Alarm Bahaya BMKG: Karhutla 2026 Diprediksi Lebih Ganas dari Tahun Lalu!

Jumat, 06 Maret 2026 | 02:44:23 WIB
Konferensi pers usai apel siaga Karhutla nasional di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin (Lanud Rsn) Pekanbaru.

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Teuku Failsa Fathani, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyampaikan peringatan keras terkait ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tanah air.

Dia menegaskan bahwa tantangan tahun ini diprediksi jauh lebih berat dan destruktif dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal itu dia sampaikan dalam konferensi pers usai apel siaga Karhutla nasional di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin (Lanud Rsn) Pekanbaru, Kamis (5/3).

Dia juga menyoroti anomali cuaca yang kian mengkhawatirkan.

Prediksi Curah Hujan di Bawah Normal

Faisal membedah data yang menunjukkan bahwa kondisi curah hujan tahun ini tercatat berada di bawah normal.

Dan Angka tersebut menurut dia menjadi sinyal merah yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan secara signifikan, terutama bagi wilayah-wilayah yang bersinggungan langsung dengan garis khatulistiwa.

“Curah hujan tahun ini berada di bawah normal. Karena itu kita harus bersiap menghadapi potensi karhutla yang tantangannya diprediksi lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Faisal.

Fenomena 'Kemarau Kecil' dan Ancaman Ekuator

Sejumlah wilayah krusial seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat kini berada dalam intaian bahaya.

Dia menjelaskan wilayah-wilayah di sekitar ekuator tersebut tengah memasuki fase yang disebut sebagai 'kemarau kecil'. 
Meski sesekali langit masih menumpahkan air, namun sifatnya hanya sesaat dan tidak merata—sebuah kondisi yang menipu bagi kelembapan lahan.

“Di wilayah sekitar equator, seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat, kondisinya kita sebut kemarau kecil. Sesekali masih ada hujan, tetapi tidak berlangsung lama,” paparnya secara detail.

BMKG memprediksi bahwa eskalasi krisis atau puncak musim kemarau di wilayah tersebut akan meledak pada periode Juni hingga Agustus mendatang.

Ini merupakan 'bom waktu' yang menuntut antisipasi dini dari seluruh pemangku kepentingan agar bencana kabut asap tidak kembali melumpuhkan aktivitas publik.

Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Tumpuan

Sebagai langkah mitigasi sebelum kondisi memburuk, BMKG masih mengandalkan upaya penyemaian awan. Tujuannya jelas: memaksa hujan turun demi menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar.

“Selama masih memungkinkan, kita bisa melakukan penyemaian awan agar hujan turun sehingga tanah tetap basah,” kata Faisal.

Tak main-main, Faisal menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi cuaca secara intensif.
Dalam upaya mitigasi bencana yang lebih masif, BMKG berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menggeber Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), khususnya di zona-zona merah rawan kebakaran.

“Kami terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan bekerja sama dengan BNPB untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca di daerah-erah yang rawan karhutla,” tutupnya mengakhiri peringatan tersebut.

Terkini