Lingkungan

Air Kiriman PT SAGM Bikin Masyarakat Kuala Sebatu Menangis

Kondisi badan jalan di Kuala Sebatu terendam akibat kiriman air dari perusahaan sawit PT SAGM

Masyarakat Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau harus menanggung kerugian yang sangat besar. Bagaimana tidak, hampir 1.000 hektare lahan pertanian dan persawahan masyarakat rusak parah.

Kerusakan lahan pertanian dan perkebunan tersebut bukan tanpa sebab. Sesuai fakta yang dikumpulkan wartawan dari hasil investigasi, rusaknya lahan masyarakat itu akibat kiriman air yang diduga limbah PT Setia Agrindo Mandiri (SAGM) rendam perkebunan masyarakat.

Sampai hari ini lahan masyarakat yang terkenal produktif itu terancam mati. Padahal lahan pertanian masyarakat Kuala Sebatu sebelumnya menjadi lumbung padi di Negeri Hamparan Kelapa Dunia. Saat ini digenangi air yang diduga tercemar bahan organik dari pupuk perusahaan sawit itu.

"Dari dampak itu, lahan yang dahulu terkenal produktif terancam menjadi lahan mati dan tidak bisa difungsikan lagi," kata masyarakat setempat yang tidak mau disebutkan namanya, Rabu (12/10).

Bukan hanya di Desa Kuala Sebatu, di Dusun Tasik Pilang dan Dusun Panglima juga rusak parah. Bahkan dalam lima tahun terakhir tidak ada aktivitas perkebunan maupun pertanian yang dilakukan oleh masyarakat akibat air perusahaan sawit merendam perkebunan masyarakat.

"Sejak adanya limpahan air dari perusahaan, sekitar 5 tahun ini kami beginilah. Lahan hancur tidak bisa lagi difungsikan karena air selalu menggenangi lahan sehingga tidak ada yang bisa lagi diupayakan," katanya.

Masyarakat mengaku sebelum lahan rusak parah, hasil kebun mereka melimpah. Ratusan ton buah kelapa dan hampir seribu hektare sawah milik petani mampu menghidupi keluarga mereka, bahkan hasil panen padi dan tanaman palawija menjadi pendapatan utama petani.

"Dahulu di tempat kami ini hasilnya ratusan ton, ya kan. Sekarang jangankan ratusan ton, satu biji pun tidak kami dapatkan, dari padi. Belum lagi dari palawijanya biasanya kami nanam jagung nanam kacang sekarang tidak bisa sama sekali," keluhnya.

Selanjutnya dia menambahkan, sejauh ini sebagai masyarakat tempatan, dia sudah pernah menyampaikan keluhannya saat ada pertemuan di kantor desa beberapa waktu yang lalu bersama dengan pemerintah kecamatan. Namun sampai saat ini belum ada yang turun langsung ke lokasi.

"Kami sudah menyampaikan persoalan ini kepada pihak pemerintah kecamatan yang hari itu ke kantor desa," tukasnya.

1.500 PETANI HILANG MATA PENCAHARIAN

Masyarakat di Kecamatan Batang Tuaka harus menghadapi masa sulit. Hampir 1.500 petani hilangan mata pencaharian akibat lahan pertanian mereka rusak parah. Bahkan tidak produktif lagi untuk dikelola.

Hal tersebut diungkapkan Kapala Desa (Kades) Kuala Sebatu, Budi, sebanyak 1.000 hektare lahan perkebunan dan pertanian milik masyarakat terancam mati. Akibatnya 1.500 dari 3.000 jumlah penduduk di desa tersebut kehilangan mata pencarian.

“Jumlah penduduk di desa kami sebanyak tiga ribu jiwa. Diperkirakan sekitar 1.500 masyarakat yang terkena imbas banjir itu sendiri,” ucap Budi.

