Indonesia Butuh Scientific Temper

Kamis, 15 September 2022 - 11:39:34 wib | Dibaca: 2566 kali 
Indonesia Butuh Scientific Temper
Ilustrasi

Menurut Professor Ronald Heifetz dari Harvard Kennedy School masalah-masalah yang kita temui di sekitar kita bisa dikategorikan ke dalam dua kelompok utama. (Heifetz, 2009) Pertama adalah masalah-masalah yang cakupannya cukup sempit atau cukup jelas; bisa diselesaikan oleh ahlinya; dan bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek. Masalah-masalah ini disebut sebagai Masalah Teknis. 

Contohnya ketika terjadi pandemi Covid-19 ada masalah di mana kita harus menemukan vaksin sesegera mungkin, maka para ahli kesehatan dan virologi di seluruh dunia berkumpul untuk menemukan vaksin dan dalam jangka waktu sekitar satu tahun. Sekarang kita sudah bisa menemukan beberapa vaksin yang bisa dipakai.

Namun, ada juga masalah-masalah yang cepat lebih ambigu dan biasanya orang-orang suka menyangkal bahwa masalah itu ada; kemudian masalahnya tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggunakan para ahli saja, tapi dibutuhkan eksperimen atau discoveries untuk menemukan jawabannya; dan terakhir adalah masalahnya biasanya tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek. 

Sebut saja isu seperti krisis iklim atau perlindungan minoritas di Indonesia sudah berpuluh-puluh tahun kita tahu masalahnya tapi sampai sekarang tetap belum terselesaikan pula. Masalah-masalah ini disebut sebagai Masalah Adaptif karena ada perubahan atas norma nilai atau perspektif yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingannya. 

Masalah yang sering terjadi adalah masalah-masalah adaptif dalam kebijakan publik yang diselesaikan secara teknis, sehingga solusinya kurang efektif. Sebut saja fakta bahwa Indonesia kurang memiliki “Scientific Temper” yaitu pembuatan kebijakan publik berbasis data. Ketika kita membangun situation room dengan layar layar yang begitu besar, belum tentu itu menyelesaikan masalah perubahan budaya untuk membuat kebijakan lebih berbasis data yang kita butuhkan. 

Sebaliknya, ketika kurangnya kolaborasi atau koordinasi antar kementerian, pembentukan tim khusus atau atgas, itu tidak serta-merta mendorong perubahan atas kebudayaan yang lebih kolaboratif. 

Nah, solusi teknis ini bisa menjadi langkah awal yang baik, tapi jangan sampai kita berhenti di situ. Akan tetapi, kita juga harus lanjut dan mencoba inovasi-inovasi kreatif untuk menyelesaikan masalah adaptif yang berkaitan dengan budaya pembuatan kebijakan publik berbasis data. Mari kita kembali ke kasus yang biasanya dalam sebuah masalah akan ada elemen teknis dan elemen adaptif-nya.

Nah, elemen teknis di sini mungkin kurang lebih sudah dapat diselesaikan dengan membuat kebijakan regulasi. Namun, apa saja sih opsi kebijakan publik yang mendorong pemulihan hijau kalaupun masih ada _information gap_ atau informasi yang belum kita miliki. Bisa jadi diselesaikan dengan mengundang para ahlinya misalnya ahli-ahli ekonomi lingkungan tapi bagaimana dengan masalah adaptif-nya? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi yang menghalangi dari menyepakati program yang ingin di dorong bersama? 

Untuk melihat isu ini lebih lanjut, ada 5 langkah yang bisa pemerintah gunakan dan akan dibahas satu persatu. _Check it Out!_

Pertama adalah *Naik ke Atas Balkon*, tapi bukan secara literal. Artinya teman-teman perlu naik level interpretasi yang lebih makro dari posisi teman-teman berada sekarang. Misalnya, teman-teman bisa coba lihat perspektif tentang peran sosio-kultural, beban emosional, ego-sektoral atau apapun yang kira-kira memotivasi pujian dalam keputusan yang diambil. Pada saat bersamaan, naik ke atas balkon juga berarti introspeksi diri, apakah ada bias-bias yang kita miliki dalam melihat masalah secara lebih utuh.

Langkah yang kedua adalah *Mendiagnosis Masalah Adaptif*-nya. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan pertanyaan strategis dan juga mendengarkan secara aktif. Sama halnya dengan seorang dokter yang akan bertanya ini demam sudah berapa hari atau sempat makan apa? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu kita membedakan antara gejala dari akar masalahnya. 

