GAGASANRIAU.COM, INDRAGIRI HILIR - Meski sudah dinyatakan padam, lahan semak belukar dan perkebunan kelapa seluas 10 hektare di Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), dilaporkan kembali membara pada Kamis (3/9).
Naasnya lagi, keputusan mengalihkan armada udara yang terlalu dini disinyalir menjadi pemicu mengamuknya kembali si jago merah.
Dimana, sebelumya, tim gabungan melakukan pemadaman sengit selama beberapa hari terakhir dan hanya menyisakan kepulan asap tipis, bantuan helikopter water bombing (WB) justru langsung ditarik dari lokasi tersebut.
Edy Afrizal, Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau, tak menampik adanya kekeliruan estimasi dalam penanganan Karhutla di Sungai Beringin tersebut.
Lantaran, armada helikopter WB terburu-buru dialihkan ke daerah lain karena menganggap api di Inhil sudah tuntas.
"Kemarin kan sudah padam, rupanya siang ini dilaporkan titik api muncul lagi," aku Edy, Kamis (3/9).
Dan sialnya, helikopter pengebom air tersebut sudah keburu diterbangkan untuk menyiram titik api di wilayah lain yang tak kalah kritis, seperti Indragiri Hulu, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti.
Karhutla di Sungai Beringin sendiri sebenarnya telah mengancam kesehatan publik sejak pertama kali membara pada 27 Agustus 2026.
Amukan api di area perkebunan kelapa dan belukar seluas 10 hektare tersebut sempat mengurung wilayah Tembilahan dan sekitarnya dalam kepungan asap pekat.
Rentannya kawasan ini untuk kembali terbakar dikonfirmasi langsung oleh Kepala BPBD Kabupaten Inhil, R Arliansyah.
Dia membenarkan fenomena "api abadi" ini dipicu oleh struktur tanah gambut yang menyelimuti kawasan Tembilahan.
"Titik api kembali muncul di areal yang sebelumnya sudah sempat padam. Yang terbakar merupakan lahan gambut," ujar Arliansyah.
Karakteristik tanah gambut yang mengering memang dikenal mematikan.
Meski permukaan luar terlihat mati dan hanya menyisakan asap tipis, lapisan bawah tanah tetap menyimpan bara api yang sewaktu-waktu dapat menyembur ke permukaan saat ditiup angin.
Saat ini, titik api baru terpantau kembali berkobar di sekitar Parit 19 dan Parit 17, Kelurahan Sungai Beringin.
Tanpa sokongan pencerobohan air dari udara, penanganan terpaksa kembali ditumpukan sepenuhnya pada jalur darat.
Tim gabungan yang diterjunkan harus berjibaku mengendalikan situasi agar kebakaran tak kian meluas.
Personel di lapangan melibatkan kolaborasi dari unsur TNI—termasuk prajurit Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) Inhil—Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Inhil, hingga perbantuan tim pemadam dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Inhil.