GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU — Pemerintah Kota Pekanbaru di bawah kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho tengah menguji taji sebuah model pengelolaan kebersihan baru.
Harapannya ambisius, menghapus tumpukan sampah di sudut-sudut kota dengan mengandalkan garda terdepan di tingkat tapak, yakni Lembaga Pengelola Sampah (LPS).
Agung Nugroho secara khusus meminta masyarakat Kota Bertuah untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan turut aktif menyokong keberadaan LPS yang kini telah resmi terbentuk di 83 kelurahan.
LPS diproyeksikan menjadi jawaban atas sengkarut distribusi pengangkutan sampah yang selama ini kerap tersendat di jalur protokol maupun pemukiman padat.
"Kami meminta masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap LPS. Semua RW dan RT kami instruksikan agar menyokong penuh langkah ini," ujar Agung Nugroho pada Rabu, 11 Februari 2026.
Strategi Jemput Bola
Sistem kerja LPS didesain dengan pola jemput bola. Warga tak perlu lagi menempuh jarak jauh ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang seringkali meluap. Cukup dengan menaruh kantong-kantong sampah di depan pagar rumah, petugas LPS yang dibentuk di tiap kelurahan akan menyisirnya setiap hari.
Skema ini diharapkan mampu meminimalisasi munculnya "TPS liar" di lahan-lahan kosong yang selama ini menjadi momok bagi estetika dan kesehatan lingkungan di Pekanbaru.
Dengan jangkauan yang tersebar di 15 kecamatan, LPS diharapkan mampu menyentuh gang-gang sempit yang selama ini tak terjangkau truk besar milik dinas terkait.
Evaluasi di Balik Target
Kendati terdengar menjanjikan, pemerintah tak ingin memberikan cek kosong. Agung memastikan bahwa operasional LPS akan terus dipelototi melalui evaluasi berkala.
Hal ini krusial mengingat kepercayaan publik sangat bergantung pada kedisiplinan petugas dalam mengangkut limbah rumah tangga tanpa jeda.
"Targetnya setiap hari petugas menjemput sampah. Jadi, tidak boleh ada sampah yang dibiarkan menumpuk hingga berhari-hari," kata Wali Kota.
Keberhasilan LPS kini bergantung pada dua hal: konsistensi armada di lapangan dan kesediaan warga untuk beralih menggunakan jasa resmi ketimbang membuang sampah sembarangan.
Jika sinergi ini berjalan, ambisi Pekanbaru untuk menyandang predikat kota bebas sampah bukan lagi sekadar bualan politik di atas kertas.