GAGASANRIAU.COM, PANGKALAN KERINCI -- Akibat Kebakaran hutan dan Lahan (Karhutla) yang destruktif di Riau telah memakan korban jiwa secara perlahan.
Tercatat, sebanyak 549 warga Kabupaten Pelalawan dilaporkan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat terhirup kabut asap pekat.
Data tersebut hasil pendataan dari Dinas Kesehatan Pelalawan yang mencatat ratusan korban hingga Selasa (25/8) dari berbagai fasilitas kesehatan.
Asril, Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan, mengungkapkan grafik lonjakan kasus ISPA terdeteksi sejak awal munculnya asap pada 18 Agustus lalu.
"Kami mulai mendeteksi peningkatan kasus ISPA sejak kabut asap muncul 18 Agustus lalu sampai hari ini," ujar Asril, Rabu (26/8).
Dari total 549 penderita, profil pasien terbagi atas 278 laki-laki dan 271 perempuan.
Puskesmas Pangkalan Kuras I mencatat angka ledakan kasus paling tinggi dengan menangani 147 pasien.
Sebaran pasien ISPA meluas di 14 puskesmas seluruh kecamatan di Pelalawan:
- Puskesmas Pangkalan Kuras I: 147 pasien
- Puskesmas Kerumutan: 72 pasien
- Puskesmas Ukui: 70 pasien
- Puskesmas Pangkalan Kerinci I: 60 pasien
- Puskesmas Langgam: 52 pasien
- Puskesmas Pangkalan Kuras II: 28 pasien
- Puskesmas Pelalawan: 27 pasien
- Puskesmas Bandar Seikijang: 26 pasien
- Puskesmas Bandar Petalangan: 25 pasien
- Puskesmas Teluk Meranti: 21 pasien
- Puskesmas Pangkalan Lesung: 11 pasien
- Puskesmas Bunut: 10 pasien
- Puskesmas Kuala Kampar: 6 pasien
- Puskesmas Pangkalan Kerinci II: 4 pasien
Uniknya, lini rumah sakit daerah maupun swasta belum mencatat adanya pasien ISPA akibat paparan karhutla ini.
Seluruh penderita hingga kini masih dapat ditampung dan ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
"Sampai saat ini pasien masih bisa ditangani di faskes awal seperti puskesmas maupun bidan desa. Belum ada rujukan ke RS," jelas Asril.
Meski kualitas udara di Pangkalan Kerinci dilaporkan mulai membaik, ancaman racun asap masih mengintai saluran pernapasan warga.
Paparan asap memicu rentetan gejala batuk, flu, demam, hingga sakit tenggorokan akut yang mengganggu produktivitas.
Bagi penderita gejala ringan, dinas mengimbau konsumsi air putih, penambahan vitamin, serta isolasi mandiri di rumah.
Namun, lampu kuning dinyalakan untuk kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit bawaan asma atau paru-paru.
"Untuk kelompok rentan harus lebih menjaga kesehatan. Jika kondisinya memburuk, segera ke puskesmas," imbau Asril.
Merespons krisis ini, Posko Kesehatan Penanggulangan Bencana Karhutla didirikan di Desa Bandar Panjang, Kecamatan Kerumutan.
Posko ini dibentuk lewat kolaborasi gabungan Bid Dokkes Polda Riau, Si Dokkes Polres Pelalawan, Dinkes Pelalawan, dan Puskesmas Kerumutan untuk mengawal kesehatan warga terdampak.