Efek Domino Kelangkaan Solar di SPBU, Semen Jadi Langka di Rohul, Pembangunan Warga Lumpuh Total

Senin, 07 September 2026 | 14:07:33 WIB
Foto ilustrasi truk antrean BBM jenis solar di Pekanbaru

GAGASANRIAU.com, PASIRPENGARAIAN — Akibat krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) solar berkepanjangan memicu kelangkaan semen di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, selama sebulan terakhir.

Bahkan untuk mendapatkan ketersediaan material utama yang menipis ini telah memaksa warga maupun kontraktor masuk daftar tunggu (booking) demi mendapatkan pasokan.

Sehingga, dampak domino kemacetan pasokan tak hanya menunda pembangunan fisik warga, tetapi juga memukul omzet pemilik toko bangunan hingga turun drastis hingga 50 persen.

"Sudah lebih sebulan semen langka. Kami mendapatkan informasi dari distributor, untuk mendapatkan semen harus antre berhari-hari. Kondisi ini terjadi baik dari Dumai maupun Padang," kata pemilik Toko Amanah Bangunan Pasirpengaraian, H Zakir, Minggu (6/9/2026) dikutip dari Riauposco.

Dan pastinya, kelangkaan ini dipicu oleh dua faktor utama: tersedotnya alokasi semen untuk proyek pemerintah dalam skala besar dan terhambatnya rantai distribusi darat akibat krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar.

Karena truk pengangkut semen dari Dumai maupun Padang tertahan oleh antrean panjang di SPBU.

Sehingga, kemacetan logistik tersebut memicu keterbatasan stok di tingkat eceran.

Akhrinya, untuk menyiasati pasokan terbatas yang dibawa armada engkel (400 sak) dan tronton (520 sak), toko bangunan menerapkan kuota ketat demi menghindari spekulasi.

"Masyarakat yang ingin membeli semen harus booking nama terlebih dahulu, tanpa panjar. Kami prioritaskan penjualan kepada pelanggan. Kalau kontraktor yang membeli dalam jumlah besar, maksimal 50 sak," ujar Zakir.

Meski diterpa keterbatasan pasokan, sejumlah pemilik toko memilih tidak menaikkan harga jual. Semen Padang dibanderol Rp78 ribu per sak, Semen Tiga Roda Rp85 ribu per sak, dan Semen Merah Putih Rp75 ribu per sak.

Namun, mandeknya penjualan semen secara otomatis mematikan rantai bisnis bahan bangunan lainnya.

Tanpa semen, pembelian pasir, batu, besi, hingga bata terhenti total karena warga menunda pengerjaan fisik.

"Kalau semen tak ada, barang lainnya juga tak ada yang dibeli. Masyarakat yang mau membangun atau merenovasi tempat tinggal terkendala. Akhirnya mereka tidak membeli bahan bangunan lainnya," kata Zakir, yang berharap jalur distribusi BBM dan logistik segera dinormalisasi.

Sektor konstruksi swadaya masyarakat pun kini berada pada titik nadir akibat keterlambatan pasokan yang merata di wilayah Pasirpengaraian hingga Ujung Batu.

"Kalau semen sulit didapat, pembangunan tentu terkendala. Kita sudah merencanakan pekerjaan, tetapi kalau semennya tidak ada, terpaksa menunggu sampai dapat," ujar Rahmat, warga Desa Pematang Berangan, Kecamatan Rambah, saat berburu stok semen.

Terkini