Perusahaan sawit itu diduga kuat melakukan pengrusakan lingkungan. Sesuai fakta yang ditemukan, limpahan air PT SAGM mengalir ke Desa Kuala Sebatu serta sejumlah desa yang berbatasan langsung dengan kawasan industri korporasi tersebut, seperti desa Pasir Mas dan Desa Sialang Panjang.

“Desa kami berbatasan langsung di hulu dan hilir perusahaan. Selain Kuala Sebatu, Desa Pasir Mas dan Sialang Panjang juga terdampak,” tutur Budi.

Budi juga mengatakan, banjir yang terjadi tidak hanya berimbas pada lahan pertanian tapi juga masyarakat di desa Kuala Sebatu karena banjir menggenangi jalan poros hingga area pemukiman masyarakat.

Saat ini, kata dia, tinggi muka air yang merendam lahan perkebunan masyarakat mencapai satu meter. Dia khawatir kondisi banjir akan lebih tinggi mengingat saat ini sudah memasuki musim penghujan.

“Tinggi banjir bervariasi. Saat ini sudah mencapai satu meter. Belum tau nanti karena ini baru masuk musim penghujan,” ucapnya.

Budi mengungkapkan permasalahan banjir di desa Kuala Sebatu bukanlah hal yang baru karena sudah terjadi sejak lima tahun terakhir, namun sampai saat ini belum ada solusi untuk masyarakat.

MASYARAKAT MENGADU KE WAKIL RAKYAT

Ratusan masyarakat mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Inhil dengan agenda Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Aliansi Pemuda dan mahasiswa mengadukan permasalahan yang menimpa petani Kuala Sebatu akibat limpahan air PT SAGM.

Rapat tersebut berlangsung, Senin, (10/10/22), dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Inhil Dr H. Mariyanto, S.E.,MM didampingi  Wakil ketua DPRD Inhil Edi Gunawan, S.E., Msi, dan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kabupaten Inhil H. Drs. Tantawi Jauhari , MM.

Ketua Aliansi Pemuda dan masyarakat Desa Kuala Sebatu, Hasanuddin memaparkan terkait dengan persoalan banjir di Desa Kuala Sebatu dirinya menyaksikan sendiri bahwasanya lebih dari 10 kanal perusahaan SAGM itu tembus di desa Kuala Sebatu.

"Sedangkan pembuangan perusahaan ini tidak ada ke lain tempat, hanya kepada kami, pembuangan di desa kami itu buntu, selain buntu hanya satu pembuangannya di simpang parit 1 Sialang Panjang," katanya.

Kendati demikian, dengan adanya hearing ini kata Hasanuddin, dirinya akan menyampaikan kepada seluruh instansi dan anggota DPRD Kabupaten agar keluhannya ditanggapi dengan serius.

"Tuntutan kami adalah 1. PT. SAGM tidak mengalirkan air ke arah Desa Kuala Sebatu dan Pasir Emas atau disarankan membuat kanal gajah.

2. Apabila terjadi luapan air, pihak perusahaan tidak membuka pintu tanggul.

3. Pihak perusahaan melakukan normalisasi dan perawatan sungai dari Desa Kuala Sebatu sampai ke Desa Sungai Raya (36 km)

4. PT AGM bertanggung jawab terhadap kerusakan kebun dan sawah masyarakat atau memberikan kompensasi terhadap kebun dan sawah masyarakat yang terdampak. 

5. Tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (CSR)," tukasnya.

Sementara itu, humas PT. SAGM Darma mengatakan, hasil hearing ini akan dirinya sampaikan kepada pihak management.

"Jadi hasil dari pertemuan-pertemuan ini akan kita sampaikan ke pihak manajemen, orang dari manajemen menjadi acuan kita. Kalau saya sebagai pemutus mungkin bisa kasi keterangan yang memang apa adanya tapi tetap ke manajemen dulu," sebutnya.

