Karhutla Riau Meluas: Kewalahan Diadang Angin Berputar, Pasukan Tambahan Diterjunkan ke Rohil!

Selasa, 02 Juni 2026 | 13:32:22 WIB
Petugas dari Manggala Agni Daops V/Dumai memadamkan api yang membakar lahan di wilayah Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir, Senin (1/6/2026). Tim bekerja sejak pagi untuk menekan perkembangan api sebelum cuaca menjadi lebih ekstrem. (Manggala Agni Daops V/

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau makin meluas. Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera hingga kini masih dipaksa bekerja ekstra keras untuk menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengancam wilayah Sokoi, Kabupaten Pelalawan, Senin (1/6).

Dan untuk menahan laju api agar tidak semakin liar, para petugas garis depan ini sudah harus menerobos medan sebelum matahari meninggi, tepatnya sebelum pukul 08.00 WIB.

Langkah cepat ini diambil sebelum suhu udara ekstrem memicu ledakan api yang lebih besar. Tantangan di lapangan dilaporkan sangat berat.

Pasalnya melimpahnya vegetasi kering serta embusan angin kencang yang kerap berubah arah secara mendadak menjadi musuh utama dalam upaya pengendalian api.

Bahkan dua tim Manggala Agni Daops Rengat dikerahkan habis-habisan untuk melakukan operasi pemadaman di kawasan yang didominasi oleh semak belukar dan vegetasi kering di atas lahan gambut yang rawan amblas tersebut.

Hingga kemarin, kepulan asap pekat dilaporkan masih terus keluar dari sejumlah titik.

Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, menegaskan situasi krusial ini memaksa timnya curi start sejak pagi hari demi memanfaatkan kondisi cuaca yang relatif lebih bersahabat dibanding siang hari.

“Di wilayah Sokoi, dua tim Daops Rengat sudah mulai beroperasi sebelum pukul 08.00 WIB. Kondisinya asap masih terlihat sehingga membutuhkan gerakan cepat sebelum siang agar lebih mudah dikendalikan. Kami memanfaatkan waktu pagi untuk menekan perkembangan api sebelum cuaca menjadi lebih ekstrem,” kata Ferdian mengungkapkan taktik lapangan, Senin (1/6).

Ancaman Nyata: Bahan Bakar Melimpah dan Angin Berputar

Ferdian juga tidak menampik bahwa personelnya bertaruh nyawa di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat.

Karakteristik lahan gambut Riau yang menyimpan bara di bawah permukaan diperparah oleh melimpahnya bahan bakaran alami berupa semak dan vegetasi mati yang sangat mudah tersulut.

Kondisi ini kian mengerikan saat siang hari tiba, di mana angin kencang seringkali bertiup memutar dan berubah arah tanpa pola yang jelas.

Angin berputar inilah yang berpotensi menyebarkan kobaran api ke wilayah baru dalam hitungan detik.

“Bahan bakaran di lokasi cukup melimpah dan mudah terbakar. Selain itu, saat siang hari angin sering bertiup kencang dan berubah arah atau berputar sehingga harus selalu diwaspadai. Kondisi ini membuat strategi pemadaman harus terus menyesuaikan perkembangan di lapangan,” ujarnya tajam.

Tahap Mopping Up di Siak dan Penambahan Pasukan di Rokan Hilir

Sementara itu, fluktuasi kondisi karhutla di wilayah lain di Riau mulai menunjukkan perkembangan yang berbeda.

Di wilayah Kandis, Kabupaten Siak, Tim Manggala Agni Daops Pekanbaru kini beralih ke tahap mopping up alias pendinginan lanjutan.

Berdasarkan hasil pemantauan dari udara, area kebakaran di Kandis memang menunjukkan grafik pengendalian yang signifikan. 
Kendati demikian, penyapuan akhir secara menyeluruh tetap dilakukan demi memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang bisa memicu kebakaran susulan.

“Untuk Kandis, progres pengendalian terlihat cukup baik dari hasil pemantauan udara. Namun tim tetap melakukan penyapuan dan pendinginan menyeluruh untuk memastikan tidak ada potensi kebakaran kembali,” jelas Ferdian.

Kontras dengan Siak, eskalasi justru terjadi di wilayah Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir.

Guna membentengi wilayah tersebut dari amukan api, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera terpaksa menambah daya gempur dengan mengerahkan satu tim tambahan dari Daops Dumai untuk memperkuat personel yang telah kedodoran di lapangan.

“Satu tim tambahan dari Daops Dumai bergabung untuk memperkuat operasi di Rantau Bais. Kami juga masih menyiagakan personel tambahan apabila sewaktu-waktu diperlukan. Kondisi di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya,” tutur Ferdian.

Hingga berita ini diturunkan, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera memastikan seluruh personel Manggala Agni berada dalam status siaga satu penuh.

Mereka terus memantau setiap jengkal pergerakan karhutla di Riau, terutama pada area-area kritis dengan vegetasi kering dan lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana kabut asap.

Terkini