Karhuta di Inhil, 35 Hektare Lahan Terbakar, Pemukiman Warga Dalam Ancaman Serius

Selasa, 31 Maret 2026 | 07:02:33 WIB
Kondisi lahan yang habis terbakar di Kabupaten Inhil (Foto BPBD Inhil)

GAGASANRIAU.COM, TEMBILAHAN – Eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kian tak terkendali.

Pasalnya, hingga Senin (30/3/2026), si jago merah dilaporkan telah melumat sedikitnya 35 hektare lahan yang tersebar di tiga kecamatan berbeda.

Dengan situasi itu memaksa tim gabungan bekerja ekstra keras karena titik api mulai merayap mendekati wilayah pemukiman penduduk.

Berdasarkan data lapangan, tiga titik api utama terkonsentrasi di Desa Teluk Nibung (Kecamatan Pulau Burung), Desa Bekawan Dalam (Kecamatan Mandah), dan Desa Pasir Mas (Kecamatan Batang Tuaka).

Titik Terparah: 20 Hektare Membara di Teluk Nibung

Kondisi paling kritis terpantau di Desa Teluk Nibung. Di wilayah ini, api telah mengamuk selama empat hari berturut-turut dan menghanguskan sekitar 20 hektare lahan.

Hingga berita ini diturunkan, tim di lapangan masih terus berjibaku melakukan proses pemadaman dan pendinginan guna memutus jalur penjalaran api.

Sementara itu, di Desa Bekawan Dalam, Kecamatan Mandah, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare. 
Penanganan di lokasi ini telah memasuki hari ketiga dengan fokus utama pada tahap pendinginan.

Sedangkan di Desa Pasir Mas, Kecamatan Batang Tuaka, lahan seluas 5 hektare juga masih dalam proses pemadaman intensif setelah empat hari terbakar.

Bertaruh Nyawa di Tengah Krisis Air dan Angin Kencang

R Arliansyah, Kalaksa BPBD Inhil, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Ari Syuria, menegaskan bahwa medan tempur melawan api kali ini sangat berat.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, aparat desa, hingga masyarakat harus berhadapan dengan "tiga serangkai" kendala: angin kencang, cuaca panas ekstrem, dan sumber air yang sangat terbatas.

"Pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan. Kendala di lapangan di antaranya angin kencang, cuaca panas, serta sumber air yang terbatas," tegas Ari Syuria dikutip dari Riaupos.co.

Kekhawatiran kian memuncak lantaran beberapa titik api berada dalam radius yang sangat dekat dengan hunian warga. BPBD Inhil menetapkan skala prioritas untuk memblokade pergerakan api agar tidak melumat fasilitas publik dan rumah penduduk.

Bukan Sekadar Tugas Petugas: Seruan Kolaborasi

Ari menggarisbawahi bahwa stamina petugas mulai terkuras setelah empat hari tanpa henti berada di garda terdepan.

"Tim di lapangan sudah empat hari tidak mengenal lelah. Mereka bertaruh tenaga dan kesehatan demi memastikan api tidak kembali berkobar. Namun, upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh petugas," imbuhnya.

Akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau dengan sarana terbatas menjadi tantangan tambahan yang memperlambat gerak taktis pemadaman.

Atas kondisi darurat ini, BPBD Inhil mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk korporasi, untuk berhenti melakukan praktik pembersihan lahan dengan cara membakar.

Baca juga : Jerat Pidana Berlapis Menanti PT SLS, Tragedi Maut Olises dan Rapor Merah Kepatuhan Hukum Korporasi

"Indragiri Hilir ini milik kita bersama. Kami mengimbau agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melapor jika menemukan titik api," tutup Ari.

Hingga saat ini, asap tipis dilaporkan mulai menyelimuti wilayah terdampak, sementara tim gabungan masih bertahan di lokasi untuk memastikan krisis ini tidak meluas menjadi bencana kemanusiaan yang lebih besar.

Terkini