GAGASANRIAU.COM, KAMPAR -- Para petani di Kabupaten Kampar dirugikan mati mendadak sekitar 30 ton ikan di sepanjang aliran Sungai Tapung yang melintasi Desa Sekijang, Desa Kota Garo, hingga Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, pada Senin (30/3).
Kematian secara massal ikan tambak tersebut kuat dugaannya adanya pencemaran limbah kimia yang mencemari urat nadi kehidupan warga tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar hingga kini belum memberikan jawaban pasti dan mengaku masih menunggu hasil uji laboratorium.
Baca juga : Sungai Tapung Hilir Beracun, 30 Ton Ikan Mati Mendadak, Petani Kampar Rugi Ratusan Juta
Refrizal, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kampar, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menurunkan tim sejak hari kejadian untuk melakukan identifikasi awal.
"Tim sudah turun pada hari kejadian. Sampel air telah diambil dan saat ini sedang diuji di laboratorium tingkat provinsi di Pekanbaru," ujar Refizal.
Namun, kepastian hukum atas penyebab kematian massal ini tampaknya harus melalui birokrasi yang panjang.
Refizal menyebut proses pengujian membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga pekan. Sampel air sendiri diambil dari tiga titik krusial di pertemuan anak sungai, yakni Sungai Kompe, Sungai Banau, dan Sungai Doliek.
"Masalah lingkungan ini kompleks dan tidak bisa langsung disimpulkan berasal dari satu sumber tertentu. Hasil laboratorium nanti akan menjadi dasar analisis kami," dalihnya mengenai tahap identifikasi yang masih berada di level awal.
Bencana Berulang: Sinyal Pengabaian Lingkungan?
Ironisnya, "kiamat ikan" ini bukan fenomena baru. Catatan yang dihimpun menunjukkan pola kerusakan yang berulang dalam waktu singkat, yakni pada Desember 2025, Februari 2026, dan kembali meledak di Maret 2026.
Kejadian terbaru ini disebut-sebut sebagai yang terparah dengan skala kematian ikan paling masif.
Baca juga : Kemenkes Desak Dinkes Siak Klarifikasi Ancaman Eksodus 38 Dokter Spesialis
Mengutip Riaupos.co, dituliskan berdasarkan penelusuran di wilayah Sekijang ditemukan bangkai ikan bergelimpangan dari aliran Sungai Kompe hingga ke hilir.
Kendati demikian, ikan di keramba milik masyarakat dilaporkan tidak terdampak secara signifikan, memperkuat indikasi bahwa sumber polutan bergerak di aliran utama sungai.
Sorotan tajam kini mengarah ke hulu Sungai Tapung, di mana terdapat Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan area perkebunan milik PT Buana Wira Lestari (BWL), bagian dari Sinar Mas Group.
Perusahaan ini diketahui tengah melakukan kegiatan replanting (peremajaan) besar-besaran.
Masyarakat menduga kuat proses penguburan pohon sawit yang disertai pemberian bahan kimia tertentu menjadi biang kerok pencemaran.
Namun, hingga berita ini diturunkan, Humas Sinar Mas Group (PT BWL), Agung, memilih bungkam.
Konfirmasi yang dilayangkan melalui pesan singkat WhatsApp tidak mendapatkan respons sedikit pun.
Polisi Turun Tangan, Parameter Air Dipertanyakan
Merespons keresahan warga, aparat kepolisian mulai bergerak. Polsek Tapung Hilir bersama tim gabungan melakukan investigasi lapangan pada Selasa (31/3) sore guna menyelidiki ancaman terhadap sumber air utama warga.
"Kami perlu memastikan penyebab kejadian ini. Kerja sama dengan berbagai pihak sangat penting untuk mengetahui penyebab pastinya," tegas Kapolsek Tapung Hilir, AKP Khairil, Kamis (2/4).
Berdasarkan pengecekan awal, tim menemukan anomali pada data lapangan. Meski suhu air diklaim normal dan tingkat kekeruhan berada dalam batas wajar dengan kadar oksigen terlarut (DO) di angka 3 mg/L, fakta di lapangan menunjukkan ribuan bangkai ikan mulai membusuk dan menebar bau menyengat.
Kandungan zat kimia berbahaya lainnya kini menjadi teka-teki yang bergantung sepenuhnya pada hasil uji laboratorium DLH Kampar.
Kelestarian lingkungan dan nasib ekonomi masyarakat Tapung Hilir kini berada di ujung tanduk, menanti keberanian otoritas untuk mengungkap pelaku di balik petaka ini.