GAGASANRIAU.COM, SIAK - Akibat masifnya alih fungsi hutan menjadi kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit skala besar di Riau kembali menelan korban.
Lantaran terdesak karena ruang hidup dan habitat alaminya ludes digarap korporasi, sang raja hutan, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kini kian sering menginvasi pemukiman warga hingga berujung serangan maut terhadap manusia.
Fenomena satwa dilindungi yang memangsa dan meneror warga di Bumi Lancang Kuning ini seolah telah dikondisikan menjadi "kebiasaan baru" akibat rusaknya ekosistem.
Dan ancaman nyata terbaru itu diungkapkan oleh Penghulu (Kepala Desa) Mengkapan, Muhir.
Dia mengeluarkan imbauan darurat agar masyarakat ekstra waspada saat melintasi akses Jalan Nasional maupun jalan utama menuju Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), Kabupaten Siak.
Karena kata dia, keberadaan kucing besar tersebut kini tidak lagi bersembunyi.
Penampakan fisik harimau di tengah pemukiman dan kawasan kebun tak ayal memicu kepanikan luar biasa di tengah warga, khususnya para petani sawit.
Diunggkapkan Muhir bahwa insiden penampakan mutakhir terjadi pada Ahad (19/7) malam.
Kata dia sejumlah warga yang tengah melintas di jalur menuju KITB dikejutkan oleh seekor harimau yang tiba-tiba melompat dan menyeberang jalan.
Kendati hanya terlihat sekilas dari atas kendaraan yang melaju, warga memastikan satwa loreng tersebut adalah harimau.
“Saya tidak tahu apakah itu harimau yang selama ini muncul, atau ada harimau baru lagi,” ujar Muhir, Senin (20/7) siang dilansir dari Riauposco.
Namun menurut Muhir, jika mengacu pada estimasi ukuran fisik, dia menduga satwa tersebut sama dengan yang dilihat oleh warga bernama Dody pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 12.00 WIB di Km 4 Jalan Nasional.
“Apa yang digambarkan Dody, sama dengan harimau yang sebelumnya berkeliaran di Mengkapan ini,” terang Muhir.
Merespons teror yang kian dekat, Muhir menginstruksikan warganya untuk tidak beraktivitas sendirian di dalam kebun.
Aktivitas pertanian diminta hanya dilakukan saat hari benar-benar terang dan wajib keluar kebun sebelum senja menyergap.
“Malam hari jika tidak terlalu penting, jangan keluar rumah,” tegasnya.
Kepanikan di Desa Mengkapan semakin memuncak usai terjadinya insiden serangan fisik secara langsung.
Pada hari yang sama setelah penampakan di Km 4 Jalan Nasional, seorang pekerja asal Kepulauan Meranti bernama Agus menjadi korban keganasan sang raja hutan.
Kala itu, Agus tengah sibuk melangsir Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit menggunakan keranjang di kendaraannya.
Secara mendadak, seekor harimau melompat menerkam dirinya.
“Dia diserang, tapi kena bagian keranjangnya, dia melaju dengan panik. Lalu dia minta berhenti bekerja, petangnya dia pulang kampung,” beber Muhir.
Muhir mengaku tidak dapat merinci secara pasti berapa estimasi ukuran harimau yang menyerang tersebut.
Pasalnya, usai lolos dari maut, Agus mengalami trauma berat dan dalam kondisi syok hebat sebelum akhirnya memutuskan angkat kaki dari Mengkapan.
Menanggapi eskalasi konflik satwa dan manusia ini, tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Siak dilaporkan mulai turun ke lapangan pada Senin (20/7) siang untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Mengkapan.
Kepala Bidang Wilayah II BBKSDA Siak, Hermanto, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerjunkan personel ke lokasi kejadian untuk mengumpulkan fakta lapangan.
Kendati demikian, penanganan teknis dan keterangan resmi sepenuhnya ditarik ke tingkat pusat provinsi.
“Kami mengumpulkan materi lalu memproses laporan ke BBKSDA Provinsi Riau. Untuk informasi selanjutnya silakan konfirmasi ke BBKSDA Provinsi Riau ya,” singkat Hermanto.