Hujan Buatan vs Karhutla di Riau, 4 Ton Garam Disemai, Izin Helikopter Terjegal Birokrasi

Selasa, 31 Maret 2026 | 07:18:04 WIB
Petugas sedang menaikan garam ke pesawat untuk kegiatan OMC di Provinsi Riau yang dilaksanakan oleh pihak BNPB, Senin (30/3/2026). (HUMAS BNPB UNTUK RIAUPOS.CO)

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU – Akhirnya pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali "memaksa" hujan turun di langit Riau.

Dimana BNPB melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap kedua digulirkan sebagai langkah darurat membasahi lahan gambut yang mulai mengering akibat musim kemarau.

Namun, di balik penyemaian berton-ton garam, terselip persoalan klasik, birokrasi perizinan armada udara yang tak secepat rambatan api di lapangan.

M Edy Afrizal, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran Riau, mengungkapkan bahwa operasi ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang dilakukan awal Februari lalu.

Dijelaskan Edy, fokus utama kali ini adalah wilayah pesisir timur yang menjadi titik paling rawan.

Gempuran 4 Ton Garam di Pesisir Timur

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 4 ton garam telah disemai ke awan-awan potensial di atas wilayah Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir (Inhil), Siak, Pelalawan, dan Kota Dumai.

Dalam setiap kali terbang, pesawat OMC menaburkan sedikitnya 1 ton garam untuk memicu hujan buatan.

“OMC sudah kembali dilaksanakan di Riau. Kali ini fokus di daerah pesisir timur Riau. Hingga saat ini sudah 4 ton garam yang disemai,” ungkap Edy Afrizal di Pekanbaru dilansir dari Riaupos.co.

Baca juga : Jerat Pidana Berlapis Menanti PT SLS, Tragedi Maut Olises dan Rapor Merah Kepatuhan Hukum Korporasi

Langkah ini diambil sebagai upaya preventif agar kondisi lahan tetap basah, mengingat intensitas panas yang mulai meningkat dan mengancam stabilitas lingkungan di wilayah-wilayah penyangga tersebut.

Ironi Helikopter: Api Meluas, Izin Tertahan

Di sisi lain, efektivitas pemadaman jalur udara melalui water bombing masih jauh dari kata ideal. Pasalnya hingga saat ini, Riau hanya diperkuat oleh satu unit helikopter water bombing.

Sementara itu, upaya penambahan armada harus berhadapan dengan tembok prosedur yang berbelit.

Edy mengakui pihaknya tengah mengajukan penambahan unit helikopter seiring dengan bertambahnya luasan Karhutla di lapangan.

Namun, ia tidak menampik bahwa proses administrasi menjadi ganjalan utama di tengah kondisi darurat.

“Kami sudah mengajukan kembali untuk helikopter water bombing. Saat ini sedang diproses karena untuk helikopter water bombing itu perizinannya cukup panjang,” paparnya.

Update Lapangan: Bengkalis Masih Membara

Hingga Senin (30/3/2026), laporan dari lapangan menunjukkan api masih sulit ditaklukkan di beberapa titik.

Meski status di Kabupaten Indragiri Hilir dan Pelalawan sudah memasuki tahap pendinginan, kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Bengkalis.

Di Bengkalis, tim gabungan masih harus berjibaku melakukan pemadaman aktif. Minimnya bantuan udara akibat keterbatasan unit helikopter membuat beban kerja tim darat menjadi berkali lipat lebih berat.

“Karhutla masih terjadi di tiga daerah. Di Inhil dan Pelalawan tinggal pendinginan, sedangkan di Bengkalis masih dilakukan pemadaman oleh tim gabungan,” tutup Edy.

Kini, harapan publik bertumpu pada keberhasilan 4 ton garam tersebut untuk menurunkan hujan.

Sebab, jika hanya mengandalkan satu unit helikopter di tengah birokrasi yang "panjang", Riau kembali terancam terperangkap dalam siklus asap tahunan yang mematikan.

Terkini