Dokter Kurang Humanis, Alasan Pasien Berobat ke Luar Negeri?

Sabtu, 06 Agustus 2016 - 15:42:00 wib | Dibaca: 8521 kali 
Dokter Kurang Humanis, Alasan Pasien Berobat ke Luar Negeri?
Dokter Patrianef Spesialis Bedah Umum ( Konsultan) Subspesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular.

GagasanRiau.Com - Ibu Menkes meminta agar dokter Indonesia lebih humanis agar lebih sedikit orang indonesia yang berobat ke negara tetangga. Ajakan yang bagus dan patut diapresiasi. Pasti masih ada dokter indonesia yang belum humanis. Pasti banyak juga yang berusaha untuk humanis dan tentu saja yang masih belum humanis. Persoalan berduyun duyunnya pasien datang kenegara tetangga memang merupakan fenomena lama yang sulit untuk dihentikan.
Ketimbang menghentikan, cara yang paling tepat adalah meningkatkan kualitas pelayanan di Indonesia. Sebetulnya bukan hanya pasien yang berbondong bondong, tetapi banyak juga dokter Indonesia yang belajar di sana.

Apakah kemampuan mereka di sana lebih bagus dari Indonesia. Pasti akan banyak bantahan. Kalau saya berterus terang dalam bidang "high technology" mereka jauh lebih unggul daripada kita. Tetapi pada bidang yang tidak memerlukan teknologi tinggi, kita mungkin lebih baik daripada mereka, karena sisi penduduk yang lebih banyak membuat kita lebih kaya pengalaman daripada mereka. Baca Juga Patrianef: Stop Praktek Perpeloncoan yang Kejam Dalam Pendidikan Dokter Spesialis

Hal yang terlihat sekali perbedaannya, adalah dalam pelayanan di sana. Terutama di RS Pemerintah adalah kepedulian dokter terhadap pasien. Satu dokter dalam satu hari praktek dari pagi sampai siang paling memeriksa 5 orang pasien.

Mereka begitu serius memeriksa pasiennya, terperinci dan detail. Data data pasien langsung bisa mereka ambil dari komputer mereka. Mereka bisa tahu detail tentang pasiennya dan tidak terputus. Kenapa bisa begitu. Poliklinik mereka banyak sehingga pasien bisa terbagi. Bandingkan dengan kita yang hanya melayani 100 pasien dengan 2 poliklinik.

Sekilas terlihat dokter kita tidak peduli. Tetapi dengan sebanyak itu pasien, dokter dihukum oleh waktu. Kalau dokter fokus kepada beberapa pasien maka akan banyak pasien terlantar.

Dokter di RS Pemerintah di sana digaji dengan angka yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Indonesia. Mereka tidak perlu bekerja di RS swasta, karena sudah memadai pendapatan dari satu tempat tugas.

Kurang elok rasanya bila saya menyampaikan jumlah pendapatan mereka. Tetapi sebagai pembanding, dokter residen yang di sana dianggap sebagai pekerjaan digaji sekitar Rp. 20 juta rupiah. Dokter spesialis dan subspesialis digaji dengan jumlah yang mencukupi. Mereka menghargai dokter pada tempat yang selayaknya. Mereka tidak perlu menuntut banyak pada dokternya, karena pada dasarnya tidak ada dokter yang tidak peduli pada pasien.

Mereka bekerja dari pagi sampai selesai hanya di satu RS. Apakah dokter di Indonesia digaji tidak layak. Silakan lihat sendiri. Di Indonesia dokter dibayar berdasarkan jumlah pasien yang dilayaninya. Makin banyak pasien makin besar pendapatan. Rumah sakit juga begitu. Makin banyak pasien makin besar pendapatan. Klinik atau Puskesmas yang melayani peserta BPJS, semakin banyak kapitasi akan semakin banyak pendapatan. Akibatnya dokter dan petugas sering bekerja lembur sampai sore untuk menangani pasien.

Saya menanyakan kepada salah seorang dokter umum yang bekerja di Puskesmas. Mereka punya kapitasi sebanyak 12.000 dan mendapatkan dana kapitasi sekitar Rp 120 juta perbulan. Kedengarannya besar, tetapi itu dibagi dengan sekitar 30 pegawai lain.Untuk si dokter sendiri dia mendapat Rp 3 juta. Saya tanya apakah puas?, jawabannya Alhamdulillah. Batas antara puas dan bersyukur memang tidak ada. Dokter spesialis harus bekerja banyak untuk bisa memperoleh pendapatan yang memadai, karena gaji mereka sangat kecil.

Pendapatan tambahan mereka peroleh dari remunerasi di RS pemerintah dan bekerja di RS Swasta yang pada dasarnya adalah "fee for services". Akibatnya dokter harus bekerja di beberapa tempat untuk memenuhi keperluan hidupnya. Oh, dokter mengejar pendapatan untuk menjadi kaya. Itu pendapat banyak orang. Saya pribadi beruntung bahwa anak saya masih kecil dan yang besar kuliah di PTN. Waktu anak saya mau selesai SMA, saya berdiskusi dengan istri saya yang juga seorang dokter spesialis tentang kemungkinan masuk ke Perguruan Tinggi Swasta jika anak saya tidak lulus di PTN.

Dan mungkin anda tidak percaya bahwa biaya masuk serta biaya kuliah yang besar menjadi persoalan bagi kami yang sebetulnya dianggap kuat secara finansial karena suami istri dokter spesialis. Bagaimana kira kira kemampuan seorang dokter umum untuk membiayai anaknya di PTS. Silakan lihat saudara atau keluarga anda yang dokter umum dan dokter spesialis. Ada dokter spesialis yang punya banyak uang dan diperoleh dengan kerja siang malam dan keluarga menjadi terabaikan. Sebagian besar dokter spesialis hidup biasa biasa saja.

Sebagian besar dokter umum malahan hidup sangat biasa biasa saja dan untuk mencukupi kebutuhannya mereka mencari kerja di klinik klinik dengan konsekuensinya keluarga terabaikan. Mungkin anda tidak percaya jika sebagian dokter umum merasa beruntung jika dia kebagian shift hari sabtu atau minggu karena pasien cukup banyak biasanya. Kebayang tidak seirang ibu mau meninggalkan anak anaknya yang masih kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Untuk menjadi humanis sebetulnya tidak ada hubungan dengan pendapatan. Mau kecil maupun besar, seorang tetap bisa menjadi humanis. Persoalannya menjadi lain jika humanis dihubungkan dengan kepergian pasien ke luar negeri. Persoalan kesejahteraan dokter dan pendapatan rumah sakit yang akan semakin meningkat jika pasien semakin banyak, inilah sumber masalahnya. Waktu untuk pasien berkomunikasi dengan pasien semakin sedikit. Sehumanis apapun dokternya, kalau waktu kontak dan komunikasi dengan pasien sedikit, tentu saja pasien akan kecewa.

Sudah saatnya reformasi dan reformulasi dalam hal "positioning" dan "bargaining" dokter di Indonesia. Sudah saatnya pendapatan dokter tidak dihubungkan dengan jumlah pasien dan itu hanya dapat dilakukan jika dokter digaji dengan layak oleh negara. Demi untuk Indonesia yang lebih baik, maka sistem pelayanan kesehatan harus berubah. Jakarta, 30 Juli 2016.

Penulis Dokter Patrianef
Spesialis Bedah Umum ( Konsultan) Subspesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular.


Loading...
BERITA LAINNYA