Disamping itu, pimpinan sidang Dr H. Mariyanto, S.E.,MM menyimpulkan bahwa, hasil rapat kali ini pihaknya akan membuat team investigasi untuk mengatasi persoalan-persoalan ini.

"Kesimpulan rapat yang ke 1 adalah bersepakat bersama membentuk team. 

2. Pembentukan team dilakukan oleh eksekutif dengan melibatkan pihak terkait. 

3. Team diberikan waktu untuk bekerja.

4. Selama team bekerja perusahaan tidak diperkenankan untuk membuka pintu klip air.

5. Selesai," tukasnya.

"Persoalan PT. SAGM ini akan dibuat team penyelesaian kasus ini, disamping team itu dibuat maka mulai team dibentuk sampai berakhirnya team tersebut melaksanakan tugasnya, maka pihak perusahaan wajib untuk menutup saluran air tanpa terkecuali," sambungnya.

Terkait apabila sudah ditutup dan ternyata dibuka kembali, apakah tindakan yang akan dilakukan oleh pihak DPRD?, Maryanto menjawab akan melakukan tindakan.

"Tidak akan berani, kita akan tindak, konsekuensinya nanti biar team yang membuat laporannya, karena ini dibentuk apapun yang berhak hanya eksekutif rekomendasi DPRD kita serahkan kepada pak Bupati, pak Bupati nanti akan membuat team, untuk team investigasi tersebut," pungkasnya.

DLHK INHIL TINJAU LOKASI LAHAN PERTANIAN KUALA SEBATU 

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) turun langsung meninjau lokasi lahan pertanian dan perkebunan masyarakat Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, yang terdampak banjir, Selasa (04/10/22).

Dalam peninjauan itu, DLHK turun bersama beberapa instansi terkait, diantaranya Dinas Pertanian, dan Dinas Perkebunan, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Inhil.

Sampai di lokasi yang dituju, masyarakat serta RT setempat memperlihatkan kondisi lahan dan aliran air yang diduga dari perusahaan PT. Setia Agrindo Mandiri (SAGM).

"Ada 5 titik yang dipasang paralon oleh pihak perusahaan, semua aliran air itu masuknya ke tempat kami," katanya saat di lokasi peninjauan.

Kemudian katanya lagi, dampak dari air tersebut yang membuat lahan-lahan pertanian atau perkebunan milik mereka mati selama lima tahun terakhir.

"Aliran sungai ini sudah pernah ditutup permanen. Namun, dibongkar oleh pihak perusahaan dipasang lagi tapi menggunakan paralon sehingga air tetap mengalir ke tempat kami," sebutnya.

Sementara itu, usai melihat langsung kondisi di lapangan Kepala Dinas LHK Azwizarmi melalui Pengawas DLHK Inhil, Wanda Fauzan mengatakan bahwa, persolan ini akan dirapatkan di kabupaten.

"Atas perintah atasan kami turun mengecek ke lokasi. Kita lihat bersama-sama dengan tim memang ada sebagian dari lahan masyarakat yang terendam, ini akan dilakukan rapat koordinasi selanjutnya di kabupaten, karena inikan banyak ada Dinas perkebunan, PUTR, Pertanian," sebutnya.

Sementara untuk limbah, kata Wanda, pihak (DLHK, red) selama setengah tahun sekali selalu melakukan pengujian.

"Kalau limpahkan setiap enam bulan sekali memang kami uji, inikan banyak air kanal ni, dan kita tidak bisa menduga terlebih dahulu,  kita kan hanya ngecek di lapangan, oh ini terendam," pungkasnya.

DARMA AKUI PT SAGM TAK MILIKI HGU

Darma Patria mengatasnamakan Humas perusahaan untuk wilayah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) mengakui pihak PT Setia Agrindo Mandiri (SAGM) tidak memiliki Hak Guna Usaha (HGU).

Pernyataan Darma ini dilontarkan saat wawancara dengan awak media usai hearing di kantor DPRD Inhil, Senin (11/10/2022) siang. 

