Ganasnya Karhutla Ular Phyton Mati Terpanggang

Selasa, 03 Maret 2020 - 22:22:25 wib | Dibaca: 1373 kali 
Ganasnya Karhutla Ular Phyton Mati Terpanggang
Tim gabungan saat menemukan ular phyton mati terpanggang

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Masifnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di lahan gambut bukan hanya meluluhlantakkan perkebunan masyarakat petani, juga merusak ekosistem gambut dan habitan hewannya.
 
Seperti dilaporkan oleh pihak kepolisan yang sedang melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di Riau, ditemukan seekor ular phyton mati terpanggang.
 
Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi melalui Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto mengatakan ular tersebut ditemukan mati terpanggang di lahan gambut di Jalan SM Amin, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, Senin lalu (2/3).
 
"Lebih menyedihkan lagi, ular phyton betina ini mati saat sedang mengeram 20 butir telur," sebut Sunarto
 
Ular sepanjang 4,5 meter tersebut ditemukan oleh Tim Gabungan terdiri dari Polri, TNI, dan BPBD Kota Pekanbaru saat sedang berjuang memadamkan api Karhutla sejak Senin pagi.
 
Sunarto menjelaskan inilah bukti bahayanya karhutla, buka hanya merugikan petani semata saja, juga hilangnya plasma nutfah Indonesia akibat ulah tangan manusia. 
 
“Karhutla membawa bencana ekologis, hilangnya binatang-binatang, tanaman-tanaman khas suatu daerah, terutama di Riau,” ujarnya 
 
Luas lahan terbakar di tempat ular phyton terpanggang tersebut setengah hektare. Hingga hari ini, lahan terbakar tersebut berhasil ditangani dan dipadamkan Tim Gabungan, hingga sore hari hujan mengguyur lokasi. 
 
“Petugas Gabungan Polri, TNI, Manggala Agni, BPBD, Perusahaan, dan Relawan Pemadam Karhutla seminggu terakhir masih berjibaku di lapangan padamkan api beberapa daerah di Riau seperti di Rangsang, Kepulauan Meranti dan Rupat, Bengkalis,” ungkap Kombes Sunarto. 
 
Saat siang hari semua titik api telah padamkan dan ditangani bahkan sempat hilang dari pantauan satelit, tiba-tiba menjadi bertambah dan meluas di malam hari yang seharusnya dengan kondisi suhu rendah adalah kecil kemungkinan titik api makin meluas.
 
"Hal ini perlu menjadi fokus dan penanganan secara bersama para stakeholder terkait, tutup Sunarto.
 
Loading...
BERITA LAINNYA