GAGASANRIAU.com, DUMAI — Sari Rahayu, seakan membuang stigma bahwa di tengah pekatnya kepulan asap dan panasnya medan gambut yang membakar Kota Dumai, narasi kepahlawanan hanya didominasi kaum pria.
Sari Rahayu ini adalah, rescuer perempuan dari Unit Siaga SAR Dumai.
Dia bersama Tim SAR Gabungan, Sari terjun langsung menjinakkan amukan api di kawasan Jalan Parit Saru, Kelurahan Bangsal Aceh, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.
Mengenakan pakaian pelindung dan perlengkapan keselamatan standar, Sari bahu-membahu bersama personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD Kota Dumai, hingga Manggala Agni.
Medan ekstrem berupa vegetasi kering yang mudah meledak serta minimnya jarak pandang akibat jelutong asap tak mematahkan langkahnya.
Kehadiran perempuan di garda terdepan ini menepis pandangan sebelah mata.
Faktanya, beban pemadaman darat di lahan gambut akan berlipat ganda tanpa adanya sinergi dan keterlibatan aktif dari para personel perempuan.
Bagi Sari, berada di garis depan pertempuran melawan karhutla bukan sekadar pemenuhan kewajiban dinas, melainkan wujud kesetaraan dalam aksi kemanusiaan.
"Walaupun saya perempuan, saya seorang rescuer. Karena tugas bagi saya adalah suatu kehormatan," tegas Sari di sela-sela aksi pemadaman di Bangsal Aceh.
Keterlibatan aktif Srikandi Basarnas ini menjadi bukti nyata komitmen Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Pekanbaru dalam mendukung penanganan darurat bencana di wilayah Riau.
Basarnas tak hanya berfokus pada operasi pencarian dan pertolongan (SAR), tetapi juga terlibat aktif dalam mitigasi bencana lingkungan.
Kunci keberhasilan menahan laju karhutla Dumai ini berada pada taktis kolaborasi antarinstansi.
Sinergi lintas sektoral antara Basarnas, aparat keamanan, dan relawan terbukti mempercepat proses penyekatan api agar tidak merembet ke pemukiman warga.
Menutup aksinya di lapangan, pesan moral disampaikan jajaran Basarnas bahwa dedikasi terhadap keselamatan masyarakat melampaui batas-batas gender.
“Tugas adalah kehormatan. Pengabdian tidak mengenal batas.”