Tragedi Nelayan Malaysia di Selat Malaka: Dua Tewas, Satu Masih Hilang Tenggelam

Jumat, 18 September 2026 | 13:22:50 WIB
Operasi pencarian kapal nelayan Malaysia

GAGASANRIAU.com, PEKANBARU -- Tragedi memilukan terjadi pada kapal nelayan dari Malaysia yang memakan korban jiwa di Selat Malaka.

Sebuah kapal pancing berbendera Malaysia yang mengangkut tujuh nelayan dilaporkan tenggelam dan hanyut hingga menembus perbatasan perairan Riau, Indonesia.

Dibeberkan Kantor SAR Kelas A Pekanbaru dalam laporan yang diterima GagasanRiau.com, tragedi ini bermula saat kapal melaut dan mendadak hilang kontak pada Senin (14/9) dini hari.

Kuatnya arus laut disinyalir menyeret material kapal dan para korban keluar dari wilayah Malaysia menuju perairan Indonesia.

Pencarian yang memasuki hari ketiga pada Kamis (17/9) melibatkan penuh Tim SAR Gabungan Pekanbaru, kapal RB 218 Dumai, hingga koordinasi ketat bersama Maritime Rescue Sub Centre (MRSC) Johor Bahru.

Area perburuan korban diperluas hingga menyapu radius 150 mil laut (nautical square miles).

Penyisiran difokuskan pada titik rawan perbatasan yang disepakati kedua negara.

"Sebelum operasi lintas batas ini digelar, empat nelayan berhasil diselamatkan oleh nelayan lokal Malaysia pada Selasa (15/9) " kata Kukuh, Humas Kantor SAR Kelas A Pekanbaru mewakili Kepala Kantornya, Budi Cahyadi.

Namun lanjut Kukuh, nasib nahas menimpa korban lainnya.

Dua nelayan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa secara beruntun pada Rabu (16/9) dan Kamis (17/9) sore.

"Jasad kedua korban langsung dievakuasi ke Hutan Melintang, Perak, untuk proses identifikasi " ujar Kukuh.

Sementara itu lanjut Kukuh, armada SAR Indonesia yang menyisir wilayah Pulau Jemur, Rokan Hilir, hingga Kamis malam belum menemukan tanda-tanda keberadaan satu korban tersisa.

Penyisiran seharian penuh berakhir nihil akibat terkendala jarak pandang dan luasnya medan laut.

Dengan menyisakan satu korban yang tak kunjung ditemukan, Tim SAR Gabungan terang Kukuh, akhirnya mengusulkan penutupan operasi aktif dan mengalihkannya ke status pemantauan berkala, sembari menunggu kepastian akhir dari pihak otoritas Malaysia.

Terkini