Riau Kembali Dikepung Karhutla, Tiga Kabupaten Membara, Lahan Gambut Sulit Padam

Senin, 01 Juni 2026 | 13:23:38 WIB
Foto petugas dari Tim Manggala Agni melakukan kegiatan pendinginan karhutla di wilayah Pasir Limau Kapas (Palika), Rohil, Sabtu (30/5/2026). (Foto Menggala Agni)

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Tiga wilayah di Provinsi Riau telah terjadi Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan hingga kini masih terus membara dan mengepung tiga wilayah strategis di Provinsi Riau.

Tiga titik krusial yang kini menjadi medan pertempuran oleh tim pemadam adalah Kandis di Kabupaten Siak, Pasir Limau Kapas di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), serta Sokoi di Kabupaten Pelalawan.

Tim dari Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera di Provinsi Riau hingga kini masih terus berjibaku di lapangan demi menjinakkan amukan api di ketiga daerah tersebut.

Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, mengungkapkan bahwa masing-masing lokasi kebakaran memiliki karakteristik ekstrem dan tantangan tersendiri.

Kondisi rumit tersebut memaksa petugas menerapkan strategi penanganan yang berbeda di setiap medan.

“Setiap lokasi memiliki kondisi lapangan yang berbeda. Di Kandis kami menghadapi kebakaran gambut yang masih aktif meski sudah turun hujan, di Pasir Limau Kapas fokus kami memastikan ketersediaan air untuk pemadaman, sementara di Sokoi tantangannya adalah luasan area terbakar yang cukup besar dengan asap tebal yang masih terpantau,” beber Ferdian akhir pekan lalu dilansir dari Riauposco.

Sementara untuk di wilayah Kandis, Kabupaten Siak, fakta di lapangan menunjukkan bahwa guyuran hujan yang sempat turun dalam beberapa hari terakhir ternyata belum mampu berbuat banyak.

Air hujan gagal memadamkan seluruh titik panas (hotspot) yang tertanam di dalam lahan gambut.

Berdasarkan hasil pemantauan atau size up yang dilakukan tim pada pagi hari, kepulan asap pekat terpantau masih terus keluar dari area terdampak.

Menurut Ferdian, kondisi ini menjadi bukti nyata bagaimana api memiliki kemampuan bertahan di bawah permukaan gambut yang dalam.

Oleh karena itu, proses pendinginan mutlak dilakukan secara menyeluruh tanpa boleh ada celah.

“Hasil size up pagi hari menunjukkan kondisi masih berasap. Karena karakteristik gambut memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan, tim terus melakukan penyekatan sisi timur dan mopping up agar kebakaran tidak terus masuk semakin dalam,” jelasnya merinci taktik di lapangan.

Situasi kontras terjadi di Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rohil. Di wilayah ini, operasi pemadaman lebih banyak dihadapkan pada pertempuran menjaga keberlanjutan pasokan sumber air.

Walau titik-titik asap masih terlihat di beberapa titik, kehadiran dukungan alat berat dinilai sangat membantu mempercepat pekerjaan tim darat.

“Alat berat yang berada di lokasi membantu menyediakan embung air dan membersihkan parit sehingga suplai air untuk kegiatan pemadaman tetap tersedia. Ini sangat penting karena keberhasilan operasi di lapangan sangat bergantung pada kecukupan sumber air,” papar Ferdian.

Namun, tantangan terbesar dan paling mengkhawatirkan saat ini justru berada di Sokoi, Kabupaten Pelalawan.

Menyadari skala ancaman yang masif, Tim Manggala Agni Daops Rengat yang baru tiba di lokasi pada dini hari langsung diterjunkan tanpa jeda untuk memperkuat operasi pemadaman.

Berdasarkan hasil pemantauan wahana tanpa awak (drone) pada Sabtu pagi, karhutla di Sokoi menunjukkan indikasi luasan yang sangat besar dan masih terus memuntahkan asap tebal ke udara.

“Keputusan memfokuskan personel ke Sokoi merupakan langkah yang tepat. Hasil drone pagi ini memperlihatkan kondisi kebakaran yang cukup luas dan masih dalam proses estimasi. Asap tebal juga masih terlihat sehingga dua tim kami bagi untuk memukul kepala api dan sayap api agar penyebaran dapat segera dikendalikan,” tegas Ferdian.

Dia memastikan seluruh personel Manggala Agni bersama unsur terkait terus bekerja keras di bawah kepungan asap untuk menekan laju karhutla dan meminimalisir perluasan area terdampak.

