Bengkalis Masih Karhutla Kabut Asap Mulai Terjadi, Warga Cemas Rumah Terbakar

Bengkalis Masih Karhutla Kabut Asap Mulai Terjadi, Warga Cemas Rumah Terbakar
Tim saat melakukan pemadaman menggunakan alat seadanya

GAGASANRIAU.COM, BENGKALIS, -- Saat ini, pulau Bengkalis  benar-benar dalam status siaga penuh. Pasalnya sudah lebih dari satu bulan hujan tak kunjung turun, meninggalkan lahan gambut yang mengering dan siap meledak menjadi lautan api.

Tercatat hingga Kamis (2/4), 132 hektare lahan di empat kecamatan sudah hangus terbakar, sementara kabut asap tipis mulai menyelimuti langit Negeri Junjungan.

Ditambah lagi, kondisi paling kritis dilaporkan terjadi di Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan, dan Desa Pelkun, Kecamatan Bengkalis.

Ditempat tersebut, api bukan lagi sekadar membakar semak belukar, melainkan sudah merayap mendekati perkampungan warga.

Jeritan Warga dan Celah Koordinasi

Di garis depan pemadaman, kekhawatiran warga memuncak. Yandi, penduduk Desa Teluk Lancar, mendesak Pemerintah Kabupaten Bengkalis segera menurunkan alat berat untuk membuat parit isolasi (sekat bakar).

Baca juga : Ironi APBD Riau untuk Karhutla, Masyarakatnya Sendiri Dianaktirikan! Demi Layani Orang Pusat Guyur Rp133 M

Karena menurut Yandi, hal itu adalah satu-satunya cara menghentikan laju api agar tidak menjilat rumah tinggal mereka.

"Api sudah mendekati perkampungan. Kami sangat berterima kasih pada tim yang berjibaku, tapi kami butuh bantuan alat berat agar kondisi ini bisa diatasi maksimal," tegas Yandi.

Namun, di sisi lain, terdapat celah komunikasi yang kentara. Kapolsek Bantan Iptu Iskandar mengaku pihaknya memang kesulitan memadamkan api dengan peralatan seadanya karena sumber air yang kering.

Meski mendukung penggunaan alat berat, ia menyebut belum ada permintaan resmi dari warga.

"Jika ada permintaan sampaikan saja, biar kita koordinasikan dengan instansi terkait. Saat ini kami dahulukan pemadaman api yang mengarah ke perkampungan agar tidak menjamah rumah warga," ujar Iskandar.

Gambut yang Menolak Padam

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Bengkalis menunjukkan eskalasi kebakaran yang mengkhawatirkan. Dalam sepekan, luas lahan terbakar membengkak dari 105,3 hektare menjadi 132 hektare.

Erzansyah, Manajer Pusdalops-PB BPBD Bengkalis, merinci sebaran titik api diantarnya :

  1. Kecamatan Rupat: 50 Ha (Desa Sukarjo Mesim, Teluk Lecah, Kelurahan Pergam).
  2. Kecamatan Bengkalis: 42 Ha (Desa Pedekik dan Kelemantan).
  3. Kecamatan Rupat Utara: 25 Ha (Desa Titi Akar).
  4. Kecamatan Bantan: 12 Ha (Desa Muntai dan Teluk Lancar).

Di Desa Pedekik saja, 27 hektare lahan gambut membara dengan asap tebal yang menyulitkan pernapasan petugas. Karakteristik tanah gambut membuat api tetap hidup di bawah permukaan tanah (api bawah), sehingga area yang terlihat sudah padam bisa tiba-tiba menyala kembali.

Menanti Mukjizat dari Langit

Meskipun TNI, Polri, BPBD, Damkar, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) terus berjibaku di lapangan, harapan terbesar kini justru tertuju pada cuaca.

Minimnya sumber air dan luasnya area yang terbakar membuat upaya manual menjadi terbatas.

"Kami berharap hanya hujan yang bisa memadamkan api. Karena kondisi lahan kering, api dengan mudah membesar. Meskipun ada hujan di pulau, tapi tidak merata dan intensitasnya sangat rendah," pungkas Erzansyah.

Publik kini menanti langkah konkret Pemkab Bengkalis: apakah akan menunggu "mukjizat" hujan, atau segera mengerahkan sumber daya alat berat sebelum si jago merah benar-benar meratakan pemukiman warga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index