Proyek Makan Bergizi Gratis di Siak Diserbu Kritik: Menu Tak Layak, Anggaran Ternyata Disunat?

Proyek Makan Bergizi Gratis di Siak Diserbu Kritik: Menu Tak Layak, Anggaran Ternyata Disunat?
MBG yang diunggah netizen di Kabupaten Siak

GAGASANRIAU.COM, SIAK -- Ternyata program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi siswa di Kabupaten Siak selama bulan Ramadan justru berujung polemik.

MBG bukannya apresiasi, program ini justru "dihujani" keluhan orang tua murid yang menilai kualitas menu jauh dari kata layak dan bergizi seimbang.

Gelombang protes ini mulanya pecah di media sosial sebelum akhirnya menjadi sorotan publik. Para orang tua mengeluhkan cita rasa makanan yang tidak mengundang selera hingga ketidaksesuaian antara nilai gizi dengan anggaran yang dikucurkan negara.

'Hanya Susu Tawar yang Diminum'

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh Ramzi, salah satu orang tua siswa. Ia mendapati porsi MBG milik anaknya berakhir di tempat sampah karena tidak bisa dinikmati.

"Hanya susu yang diminumnya, itu pun rendah gula, sehingga tidak berasa (tawar). Makanannya sama sekali tidak termakan," ujar Ramzi dengan nada kecewa, Selasa (24/2).

Senada dengan Ramzi, Aceng, wali murid sekolah dasar lainnya, menilai program ini justru membuang-buang anggaran secara percuma karena distribusinya yang tidak efektif.

Ia bahkan melontarkan usulan tajam agar subsidi tersebut diberikan dalam bentuk tunai.

"Sayang MBG ini, lebih sering tidak termakan. Lebih baik dijadikan uang saja, biar orang tua masing-masing yang belanja untuk menu makan anaknya yang sesuai selera," tegas Aceng.

Miris, Menu Ramadan Hanya Roti dan Kurma

Berdasarkan data dan foto yang beredar di media sosial, penampakan menu MBG di Siak terlihat sangat sederhana untuk label "Makan Bergizi".

Sebuah unggahan menunjukkan paket berisi roti, susu kotak, dan dua butir kurma.

Tak hanya itu, ditemukan pula menu yang terdiri dari kacang tojin, pisang, dan gorengan yang dibungkus dalam aluminium foil cup. 
Komposisi ini dianggap jauh dari standar pemenuhan gizi kronis bagi anak sekolah.

Badan Gizi Siak Akui Anggaran Bukan Rp15.000

Menanggapi kegaduhan tersebut, Korwil Badan Gizi Nasional Kabupaten Siak, Lisa Wahari, memberikan pembelaan yang justru mengungkap fakta mengejutkan terkait pemangkasan ekspektasi anggaran.

Lisa meluruskan bahwa anggaran bahan makanan untuk program MBG di wilayahnya ternyata tidak mencapai angka Rp15.000 seperti yang dibayangkan publik selama ini.

"Anggaran bahan makanan dalam Program MBG ditetapkan Rp8.000 sampai Rp10.000 per porsi, bukan Rp15.000," ungkap Lisa.

Ia membenarkan bahwa paket berisi susu kotak, dua buah kurma, dan roti tersebut memang dihargai Rp8.000 per porsi untuk murid SD. Sementara untuk tingkat SMP, rata-rata anggaran dipatok Rp10.000 per porsi.

Penegasan ini senada dengan pernyataan Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik S Deyang, di Jakarta yang menyebutkan rentang angka yang sama.

Namun, bagi orang tua di lapangan, angka Rp8.000 tersebut dianggap gagal menghadirkan "makan bergizi" yang nyata, melainkan hanya sekadar "snack" pengganjal perut yang kualitasnya dipertanyakan.

Kini, kredibilitas Program MBG di Siak tengah diuji. Publik menanti apakah pemerintah akan mengevaluasi menu yang disebut-sebut "menyimpang" ini atau tetap membiarkan anggaran triliunan rupiah berakhir di kantong sampah sekolah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index