GAGASANRIAU.COM, BENGKALIS -- Akibat gejolak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memukul sektor pelayanan kesehatan di daerah.
Dimana, krisis moneter global ini memicu lonjakan harga obat-obatan di dalam negeri yang rantai pasoknya masih sangat bergantung pada bahan baku impor dari luar negeri.
Sebagaimana dilansir dari riauterkinicom, terungkap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkalis menjadi salah satu fasilitas kesehatan di Provinsi Riau yang terdampak langsung.
Dolphin, Kepala Ruangan Farmasi RSUD Bengkalis, mengungkapkan bahwa hampir seluruh jenis obat-obatan esensial yang tersedia di instalasi farmasi mengalami tren kenaikan harga yang signifikan dalam dua bulan terakhir.
“Rata-rata bahan baku obat ini berasal dari luar negeri, sehingga tentunya mempengaruhi harga obat-obatan saat ini,” ujar Dolphin, Selasa (19/5).
Dolphin juga membeberkan, efek domino dari keperkasaan mata uang dolar AS ini telah mengoreksi sekitar 80 persen dari total komoditas obat-obatan yang tersedia di RSUD Bengkalis.
Rata-rata margin kenaikan harga menembus angka hingga 12 persen dari harga normal sebelumnya.
Kendati tidak merinci daftar item secara spesifik karena volume jenisnya yang terlalu banyak, Dolphin memprediksi harga eceran tertinggi obat masih berpotensi merangkak naik jika nilai tukar domestik tak kunjung stabil.
“Bisa jadi kondisi obat akan terus naik, karena bahan obat kita dari luar. Kalau pabrik obat mendapatkan bahan mahal, tentu produk obat yang dijual juga akan naik,” papar Dolphin menjelaskan beban biaya produksi di tingkat hulu pabrik farmasi.
Manajemen Putar Otak, Amankan Stok Pasien
Merespons ancaman kelangkaan obat akibat lonjakan harga tersebut, Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSUD Bengkalis, Freddy Antoni, menegaskan pihak rumah sakit menolak opsi pembatasan belanja.
Manajemen menjamin pasokan obat-obatan bagi pasien akan tetap dipenuhi secara maksimal di tengah krisis.
Menurut Freddy, pemangkasan kuota pembelian obat adalah langkah yang mustahil diambil karena mempertaruhkan nyawa dan kualitas pelayanan medis masyarakat Kabupaten Bengkalis.
“Jadi pemesanan obat meskipun kondisi harga mengalami kenaikan, kita tetap mengadakan sesuai kebutuhan. Tidak mungkin dilakukan pembatasan atau pengurangan,” tegas Freddy.
Meski demikian, Freddy tidak menampik bahwa pembengkakan biaya ini otomatis menguras postur anggaran pengeluaran rumah sakit secara tidak wajar.
Guna mengantisipasi potensi gagal bayar dan menjaga arus kas (cash flow) tetap aman, RSUD Bengkalis kini terpaksa mengambil langkah taktis melalui jalur lobi finansial.
Pihak manajemen memperpanjang napas keuangan dengan menegosiasikan jatuh tempo pembayaran kepada pihak ketiga.
“Pola pembayaran yang bisa kita sesuaikan diatur sesuai kemampuan kita dengan tenggang waktu melalui negosiasi dengan perusahaan supplier agar tetap bisa memenuhi kebutuhan obat kita,” pungkas Freddy merinci strategi bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi tersebut.