GAGASANRIAU.COM , PEKANBARU — Elisa JS Kedang, Prakirawan Badan Metoerologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyampaikan bahwa langit Kota Pekanbaru kembali diselimuti udara kabur yang diduga kuat akibat paparan kabut asap.
Bukan hanya itu, kondisi cuaca juga diperparah oleh lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Riau setelah sempat melandai dalam dua hari terakhir, di tengah suhu udara yang memuncak dan terik membakar.
Berdasarkan pantauan BMKG, fenomena udara kabur diprakirakan mengepung Pekanbaru sepanjang hari, mulai dari pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari dengan kondisi dominan berawan.
Meski kondisi udara kian memburuk, status peringatan dini BMKG masih tercatat nihil.
"BMKG mencatat suhu udara di Riau melonjak tajam berada di kisaran 23.0 hingga 34.0 °C, disertai kelembapan udara antara 50 hingga 97 persen " kata Elisa dalam laporan yang diterima GagasanRiau.Com.
Sementara itu, pergerakan angin berembus dari arah Tenggara ke Barat Daya dengan kecepatan 10 hingga 30 km/jam.
Untuk wilayah perairan Provinsi Riau, tinggi gelombang laut dilaporkan masih berada dalam kategori rendah, yakni berkisar antara 0.5 hingga 1.25 meter.
Data pemutakhiran satelit BMKG hingga pukul 23.00 WIB merekam lonjakan masif titik panas di Pulau Sumatra yang menembus angka 2.396 titik.
Sumatra Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 1.484 titik, disusul Bangka Belitung (234 titik), dan Jambi (188 titik).
Di Provinsi Riau sendiri, terdeteksi sebanyak 113 titik panas yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.
Kabupaten Indragiri Hilir menjadi wilayah dengan sebaran titik panas tertinggi mencapai 31 titik, disusul Pelalawan dengan 22 titik, dan Indragiri Hulu sebanyak 20 titik.
Wilayah pesisir dan pulau terluar juga menunjukkan kerawanan tinggi. Kabupaten Kepulauan Meranti mencatat 17 titik panas dan Kabupaten Bengkalis terdeteksi 13 titik.
Sementara itu, sebaran titik panas sisanya teridentifikasi di Kabupaten Siak (4 titik), Kabupaten Kuantan Singingi (3 titik), Kota Dumai (2 titik), serta Kabupaten Rokan Hulu (1 titik).
Lonjakan hotspot ini mengindikasikan eskalasi ancaman karhutla yang kian nyata di tanah Melayu.