Awak media meminta klarifikasi atas munculnya isu bahwa PT SAGM tersebut tidak mengantongi izin HGU. Pernyataan tersebut dikatakan oleh wakil ketua II DPRD Inhil, Edi Gunawan.

"Memang benar tidak memiliki HGU, tapi kami memiliki Izin Usaha Perkebunan (IUP). Dasar membuat HGU adalah IUP. Jadi kami membuat kebun itu adalah berdasarkan IUP. IUP yang ada ini sekitar 5.000 an hektar lah," katanya.

Ia mengatakan darimana dasar HGU jika tidak ada IUP.  "Kami juga tetap bayar pajak kok," paparnya.

Sementara salah satu petani di Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, meminta agar Darma Patria tidak di undang kembali saat hearing penyelesaian masalah dengan pihak perusahaan.

"Dia ini sering kali diundang musyawarah di desa, tapi tidak bisa menyelesaikan masalah, janji dan bahasanya hanya nanti disampaikan ke pihak management perusahaan, itu saja, tidak ada kelanjutannya,"

"Saya minta Darma tidak usah di undang lagi lah, karena tidak bisa mengambil keputusan," kata warga Kuala Sebatu tersebut.

NAMA MANTAN CAMAT BATANG TUAKA MUNCUL DALAM SKENARIO PENJUALAN LAHAN

Setelah sekian tahun berdiri, PT Setia Agrindo Mandiri (SAGM) yang terletak di Kecamatan Tempuling dan berbatasan desa Kuala Sebatu Kecamatan Batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir menjadi sorotan publik pasca masuk laporan luapan air.

Dalam proses perjalanan mengusut dugaan luapan air tersebut, kini muncul lagi ada dugaan penjualan lahan dari mantan Camat Batang Tuaka inisial S kepada pihak perusahaan.

Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya menyebutkan, Camat S diduga sudah menjual ratusan hektar lahan di desa Kuala Sebatu kecamatan Batang kepada pihak PT SAGM.

"Camat S lah yang diduga banyak menjual lahan. Kalau mau diusut dia ini yang banyak bermain," ujarnya sambil mengekplorasi mimik wajah tersenyum. 

Katanya pula, ia mempersilahkan untuk melakukan konfirmasi ke yang bersangkutan supaya dia bisa menjawab pernyataan ini ke publik. 

Selain itu, ia juga meminta S untuk bertanggungjawab atas kebijakan di masanya sehingga keputusan kemarin berdampak besar terhadap masyarakat sekitar.

"Mohon dikonfirmasi ke S agar dia bisa menjawab dugaan ini. Kemudian tanya juga ke dia tentang izin PT tersebut sembari kita sinkronkan dengan dampak yang terjadi sekarang, jika tidak sesuai maka dia harus bertanggungjawab," imbuhnya. 

Sementara itu, Camat S saat dikonfirmasi belum merespon sama sekali, baik melalui pesan WhatsApp ataupun ditelpon secara langsung. 

Kemudian pihak Humas PT SAGM, Patria Darma mengatakan belum bisa memberi keterangan dikarenakan sedang cuti.

"Saya lagi cuti, sudah satu minggu cuti, mungkin senin saya bisa masuk. Saya tidak bisa kasih keterangan apa-apa, jadi memang beberapa wartawan sudah ada seperti inilah gitu, cuma saya belum kasi komentar apa-apa,"

"Saya lagi di Medan mungkin hari minggu baru saya pulang ya mohon maaf ya. Jadi kalau cuti itu kita memang SOP nya ya ndak bisa, apa yang mau saya kasih, orang cuti tak bisa kasi komentar masalah nanti perusahaan ke saya," kata Humas PT SAGM itu.

 

Penulis: DaudMNur

(Artikel ini berhakcipta, dilarang copy paste tanpa persetujuan redaksi Gagasanriau.com)


[Ikuti GagasanRiau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar