Patrianef: Dokter, Profesi Yang Sedang Dikerdilkan

Senin, 12 September 2016 - 13:20:16 wib | Dibaca: 10947 kali 
Patrianef: Dokter, Profesi Yang Sedang Dikerdilkan
Dr Patrianef Seorang dokter spesialis, subspesialis dan konsultan

GagasanRiau.Com Pekanbaru - Sebuah opini dari tulisan dokter yang sangat fokus mengkritisi masalah pendangkalan dalam dunia medis. Adalah Dr Patrianef, Dokter Spesialis Bedah Umum Subspesialis Bedah Vaskular di RS Cipto Mangunkusumo-Jakarta. Berikut ini kami sajikan tulisannya semoga bermanfaat bagi dunia kedokteran kedepan.

Sekaranglah masanya profesi dokter sedang menjalani proses pendangkalan dan pengkerdilan yang sistematis dan terstruktur. Dari sisi mana saja kita memandang proses yang sama sedang terjadi. Dan itu dilakukan oleh mereka yang juga berprofesi sebagai dokter.

Dari sisi penanganan pasien. Saat ini yang dikedepankan adalah Protap ( Prosedur Tetap) dan SOP (Standard Operating Procedures). Ini saat sekarang menjadi berhala kita semua. Setiap yang berbeda dengan Protap dan SOP dianggap sebagai suatu pelanggaran dan kesalahan. Dokter yang dikenal sebagai "Arts" sudah kehilangan seninya.

Pada saat ini dimana semua pihak diharapkan mengetatkan ikat pinggang dengan menggunakan paket hemat dari asuransi Bxxx, maka pemberhalaan dari Protap dan SOP semakin menguat dan mengetat. Semua usaha diarahkan kepada hal itu.

Panduan Praktek Klinik(PPK), Pedoman Nasional Praktek Klinik (PNPK)dan "Guideline" yang sebetulnya bertujuan untuk membantu seorang dokter untuk menegakkan diagnosa dan langkah langkah penatalaksanaan pasien sudah berubah menjadi salah satu alat untuk mencari dosa dan kesalahan dokter.

Langkah langkah seorang dokter dikawal dengan "Clinical Pathway(CP)". CP yang berisi item item pemeriksaan, hari rawatan dan pilihan pengobatan sudah berubah seolah olah menjadi buku diktat dan akan berubah menjadi "diktator".

Tidak ada lagi keleluasaan seorang dokter menangani pasien. Tidak ada lagi seni dalam penanganan pasien.

Dalam sistem yang berlaku sekarang dokter seolah olah menjadi seorang pegawai "out sourcing" dari perusahaan asuransi sosial. Dokter bukan lagi pelaku utama. Arahan dari perusahaan lah yang nomor satu dan menentukan. Semuanya takluk. Bahkan manajemen RS tak akan berkutik dan akan mengikuti arahan perusahaan tersebut.

Alasan "kendali biaya" mengedepan, dibungkus dengan jargon "kendali biaya dan kendali mutu". Penurunan biaya dibungkus dengan kalimat "dilandaikan". Kendali biaya ditujukan untuk menghemat semua yang bisa dihematkan. Tetapi RS tentu saja tetap beruntung, karena mereka diisi dengan manajer manajer handal yang selalu bisa mensiasati aturan yang berlaku. Tinggallah pasien yang jadi korban.

Yang diuntungkan adalah pasien, karena dengan penghematan semakin banyak pasien yang terlayani. Tetapi yang dirugikan juga adalah pasien.

Semakin banyak pasien yang menderita Hepatitis B dan Hepatitis C karena semakin banyak bahan habis pakai yang di daur ulang pada penderita hemodialisa. Yang pada akhirnya membawa kepada kematian bukan lagi penyakit utamanya tetapi penyakit yang ditransmisikan melalui proses pengobatan.

Semakin banyak pasien yang menderita bengkak pada tangan akibat stenosis di vena sentral karena penggunaan kateter murah dan dikerjakan oleh tenaga bukan ahli. Akibat penghematan dan penolakan asuransi mengirim kepada tenaga ahli di RS tertentu. Tentu saja untuk menghemat biaya. Pasien lagi lagi terkorban. Pada akhirnya pasien bukan lagi mengeluh perihal cuci darahnya, tetapi penyakit ikutan akibat penghematan tadi.

Diatas baru dua contoh dari spesialisasi kami. Banyak contoh dari spesialisasi lain.

Kita para dokter memang tidak bisa berbuat banyak. Tidak akan ada yang mendengar suara kita. Jangankan kita , suara PB IDI saja tak lagi didengar. Yang didengar adalah suara pemegang uang dan itu adalah perusahaan asuransi atau apapunlah namanya yang ditugasi oleh negara untuk mengelolanya.

Diperlukan kearifan kita sebagai dokter untuk menyikapinya. Melawan secara frontal seolah olah kita mempertahankan profesi kita dan menolak perubahan. Padahal kepedulian kita terhadap pasien melebihi kepedulian kita terhadap apapun, bahkan keluarga sendiri.

Dalam situasi seperti ini, saya yakin banyak yang merasakannya. Rasa putus asa dan pasrah bercampur jadi satu. Negara yang seharusnya mengayomi dan melindungi kita pasti ada, tetapi kita tidak tahu bagaimana caranya supaya negara ada dan melindungi kita. Akses kita untuk ke kepala negara memang terbatas.

Demi untuk Indonesia yang lebih baik kita harus tetap menyuarakan hal ini.

Padang, 12 September 2016.

Patrianef Patrianef Seorang dokter spesialis, subspesialis dan konsultan.


Loading...
BERITA LAINNYA