Mungkin dari proses ini, teman-teman akan menemukan bahwa adakah melihat adanya urgensi dari pemulihan ekonomi yang hijau atau teman-teman juga akan menemukan bahwa sempat ada masalah dengan divisi lain. Apapun itu, ini akan memberikan perspektif baru tentang masalah sebenarnya yang terjadi ketika dalam menyelesaikan program pemulihan ekonomi hijau tersebut.

Langkah ketiga adalah langkah yang paling kompleks, yaitu *Bangun Ruang Aman untuk Konflik Produktif*. Tadi kita sempat bahas, bahwa dalam masa adaptif memang diperlukan perubahan perspektif atau perubahan norma dan nilai-nilai di antara pemangku kepentingan. Oleh karena itu, tidak bisa terhindarkan bahwa menyelesaikannya memang butuh konsentrasi atau pertentangan di antara nilai yang lama dengan nilai-nilai yang baru. Di sini kata kuncinya ada di kata ‘produktif’ artinya teman-teman perlu meregulasi batas toleransi, di mana para pemangku kepentingan masih tetap mau berdialog di dalam diskusi yang produktif dan bukan malah menjadi kontra-produktif. 

Dalam mendorong ruang aman ini, akan membantu kalau siapa yang memfasilitasi itu memiliki otoritas formal atau in-formal yang dipercaya. Misalnya, kita bisa undang seorang direktur dari divisi lain yang dekat dengan budaya atau direktur jenderal harus turun tangan. Ini penting sekali untuk memastikan bahwa konfliknya berada di level yang produktif

 

Lanjut yang keempat adalah *Menjaga Fokus Para Pemangku Kepentingan (stakeholder) pada Tujuan Bersama*. Dalam masalah adaptif biasanya mudah sekali para pemangku kepentingan itu terdistraksi, apakah itu terdistraksi oleh ego mereka sendiri atau terdistraksi oleh isu yang sebenarnya bukan masalah utama atau apapun itu yang mencegah proses untuk terjadi secara produktif. 

 

(gambar 2)

 

Karena itu, penting juga untuk seseorang menjalankan kepemimpinan adaptif untuk mengembalikan fokus, sebenarnya apa yang tujuan bersama yang kita mau capai dan kenapa tujuan bersama itu akan menguntungkan semua pihak yang terlibat.

 

Langkah kelima adalah *Hindari Menawarkan Solusi*. Percaya atau tidak dalam masalah adaptif lebih penting orang siapa yang mengeluarkan solusinya daripada substansi teknis dari solusi itu sendiri. Artinya, ketika solusi datang langsung dari orang yang perspektifnya perlu berubah, maka itu akan memastikan bahwa memang sudah terjadi perubahan perspektif di dalam individu tersebut. Jadi, alih-alih berusaha menjadi orang yang paling pintar di ruangan dengan memberikan segala macam solusi, kadang-kadang lebih penting untuk kita menanyakan pertanyaan yang akan mendorong kita untuk sampai pada kesimpulan atau solusi yang sama. 

 

Tapi…bagaimana jika kita hanya staf biasa, apa yang harus kita lakukan? 

 

Menyelesaikan masalah adaptif atau menjalankan kepemimpinan adaptif tidak melulu harus dilakukan dari posisi figur otoritas formal, tetapi bisa juga secara informal artinya kita tidak harus menjadi seorang pejabat di sebuah “kementerian”, “direktur” di sebuah perusahaan untuk bisa melakukan kepemimpinan adaptif dengan efektif. 

 

Pastiya, karena pemangku kepentingan yang ingin kita coba ubah akan mager (malas gerak) untuk merubah atau tidak suka atas perubahan, maka prosesnya pasti dijamin tidak akan mudah. Biasanya seorang pemimpin adaptif akan dihentikan di tengah jalan. Orang-orang akan menyangkal bahwa masalahnya ada dan kadang-kadang juga fokus untuk menyelesaikan balik secara teknis saja. Oleh karena itu, diperlukan sebuah fokus dan mentalitas untuk perjuangan jangka panjang dalam menyelesaikan sebuah masalah adaptif.

 

Penulis: Theofilus Gabriel

*Referensi*

Heifetz, R. A., Heifetz, R., Grashow, A., & Linsky, M. (2009). The practice of adaptive leadership: Tools and tactics for changing your organization and the world. Harvard Business Press.

 

 


Loading...
BERITA LAINNYA