Daerah

Debat Sang Mahasiswa

gagasanriau.com ,Tembilahan-“Kami hampir tidak percaya dengan janji-janji politik. Hanya manis mulut politisi ketika jelang  pemilu dan pilkada. Setelah itu, semua janji hilang entah kemana. Yang terlihat oleh kami, hanya sosok politisi yang semakin memperkaya diri. Sementara rakyat, tetap bernasib serupa tanpa ada perubahan.” Itulah kata-kata seorang mahasiswa dalam sebuah diskusi, dimana saya menjadi narasumber. Jujur, sebagai politisi yang berasal dari pengusaha, yang juga menjabat sebagai bupati, yang juga seorang akademisi, saya tidak dapat membantah statement tersebut. Pernyataan itu benar adanya! itulah potret demokrasi yang sedang berjalan di republik ini. Keterbukaan demokrasi membuat semua orang dapat memilih dan dipilih untuk menempati kursi legislatif dan eksekutif. Apapun latar belakang seseorang, jika dia mengikutkan diri dalam proses politik (pemilu dan pilkada) membuka kesempatan baginya untuk diamanatkan menjadi anggota legislatif yang terhormat atau menjabat sebagai kepala daerah. Itu sah secara aturan. Lalu, dalam proses meyakinkan rakyat, berbagai cara dilakukan. Mulai dari hal-hal rasional sampai irrasional. Dari cara normatif sampai yang melanggar norma. Tim sukses yang dikerahkan pun sangat beragam. Ada tim partai, tim koalisi, tim keluarga, tim teman, tim preman, tim pemuda, tim ustad, tim ibu-ibu, dan bermacam tim lainnya. Dan, bermacam informasi bertebaran. Mulai dari informasi sejuk, sopan dan ramah sampai informasi menjelekkan lawan politik, fitnah dan marah. Pokoknya semua jurus keluar. Kepada sang mahasiswa saya katakan, “Kita bertanggungjawab untuk memperbaiki demokrasi Indonesia. Saya yang saat ini berada di dalam pemerintahan, sepanjang waktu berupaya untuk membangun pemerintahan yang baik untuk dapat memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Saya sebagai ketua partai, di Partai Golkar yang saya pimpin, terus tiada henti membentuk kader-kader militan dan bukan karbitan. Partai Golkar terus serius dalam mengatur dan menerapkan mekanisme promosi kader. Kualitas diutamakan. Tak jarang, dalam diklat dan orientasi, ada kader yang lulus, lulus bersyarat dan tidak lulus. Sekalipun dia ketua partai atau anggota dewan. Kerja nyata kader Golkar harus nyata di masyarakat. Semua itu, agar ketika kader tersebut menempati jabatan dan posisi tertentu, memiliki kompetensi dan dekat dengan rakyat.” “Bahkan, pak, ada serangan fajar. Suara rakyat dibeli dengan uang,” potong si mahasiswa. Lalu, saya pun bertanya balik kepada sang mahasiswa. “Apakah hari ini, visi dan misi kandidat seorang calon legislator atau calon bupati, walikota, gubernur dan presiden masih diperlukan ketika bertemu dengan rakyat sebagai janji politik? Sebagai rencana program yang akan dilaksanakan jika terpilih, masihkan disimak dengan baik? Masihkah itu menjadi dasar untuk memilih seorang calon? Atau suara rakyat dapat dibeli dengan uang?” “Tidak!” Teriak sang mahasiswa. “Rakyat yang menjual suara itu pelacur. Masih banyak rakyat yang memilih visi dan misi,” tegasnya. “Jika demikian, mari kita beri pendidikan politik yang baik kepada rakyat, untuk memilih kandidat atas dasar visi dan misi, bukan uang. Dan saya akan menuliskan visi dan misi yang berorientasi rakyat.” Tutur saya sambil memberi aplus kepada sang mahasiswa dan memintanya untuk terus kritis.

 


[Ikuti GagasanRiau.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar