Konflik Harimau Sumatera di Inhil, Warga : BKSDA Riau Cuma Petantang-Petenteng Foto-Foto Tak Ada Solusi

Jumat, 06 Desember 2019 - 15:20:53 wib | Dibaca: 4200 kali 
Konflik Harimau Sumatera di Inhil, Warga : BKSDA Riau Cuma Petantang-Petenteng Foto-Foto Tak Ada Solusi
BBKSDA Riau, Harimau Sumatera

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU - Tolib, tokoh masyarakat Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, geram dengan pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau karena tidak ada tindakan sama sekali soal untuk menangani Harimau Sumatera di daerah mereka. Pasalnya selama tahun 2019 ini, sudah tiga orang tewas akibat serangan harimau sumatera di Kabupaten Indragiri Hilir.
 
"Tidak ada tindakan dari pihak balai (BKSDA.Red), kalau kondisi saat ini, bukan menakutkan atau mencekam lagi pak, sudah lima orang jadi korban, dan itu terjadi di Kampung Danau semua, kalo pihak dari Balai (BKSDA) mereka datang kesini cuma petantang petenteng foto-foto pasang spnaduk, tidak ada tindakan atau mencoba evakuasi Harimau itu" kata Tolib kepada Gagasan Kamis malam (5/12/2019).
 
Padahal katanya warga di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir ini sampai membuat surat permohonan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat agar Harimau Sumatera itu segera dilakukan tindakan baik melakukan evakuasi maupun tindakan lain hingga masyarakat dapat beraktifitas untuk mencari nafkah.
 
"Yang kami butuhkan itu bukan hanya cuma meninjau, foto-foto pasang spanduk namun setelah itu nggak ada solusi" tegasnya.
 
Padahal lanjutnya lagi, yang memerintahkan membuat surat permohonan itu justru pihak BBKSDA Riau, namun katanya justru tidak ada tindak lanjutnya.
 
"Sementara yang memerintahkan membuat surat itu kan pihak balai (BBKSDA) sampai dibuat tembusan ke Bupati dan Menteri, ternyata sudah kami bikin ada lagi yang lucunya minta lagi (pihak BBKSDA) buat surat ke pihak balai, kami seperti dipermainkan oleh mereka (BBKSDA) terombang ambing dibuatnya" terangnya.
 
Diterangkan Tolib, masyarakat di Kecamatan Pelangiran saat ini susah untuk mencari nafkah sehari-hari karena ketakutan diserang oleh harimau sumatera. "Kami sudah bingung dan tak tahu bagaimana solusinya," ujar dia.
 
Dikatakan Tolib, pihak BBKSDA saat terakhir datang ke desa mereka cuma memasang spanduk dan tidak ada tindakan lain yang bisa membuat masyarakat tidak khawatir. "Mereka cuma pasang spanduk, terus sosialisasi dilarang pelihara harimau dan uu ancaman pelihara harimau, sebenarnya bukan itu mau kami, mana ada pula kami mau pelihara harimau," ucapnya geram. Kami butuh evakuasi harimau itu" tegasnya lagi.
 
Dia juga menerangkan bahwa surat permohonan yang pernah mereka buat itu sudah dikirim sebulan yang lalu.
 
Tepatnya tanggal 16 September 2019, dengan nomor surat 010/PEM-DTS/RT/IX/2019 yang ditujukan kepada Bupati Kabupaten Inhil judul surat itu "Permohonan Tindak Lanjut Evakuasi Satwa Liar Harimau ditanda tangani oleh Kadesnya Abu Nawas. 
 
Surat itu juga ditembuskan kepada Siti Nurbaya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Gubernur Riau, Polda Riau, BBKSDA Riau, DPRD Provinsi Riau dan jajaran forkompinda lainnya.
 
Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau Suharyono menanggapi surat yang diajukan tersebut mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan rapat dan dia menyarankan agar konfirmasi kepada pihak Pemkab Inhil.
 
"Terakhir kami sudah rapat bersama dengan pemangku kepentingan di pusat. Dipimpin langsung oleh Dir KKH terkait masalah itu. Untuk surat tersebut mungkin lebih tepat ditanya ke Pemda, karena surat tersebut adressnya ke kabupaten" kata dia kepada Gagasan Rabu 4 Desember 2019.
 
Saat ditanyakan kembali apakah tindak lanjut dari surat permohonan yang diajukan masyarakat itu, dia tak kembali mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan rapat. "Kami ambil langkah-langkah salah satunya tadi diatas, merapatkan dengan pemangku kepentingan" tulis dia singkat.
 
Informasi yang berhasil dirangkum, akibat serangan harimau sumatera ini, tiga orang meninggal di Kabupaten Indragiri Hilir selama 2019. Pada Kamis (24/10).
 
Korban atas nama Wahyu Kurniadi asal Provinsi Aceh, tewas mengenaskan karena diterkam di lahan konsesi PT Ria Indo Agropalma di Kecamatan Pelangiran.
 
Kemudian pekerja di konsesi PT Ria bernama M. Amri pada 23 Mei 2019. Tubuhnya dicabik-cabik harimau sumatera di Kanal Sekunder 41 PT Ria di Desa Tanjung Simpang.
 
Selanjutnya Agustus 2019, Darwaman alias Nang (36) tewas akibat diterkam harimau sumatera liar di lahan konsesi PT Bhara Induk.Nang adalah warga Desa Tanjung Simpang.

Loading...
BERITA LAINNYA