ini dengan semakin majunya teknologi, terutama di ilmu genetika. Flora fauna kita sangat mudah untuk dicuri. Sehingga saya instruksikan kepada kader partai untuk membantu mendata potensi kekayaan hayati budaya dan intelektual di daerah masing-masing untuk selanjutnya kita daftarkan secara resmi sebagai bagian dari milik bangsa Indonesia.
 
''Indonesia bisa menjadi negara nomor satu bila pemimpinnya mengombinasikan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal.'' (Megawati Soekarnoputri, Konvensi Nasional Haluan Negara, 2016). Presiden Megawati mencontohkan, Indonesia memiliki banyak warisan pengobatan tradisional. Terlebih saat ini masyarakat tidak memiliki alternatif memilih obat selain jenis generik. Penggunaan obat-obat tradisional, harus didahului dengan penelitian. Seperti kunyit, misalnya. Kunyit diam-diam diambil oleh luar karena sangat bermanfaat sekali.
 
Hal-hal seperti itu (riset atas pemanfaatan tumbuhan milik Indonesia) perlu dilestarikan. Jangan sampai kita cari sesuatu bukan ada di Indonesia, tapi sudah di luar. ''Saya berharap itu diapresiasi dalam rangka otonomi daerah. Karena yang sangat dikhawatirkan adalah arus deras dari luar yang ingin mengambil tanaman kita itu betul-betul ada.'' (Megawati Soekarnoputri, disampaikan saat mendampingi 24 Duta Besar (Dubes) Negara sahabat, di Istana Tampak Siring, 2016).
 
Presiden Megawati berharap pemerintah mau mematenkan tanaman-tanaman khas Indonesia. ''Endemik, tanaman lokal kita diambil seperti tanaman obat, sayuran, bunga-bungaan. Saya juga gerakan agar apa yang menjadi milik Indonesia, pemerintah mau mematenkan.'' (Megawati Soekarnoputri, disampaikan saat mendampingi 24 Duta Besar (Dubes) Negara sahabat, di Istana Tampak Siring, 2016).
 
Terkait APBN untuk riset, disebutkan oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti Muhammad Dimyati, dibutuhkan ekstra effort untuk menaikan anggaran R&D hingga 5% (Rp. 104,8 triliun) di tahun 2019. ''Anggaran Research dan Development (R&D) tahun 2016 sebesar Rp. 30,76 triliun. Itu artinya, anggaran riset dan penelitian masih sekitar 0,25% per PDB atau sekitar 1,47% dari APBN,'' lanjut Muhammad Dimyati.
 
''Saya sangat berharap, bilang pada Menristek atau pemerintahan yang ada, paling tidak kalau bisa dapat 2,5% (anggaran penelitian).'' (Megawati Soekarnoputri, disampaikan saat mendampingi 24 Duta Besar (Dubes) Negara sahabat, di Istana Tampak Siring, 2016).
 
Presiden Megawati percaya bahwa dengan hadirnya penelitan yang lebih banyak tentang Indonesia, akan mampu melindungi kekayaan alam Indonesia. Ia sangat menghargai kerja para peneliti dalam menjaga kekayaan intelektual Indonesia.
 
Presiden Megawati juga berharap jika tiap pemerintahan melakukan hal yang sama, mendukung kerja para peneliti Indonesia. (rls)
 

Loading...
BERITA LAINNYA