GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Maskapai flag carrier yakni Garuda Indonesia tengah menjadi sorotan setelah pesawat rute Jakarta-Pekanbaru dengan nomor penerbangan GA-176 mengalami kerusakan serius pada bagian hidung (radome).
Dimana, insiden tersebut diduga kuat akibat hantaman benda asing atau Foreign Object Debris (FOD) saat proses pendaratan berlangsung.
Pesawat dengan registrasi PK-GFF tersebut sebelumnya lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Sabtu (7/3), sekitar pukul 17.14 WIB.
Meskipun mendarat dengan normal, kerusakan pada moncong pesawat memicu tanda tanya besar terkait keamanan di koridor udara maupun landasan pacu.
Suara Tak Lazim Jelang Pendaratan
Pekanbaru Branch Manager Garuda Indonesia, Daniel Valentino, mengungkapkan bahwa indikasi adanya masalah mulai terdeteksi setelah kru pesawat mendengar suara tidak biasa saat armada bersiap menyentuh landasan.
"Dari indikasi awal, terdapat dugaan adanya Foreign Object Debris atau benda asing yang mengenai bagian pesawat saat proses menjelang pendaratan. Hal itu yang kemudian diduga menyebabkan kerusakan pada bagian radome," ujar Daniel dalam keterangan persnya, Minggu (8/3).
Meskipun terjadi benturan yang merusak struktur luar pesawat, Daniel mengklaim Pilot in Command (PIC) telah menjalankan prosedur keselamatan sesuai standar operasional (SOP).
Pesawat yang membawa 116 penumpang, dua kru kokpit, dan lima awak kabin tersebut akhirnya mendarat dengan selamat.
Evaluasi Kelayakan Terbang
Hingga saat ini, armada PK-GFF tersebut masih diparkir untuk menjalani inspeksi teknis mendalam. Tim teknis Garuda Indonesia dilaporkan tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh guna mengevaluasi tingkat kerusakan sebelum pesawat diizinkan kembali mengudara.
Daniel menegaskan bahwa pihaknya kini terus berkoordinasi dengan otoritas penerbangan untuk memastikan penanganan kasus ini berjalan sesuai regulasi keselamatan internasional.
"Sebagai maskapai flag carrier nasional, Garuda Indonesia senantiasa menempatkan aspek keselamatan, keamanan, dan keandalan operasional sebagai prioritas utama," tegas Daniel.
Namun, insiden ini tetap menyisakan catatan kritis mengenai ancaman FOD yang dapat membahayakan fatalitas penerbangan jika tidak dimitigasi secara ketat oleh pihak maskapai maupun pengelola bandara.
Sebelum dinyatakan laik operasi, Garuda berkomitmen melakukan perawatan armada secara total demi menjamin standar keamanan penerbangan nasional.