Banjir Pekanbaru Lumpuhkan Sekolah! Akses SMAN 17 Payung Sekaki Berubah Jadi Danau Maut, Hak Belajar Siswa Dikorbankan!

Jumat, 06 November 2026 | 11:43:57 WIB
Para siswa dan orang tua wali murid di tengah kondisi banjir akses menuju sekolah mereka

GAGASANRIAU.com, PEKANBARU -- Derita masyarakat di Bumi Lancang Kuning ini serasa tak pernah punya akhir. Setelah tiga bulan penuh diracuni kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kini dihadapkan pula musimj hujan yang mengancam nyawa.

Ketika memasuki musim hujan lagi-lagi masalah buruknya sistem drainase dan pembiaran infrastruktur di Kota Pekanbaru kembali menelan korban. Kali ini, hak belajar anak-anak sekolah yang harus dikorbankan.

Akses jalan menuju SMA Negeri 17 Pekanbaru yang berlokasi di Jalan Fajar Raya atau Jalan Pinang, Kecamatan Payung Sekaki, lumpuh total terendam banjir tinggi usai diguyur hujan deras pada Jumat (6/11).

Genangan air yang tinggi tak hanya mengepung pemukiman warga, tetapi juga menutup total akses lintasan guru, siswa, hingga para orang tua murid.

Penderitaan kian bertambah lantaran banjir pekat tersebut menyembunyikan ancaman maut, keberadaan jembatan yang rusak parah di ruas jalan tersebut.

Takut keselamatan jiwa buah hati mereka melayang akibat terperosok ke dalam luapan air dan jembatan rusak, gelombang protes dari orang tua murid pun memuncak.

Akibat keterbatasan dan pengabaian fasilitas publik ini, manajemen SMAN 17 Pekanbaru akhirnya mengambil keputusan darurat dengan menghentikan kegiatan belajar tatap muka dan memulangkan siswa ke rumah untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

"Kami telah melakukan koordinasi dengan Kepala Bidang SMA terkait banjir ini. Masalahnya, di sana ada jembatan yang rusak sehingga orang tua keberatan mengantarkan anaknya ke sekolah," kata Kepala SMAN 17 Pekanbaru, Dra Elmida, mengonfirmasi situasi kritis tersebut, Jumat (6/11) dilansir dari Riauposco.

Elmida menjelaskan bahwa pihak sekolah telah berkomunikasi intensif dengan Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau sebelum memutus mata rantai bahaya bagi para murid.

Keputusan PJJ diambil secara sah setelah sekolah mendengarkan jeritan dan kekhawatiran nyata para orang tua yang menolak mempertaruhkan nyawa anak-anak mereka menembus jalan berlubang dan banjir payau di Payung Sekaki.

"Jadi, tadi kami sudah mengonfirmasi dan berkoordinasi dengan Kepala Bidang SMA. Karena orang tua keberatan, maka kami putuskan hari ini anak-anak melaksanakan PJJ," tegas Elmida.

Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kota Pekanbaru maupun Pemerintah Provinsi Riau.

Masalah banjir menahun dan jembatan rusak di kawasan Payung Sekaki seolah dibiarkan tanpa penanganan konkret hingga berulang kali melumpuhkan sektor pendidikan.

Pihak sekolah dan masyarakat hanya bisa gigit jari berharap banjir segera surut dan infrastruktur jalan serta jembatan yang membahayakan nyawa tersebut segera diperbaiki secara permanen, agar hak anak-anak untuk mengecap pendidikan secara tatap muka tidak terus-menerus dirampas oleh luapan air.

Terkini