Kualitas Udara Berbahaya, Pemko Pekanbaru Liburkan Tatap Muka PAUD hingga SMP

Selasa, 15 September 2026 | 19:04:47 WIB
Kondisi asap beracun akibat Karhutla

GAGASANRIAU.com, PEKANBARU -- Kabut asap beracun yang makin pekat telah merenggut hak belajar tatap muka ribuan siswa di Kota Pekanbaru.

Hal itu seiring dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengambil langkah darurat dengan merumahkan seluruh aktivitas belajar-mengajar jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP dan mengalihkannya ke skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Keputusan tersebut diambila Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho bersama Wakil Wali Kota Markarius Anwar usai mengelar rapat darurat bersama jajaran OPD, BMKG, hingga dokter spesialis paru.

Kebijakan PJJ ini berlaku efektif mulai Rabu (16/9/2026) hingga Jumat (18/9/2026).

Jika hujan tak kunjung mengguyur dan pencemaran udara berlanjut, pemko memastikan masa PJJ langsung diperpanjang hingga Minggu (20/9/2026).

Pilihan menghentikan sekolah tatap muka dilandasi kondisi udara Pekanbaru yang sudah mencapai level membahayakan kesehatan pada Selasa (15/9/2026) siang.

"Kondisi hari ini, kualitas udara sangat tidak baik. Hari ini berdasarkan data BMKG itu 220 dan berdasarkan ISPU berada di angka 243 pada jam 2 siang, dalam kategori yang sangat tidak sehat atau berbahaya," tegas Agung dikutip dari Riauposco.

Agung juga mendesak para guru untuk tidak menjadikan PJJ sebagai beban tambahan yang menyulitkan siswa maupun orang tua di rumah.

Pemberian tugas harus disesuaikan dengan situasi darurat bencana asap.

"Mohon support untuk anak-anak kita agar PJJ didampingi. Kepada guru, berikan hal yang tentu tidak memberatkan orang tua," ujarnya.

Ancaman kabut asap kali ini rupanya tak hanya bersumber dari dalam daerah. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono, mengungkapkan jarak pandang di Pekanbaru bahkan telah merosot drastis hingga di bawah 1.000 meter.

Meski titik panas (hotspot) di Riau terdeteksi 29 titik (tersebar di Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir), racun asap tebal yang menutupi langit Pekanbaru sebagian besar merupakan 'pemberian' wilayah tetangga.

Analisis BMKG menunjukkan adanya pergerakan angin dari tenggara dan selatan menuju utara. Pergerakan ini mengangkut kabut asap masif dari Sumatra Selatan yang mencatatkan lebih dari 2.000 hotspot serta Jambi yang mengantongi lebih dari 400 hotspot.

"Jadi asap ini berasal dari selatan karena arah angin dari tenggara dan selatan menuju ke utara," terang Warjono.

Melihat fakta bahwa racun udara terus berhembus dari luar daerah, Wali Kota mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan situasi dan tidak menambah sumber pembakaran di dalam kota.

Pemko Pekanbaru mengimbau kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan penderita penyakit komorbid untuk sama sekali menghentikan aktivitas di luar ruangan.

Guna menekan risiko penyakit saluran pernapasan, Pemko Pekanbaru juga membagikan masker secara gratis melalui fasilitas kesehatan terdekat.

"Silakan hubungi Puskesmas terdekat untuk mendapatkan masker. Karena Bapak/Ibu sekalian, kesehatan adalah yang nomor satu," pungkas Agung.

Terkini