Kepungan Asap Karhutla Racuni 2.160 Warga Pelalawan, Balita Jadi Korban Utama

Kamis, 17 September 2026 | 14:28:35 WIB
Petugas Dinkes Pelalawan saat membagikan Masker kepada anak-anak

GAGASANRIAU.com, PANGKALAN KERINCI - Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Pelalawan, Riau, akhirnya menelan harga yang mahal dari sisi kesehatan publik.

Pasalnya akibat kepungan kabut asap pekat Karhutla memaksa ribuan warga bertumbangan akibat terhirup racun udara.

Sebagaimana dibeberkan Pemerintah Kabupaten Pelalawan melalui Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 2.160 warga terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) hanya dalam rentang waktu sebulan, terhitung sejak 19 Agustus hingga 15 September 2026.

Data mengkhawatirkan tersebut dihimpun secara merata dari seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari RSUD hingga puskesmas di 12 kecamatan.

Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan, Asril, mengonfirmasi bahwa kepungan asap Karhutla telah membuat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayahnya bergerak liar dan membahayakan keselamatan jiwa.

"Kualitas udara berubah-ubah, dari level tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga sempat berbahaya," kata Asril saat menguraikan ancaman gangguan pernapasan seperti batuk, flu, demam, dan sakit tenggorokan yang menyerang warga, Kamis (17/9).

Ancaman terbesar mengintai kelompok rentan. Dari total ribuan penderita, anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) menjadi kelompok korban paling mendominasi, yakni mencapai 552 anak atau menembus 23 persen dari total kasus.

Tak berhenti di situ, kelompok usia sekolah dan produktif turut mengantre di pendaftaran berobat.

Sebanyak 417 penderita berasal dari anak usia 5-9 tahun, 408 remaja usia 10-18 tahun, 701 usia dewasa (19-59 tahun), serta 122 warga lanjut usia (60 tahun ke atas).

Secara gender, serangan infeksi pernapasan ini melumpuhkan 1.091 laki-laki dan 1.069 perempuan.

Meski demikian, Asril mengklaim mayoritas penderita telah berhasil ditangani dan tidak sampai memicu kefatalan berlanjut.

"Dari 2.160 kasus ISPA ini, bisa dikatakan 90 persen sudah sembuh. Karena pola penanganannya lebih mudah," ujar Asril menenangkan.

Asril menjelaskan, pengobatan ISPA yang dipicu paparan udara kotor dan infeksi virus pada dasarnya dapat diatasi dengan konsumsi obat, suplemen vitamin, asupan air putih yang cukup, serta penanganan mandiri di rumah.

Namun, ia menegaskan perlunya proteksi ekstra ketat bagi kelompok rawan. Lansia dan warga yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti asma diwajibkan mendapatkan pengawasan khusus agar tidak berujung komplikasi berat.

Ancaman lonjakan pasien pun dipastikan belum berakhir. Mengingat kualitas udara yang masih berfluktuasi tajam, fasilitas kesehatan kini disiagakan mengantisipasi efek tunda (delayed effect) dari asap pekat.

"Jika kabut asap pekat, peningkatan kasus akan terlihat besoknya atau dua hari lagi," tegas Asril.

Sebaran kasus ISPA terparah saat ini terkonsentrasi di lima wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Kerumutan dengan angka tertinggi 432 pasien, disusul Puskesmas Pangkalan Kuras I (419 pasien), Puskesmas Pangkalan Kerinci I (251 pasien), Puskesmas Ukui (213 pasien), dan Puskesmas Bandar Petalangan (151 pasien).

Sementara itu, penanganan tingkat lanjut di instalasi rumah sakit tercatat relatif terkendali, dengan RS Efarina merawat 3 kasus, RS Amelia Medika 2 kasus, RS Medicare Sorek 2 kasus, dan RSUD Selasih Pangkalan Kerinci menampung 1 kasus.

Terkini