Dananya Macet, Operasional Makan Bergizi Gratis di Riau Berhenti Beroperasi !

Kamis, 11 Juni 2026 | 11:42:40 WIB
Foto ilustrasi

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU — Ternyata ambisi besar pemerintah pusat menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) membentur dinding realitas yang pahit.

Kali ini kejadiannya di Provinsi Riau, program yang digadang-gadang menjadi penyelamat gizi generasi masa depan ini terpaksa lumpuh total dan dihentikan sementara.

Alasan klasiknya seragam, anggaran yang mampet dan dana operasional dari pusat yang tak kunjung cair.

Dengan terjadinya penghentian paksa ini memicu tanda tanya besar terkait kesiapan manajemen dan komitmen finansial pemerintah pusat dalam mengawal program skala nasional tersebut.

Dapur Umum Siak Mogok Produksi Tanpa Batas Waktu

Sebagaimana dikutip dari Riauposco, informasi macetnya anggaran ini salah satunya terkonfirmasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kampung Dalam, Kabupaten Siak.

Dan berdasarkan dokumen berita acara yang bocor dan diterima redaksi, manajemen SPPG Siak Kampung Dalam resmi mengibarkan bendera putih.

SPPG Siak Kampun Dalam tersebut menghentikan total penyaluran MBG ke sekolah-sekolah penerima manfaat sejak Rabu (10/6/2026) hingga waktu yang tragisnya: tidak dapat ditentukan.

"Kami mendapati bahwa dana anggaran yang tersedia saat ini tidak mencukupi untuk menutupi biaya operasional produksi dan bahan baku serta distribusi sesuai dengan standar gizi yang ditetapkan," bunyi petikan surat berita acara tersebut dengan nada getir.

Pihak manajemen menegaskan, mereka menolak berkompromi dengan menyajikan makanan di bawah standar demi menyiasati kas yang kosong.

"Keterbatasan anggaran ini disebabkan oleh keterlambatan pencairan dana, sehingga kami tidak dapat memaksakan distribusi tanpa mengurangi kualitas atau porsi makanan." Bunyi surat itu.

Pekanbaru Ikut Lumpuh, Manajemen Memilih Bungkam

Bahkan efek domino kemacetan dana pusat ini nyatanya tidak hanya memukul wilayah kabupaten.

Di jantung ibu kota provinsi, dapur umum SPPG Pekanbaru juga kedapatan sudah mematikan kompor mereka.

Pihak pengelola terpaksa menghentikan operasional dapur karena kehabisan napas finansial.

"Benar, kami menghentikan sementara operasional SPPG. Mungkin 1-2 hari ini," ungkap Kepala SPPG Pekanbaru yang menolak identitasnya diungkap ke publik, seolah menyiratkan ketakutan atas sensitifnya isu politis di balik program ini.

"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini... Kami akan segera memberikan informasi lebih lanjut jika terdapat perbaikan situasi anggaran." ungkap Manajemen SPPG Siak Kampung Dalam.

KPPG Buka Suara: Menanti Cair Hari Senin atau Kamis

Carut-marutnya penyaluran anggaran ini akhirnya dikonfirmasi langsung oleh Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Pekanbaru, Dr. Syartiwidya.

Sebagai pemegang tongkat komando dan penanggung jawab program MBG untuk tiga wilayah sekaligus, Provinsi Riau, Kepulauan Riau (Kepri), dan Sumatera Barat, ia tidak menampik kondisi kritis yang sedang terjadi di lapangan.

"Karena tidak cair dananya," ujar Syartiwidya lugas saat dikonfirmasi mengenai alasan di balik berhentinya dapur-dapur gizi tersebut.

Ketika didesak mengenai kepastian kapan anak-anak sekolah bisa kembali menikmati hak makan gratis mereka, Syartiwidya tidak bisa memberikan tanggal pasti.

Nasib kelanjutan program ini sepenuhnya tersandera oleh keputusan juru bayar di Jakarta.

"Sampai dananya cair. Setiap Senin atau Kamis akan cair," tambahnya.

Berhentinya program MBG di Riau menjadi tamparan keras bagi narasi kesejahteraan yang kerap didengungkan di tingkat pusat.

Publik kini menagih akuntabilitas. Bagaimana mungkin program strategis nasional yang menyangkut perut anak sekolah bisa dibiarkan mati suri hanya karena persoalan keterlambatan administratif?

Terkini