Ironi Ibu Kota Riau, Warga Binawidya Panen Pisang di Tengah Jalan Tanah, Protes Pembangunan Pilih Kasih

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:52:11 WIB
Warga Jalan Beringin Ujung Sibam Tanam Pisang di Jalan protes Pembangunan Tidak Merata Riau.

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Wajah pembangunan Kota Pekanbaru kembali ditampar oleh aksi protes kreatif sekaligus miris dari warga pinggiran.

Karena di tengah klaim kemajuan kota, warga Jalan Beringin Ujung, Kelurahan Sungai Sibam, Kecamatan Binawidya, nekat menanam batang pisang di tengah jalan sebagai simbol mosi tidak percaya terhadap pemerataan infrastruktur.

Hal itu terungkap oleh aksi yang berlangsung pada awal Maret 2026 ini dan viral di media sosial.

Dalam video yang viral tersebut mempertontonkan pemandangan kontras, jalan utama yang masih berupa tanah liat, berubah menjadi kubangan lumpur pekat saat hujan mengguyur, hingga nyaris tak bisa dilalui kendaraan.

"Bukan Sekadar Rusak, Tapi Belum Pernah Disentuh"

Kritik pedas datang dari parlemen. Anggota Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru, Zulfan Hafiz, menilai fenomena "kebun pisang di jalan" ini adalah bukti nyata pemerintah kota menutup mata terhadap wilayah pinggiran.

"Perbaikan infrastruktur jangan hanya fokus di pusat kota saja, tetapi harus merata sampai ke seluruh wilayah yang masuk Kota Pekanbaru," tegas Zulfan saat ditemui di Kantor DPRD Pekanbaru, Rabu (11/3) sore.

Politisi Partai NasDem ini membeberkan fakta mengejutkan bahwa jalan di wilayah Sibam tersebut sejatinya bukan jalan rusak, melainkan jalan yang sama sekali belum pernah tersentuh pembangunan sejak dulu.

Di saat pusat kota bersolek dengan aspal mulus, warga Sibam masih berjibaku dengan debu dan lumpur.

Hak Pajak yang Terabaikan

Zulfan menyebut aksi tanam pisang tersebut adalah akumulasi kekecewaan rakyat yang merasa kewajibannya ditarik, namun haknya diabaikan.

"Itu bentuk protes warga. Mereka sudah membayar pajak, tetapi belum merasakan pembangunan," ujar legislator daerah pemilihan Binawidya dan Tuah Madani tersebut.

Ia mendesak Pemerintah Kota Pekanbaru untuk segera mengalokasikan anggaran daerah secara maksimal, termasuk pemanfaatan dana dari opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), untuk memprioritaskan infrastruktur dasar di kawasan pinggiran. 
"Gunakan pajak-pajak itu untuk perbaikan jalan dan pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat," cetusnya.

PUPR Bungkam Seribu Bahasa

Ketimpangan ini semakin diperparah dengan sikap tertutup otoritas terkait.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi yang dilakukan goriau kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melalui Pelaksana tugas (Plt) Kepala PUPR Kota Pekanbaru, Edward Riansyah, tidak membuahkan hasil.

Pesan singkat yang dikirimkan oleh awak media tak kunjung mendapat balasan, meninggalkan tanda tanya besar kapan penderitaan warga Sungai Sibam akan berakhir.

Terkini