26 Ton Garam dan 6 Heli Dikerahkan, Pemprov Riau Masih Gagal Padamkan Karhutla Secara Permanen

Jumat, 21 Agustus 2026 | 12:11:36 WIB
Petugas saat menaikan butiran garam (NaCl) untuk melakukan OMC

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang makin tidak terkendali, membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau terpaksa mengguyur langit dengan puluhan ton garam demi membendung ancaman di tengah cengkeraman El Nino.

Bahkan hingga hari ke-21 pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), telah menghamburkan sebanyak 26.000 kilogram atau 26 ton garam jenis natrium klorida (NaCl) ke gumpalan awan cumulonimbus.

Harapannya, dengan dilakukan intervensi cuaca ekstrem ini digencarkan guna memicu hujan buatan, terutama di kawasan lahan gambut remah yang terancam kekeringan parah.

Penyemaian garam dari udara yang memanfaatkan armada pesawat Cessna tersebut diklaim mulai membuahkan hasil di sejumlah wilayah rawan.

Edy Afrizal, Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau melalui Kabid Kedaruratan, Jim Gafur, mengonfirmasi bahwa hingga Kamis (20/8), tim telah merampungkan sebanyak 26 sorti penerbangan penyemaian.

Guguran hujan buatan berhasil membasahi area-area krusial yang sempat membara, meliputi Kabupaten Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, hingga Kuantan Singingi.

"OMC di Riau sudah memasuki hari ke-21. Sejumlah daerah yang dilanda kekeringan sudah diguyur hujan," ungkap Jim Gafur, Kamis (20/8).

Kendati demikian, Jim mengakui bahwa rekayasa cuaca memiliki keterbatasan dan tidak bisa mengeksekusi hujan secara instan tanpa dukungan kondisi awan alami.

Strategi penyemaian difokuskan untuk terus membasahi hamparan gambut agar tingkat kerawanan terbakar dapat ditekan seminimal mungkin.

"OMC ini tidak dapat dilakukan serta merta, tergantung kondisi awannya. Tapi hujan buatan terus diupayakan tak hanya bertujuan untuk memadamkan karhutla, tapi juga membasahi lahan agar kawasan yang mudah terbakar bisa diminimalisir," jelas Jim.

Selain gempuran garam dari langit, Pemprov Riau melipatgandakan pertempuran udara dengan menyiagakan enam unit helikopter.

Satu unit helikopter difokuskan khusus untuk pemantauan udara (patroli), sementara lima unit sisanya dikerahkan penuh untuk manuver water bombing atau penyiraman air dari udara.

Pengeboman air dari langit ini diplot untuk membentengi tim darat gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, hingga Manggala Agni yang terus bertaruh fisik menjinakkan amukan titik api di daratan.

Terkini