“Kami terus melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi sesuai kondisi di lapangan. Dukungan semua pihak sangat diperlukan agar penanganan karhutla dapat berjalan optimal dan kebakaran tidak berkembang lebih luas,” sambung Ferdian.

Pendinginan di Palika dan Kemunculan Titik Api Baru di Rantau Bais

Di sisi lain, potret penanganan karhutla di Kabupaten Rokan Hilir menunjukkan dinamika yang melelahkan bagi tim Manggala Agni Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera.

Di wilayah Kecamatan Pasir Limau Kapas, meski kondisi lapangan secara umum diklaim telah membaik, petugas belum bisa bernapas lega.

Mereka masih terus dipaksa melakukan pemadaman dan pendinginan demi memastikan tidak ada lagi sisa bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.

Ferdian Krisnanto kembali memaparkan bahwa hingga Sabtu (30/5), Manggala Agni masih terus melaksanakan operasi pemadaman secara intensif di tiga wilayah utama tersebut, yakni Kandis (Siak), Pasir Limau Kapas (Rohil), dan Sokoi (Pelalawan).

Khusus untuk wilayah hukum Rokan Hilir, operasi pemadaman darat dilaksanakan oleh Tim Manggala Agni Daops III Labuhan Batu Selatan.

Berdasarkan laporan perkembangan terkini, petugas di lapangan dipaksa bekerja ekstra keras mengejar sisa-sisa titik api.

Kondisi sempat sedikit terbantu ketika gerimis turun di lokasi kejadian pada petang hari.

Namun, curah hujan yang rendah itu dinilai belum cukup signifikan untuk mematikan api secara total. Akibatnya, petugas tetap harus mengandalkan kekuatan fisik dan peralatan pemadaman darat yang tersedia.

Memasuki hari ketiga operasi pada Sabtu, tim gabungan akhirnya berhasil melakukan penyekatan area terbakar untuk memotong jalur rambatan api ke wilayah lain.

Pascapenyekatan sukses dilakukan, petugas langsung melanjutkan tahap mopping up atau pendinginan ekstrem terhadap area-area yang masih menyimpan hawa panas di bawah permukaan tanah.

“Pada saat itu, sejumlah titik masih terlihat mengeluarkan asap tipis, terutama pada lahan gambut yang memang dikenal sulit dipadamkan karena api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah meski bagian atas terlihat padam,” urai Ferdian.

Untuk mempercepat proses penjinakan, tim Manggala Agni terus menyisir lokasi guna memadamkan sisa titik panas yang terdeteksi, dibantu oleh pengerahan alat berat

Eskavator dikerahkan untuk mengeruk embung atau kolam penampungan air sementara, sekaligus membersihkan parit-parit yang berfungsi sebagai urat nadi suplai air bagi petugas pemadam.

Ketersediaan air yang memadai menjadi faktor penentu mati-hidupnya operasi pemadaman di kawasan dengan akses geografis terbatas ini.

“Perbantuan alat berat sangat membantu menyediakan embung air dan membersihkan parit sehingga kebutuhan air untuk pemadaman dapat terpenuhi,” akunya.

Hingga Sabtu malam, perkembangan operasi di Pasir Limau Kapas dilaporkan menunjukkan progres yang sangat signifikan. Titik api utama berhasil dikendalikan, dan petugas kini hanya menyisakan pekerjaan pendinginan demi memastikan tidak ada lagi asap maupun bara api yang bersembunyi di dalam tanah.

“Tim merencanakan kegiatan mopping up lanjutan pada Ahad pagi untuk memastikan area benar-benar aman dari potensi kebakaran susulan,” tambahnya.

Namun, drama karhutla di Riau belum usai. Ironisnya, ketika operasi pemadaman di Pasir Limau Kapas hampir memasuki fase akhir, tim gabungan justru kembali mendeteksi adanya titik kebakaran baru di wilayah Rantau Bais, Rohil.

Titik api segar ini pertama kali terendus melalui pemantauan udara yang dilakukan oleh Satgas Karhutla. Merespons temuan darurat tersebut, Manggala Agni Daops Dumai langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan penanganan awal.

Sayangnya, proses penetrasi menuju titik kebakaran baru ini tidak berjalan mulus. Petugas di lapangan langsung dihadang kendala medan yang berat karena lokasi yang diperoleh awalnya hanya berdasarkan koordinat visual dari udara.

"Sehingga membutuhkan waktu untuk menemukan akses menuju lokasi kebakaran di lapangan," pungkas Ferdian.

Meski dihadang jalur yang buta, tim dilaporkan tetap bergerak cepat di lapangan agar api baru di Rantau Bais tidak meluas menjadi bencana yang lebih besar.

Terkini