GAGASANRIAU.COM, BENGKALIS -- Warga di Pulau Bengkalis dibuat resah dan kecewa dan bisa saja berdampak lumpuh total akibat kelangkaan parah komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kondisi kelangkaan BBM ini memicu lonjakan harga yang tak terkendali, di mana harga jenis Pertalite di tingkat pengecer pinggir jalan meroket drastis hingga menyentuh angka Rp25.000 per liter.
Kelangkaan ekstrem ini tidak hanya menyasar jenis Pertalite, melainkan juga menghabiskan stok Pertamax RON 92.
Akibat ambruknya pasokan ini, gelombang kepanikan (panic buying) melanda ribuan pengendara, memicu antrean horor ratusan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang mengular hingga kiloan meter di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seantero pulau.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan yang dituliskan Riauposco, titik krisis antrean paling memprihatinkan terpantau di SPBU Desa Teluk Latak, Desa Senggoro, Desa Wonosari Kecamatan Bengkalis, serta satu-satunya SPBU di Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan.
Bahkan ratusan warga dipaksa berdiri mengantre di bawah sengatan terik matahari ekstrem demi mendapatkan sisa-sisa literan minyak.
Bahkan, pemandangan mengenaskan terjadi di SPBU Jalan Lembaga Desa Wonosari dan Jalan Bantan Desa Senggoro.
Ratusan pengemudi yang telah berjejer rapi sejak pukul 07.30 WIB pagi terpaksa menelan kekecewaan mendalam lantaran hingga pukul 16.00 WIB sore pintu pagar SPBU tetap terkunci rapat tanpa ada satu pun petugas pengisian yang berjaga.
"Antre dah tiga jam di tengah terik matahari. Sampai sore belum juga masuk minyak. Karena terlambat masuk mobil tangki, maka masyarakat yang menjadi korbannya," keluh Anto, salah seorang warga Desa Senggoro dengan nada kesal saat terjebak di barisan antrean.
Kios Eceran Kosong Melompong, Aparat Penegak Hukum Dikritik Lamban
Efek domino krisis ini melumpuhkan mobilitas warga secara total. Pada Kamis (2/7), seluruh lapak dagangan eceran BBM maupun jaringan Pertashop rumahan di sepanjang jalan raya Pulau Bengkalis terpantau kosong melompong tanpa aktivitas penjualan.
Berhentinya pasokan energi ini menyulut kepanikan massal lantaran aparatur sipil negara (ASN) maupun petani swadaya tidak dapat beraktivitas ke kantor maupun ke kebun mereka.
Kondisi ini memicu kritik pedas dari elemen masyarakat yang menilai pihak kepolisian dan institusi penegak hukum setempat lamban dan abai dalam mendeteksi indikasi penyelewengan, penimbunan, atau permainan spekulasi di balik kelangkaan ini.
"Semua tempat eceran kosong. Tak taulah ke mana hilangnya minyak. Tapi anehnya, aparat penegak hukum tak ada melakukan upaya untuk menyelidiki kelangkaan BBM. Akibatnya masyarakat yang menderita," cetus Hendri, warga Wonosa.
Hendri membeberkan, krisis ini membuat dirinya tidak dapat mengantarkan istrinya bekerja, bahkan sekadar pergi berbelanja kebutuhan pokok ke pasar utama pun mustahil dilakukan.
Demi menyambung hidup, ia terpaksa berjalan kaki berkilo-kilo meter demi membeli sembako di warung kelontong terdekat.
Pengalaman tragis juga dialami oleh Yandi, seorang pengendara mobil. Saat menempuh perjalanan dari wilayah kota menuju Desa Teluk Pambang dengan sisa indikator bensin dua garis, tangki mobilnya mendadak mati total di tengah jalan akibat kehabisan bensin.
Sial baginya, sepanjang jalur interkoneksi antardesa tersebut tidak ada satu pun botol bensin eceran yang tersedia, hingga ia terpaksa meminta bantuan rekannya untuk mencari sisa bensin dari desa lain.
Disdagprin Bengkalis Berdalih Masalah Logistik: "Pasokan Normal, Hanya Telat Masuk Pulau"
Menanggapi meluasnya keresahan dan gejolak sosiologis di tengah masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) langsung melontarkan klarifikasi pertahanan.
Kepala Disdagprin Bengkalis, Zulpan, mengklaim bahwa secara reguler tim pengawas dinas terus memantau pergerakan distribusi di lapangan.
Namun, alih-alih menetapkan status darurat energi, Zulpan justru berkilah bahwa volume kuota pasokan BBM yang digelontorkan Pertamina menuju Pulau Bengkalis secara statistik masih berada dalam batas normal.
Menurut versinya, kekosongan total di tangki SPBU murni disebabkan oleh hambatan logistik armada truk tangki yang terlambat menyeberang masuk ke dalam pulau.
"Masih normal, dan ini masalah keterlambatan masuknya BBM ke Pulau Bengkalis saja. Kalau memang ada pihak-pihak yang menemukan penyelewengan di lapangan, silakan laporkan resmi ke kami, dan akan segera kami tindak lanjuti secara tegas," kilah Zulpan dikutip dari Riauposco.
Meski pemerintah daerah berdalih masalah teknis pelayaran, masyarakat Pulau Bengkalis mendesak Pertamina dan Polda Riau segera melakukan investigasi menyeluruh atas rantai pasok energi ke wilayah terluar tersebut.
Warga menuntut kepastian distribusi agar hak publik atas energi bersubsidi tidak terus-menerus dipermainkan oleh kendala klasik keterlambatan logistik.