GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU – Di sebuah sore yang teduh di pelataran rumah dinas Jalan A. Yani, Selasa, 17 Februari 2026, tawa dan tepuk tangan pecah di antara ratusan pria dan wanita berseragam kerja sederhana.
Mereka bukan pejabat tinggi, melainkan para personil Lembaga Pengelola Sampah (LPS) dari 83 kelurahan di Pekanbaru.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi menjelang Ramadan 1447 H, melainkan sebuah perayaan atas "kemandirian yang sempat diragukan".
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, berdiri di hadapan mereka dengan nada suara yang bergetar penuh apresiasi. Ia teringat awal tahun 2025, saat Pekanbaru masih tercekik status darurat sampah.
Bau menyengat dan gundukan limbah di sudut-sudut jalan lingkungan menjadi pemandangan harian yang mencoreng wajah kota.
“Saat LPS pertama kali digagas, banyak yang mencibir. Mereka bilang LPS hanya akan membebani APBD dan tidak akan sanggup berbuat banyak,” kenang Agung di hadapan para asisten dan pimpinan OPD yang hadir.
Melawan Keraguan dengan Kemandirian
Namun, narasi skeptis itu runtuh dalam hitungan bulan. Sejak resmi diberdayakan pada Juli 2025, LPS membuktikan bahwa kepedulian warga bisa jauh lebih kuat daripada ketergantungan pada anggaran negara.
Saat ini, 83 kelurahan di Pekanbaru telah memiliki sistem kelola sampah yang sepenuhnya mandiri, sebuah prestasi yang jarang ditemukan di kota besar lainnya.
Bagi Agung, LPS adalah "juru selamat" wajah kota di tingkat lingkungan. Jika dinas terkait mengurusi jalur protokol, maka LPS adalah mereka yang masuk ke gang-gang sempit, menjemput sampah dari depan pintu rumah warga, memastikan tidak ada sisa limbah yang tertinggal di pemukiman.
“Di daerah lain, pengelola sampahnya masih menyusu pada subsidi pemerintah. Di Pekanbaru, LPS kita mandiri tanpa menyentuh APBD sepeser pun,” tegas Agung disambut riuh rendah tepuk tangan.
Keberhasilan ini bahkan mulai memicu rasa penasaran kepala daerah lain di Indonesia untuk datang dan belajar ke Kota Bertuah.
Kebersihan: Sebuah Gotong Royong, Bukan Transaksi
Meski telah mandiri, Agung menekankan bahwa perjuangan para pengelola sampah ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. Ia memberikan mandat khusus kepada para camat dan lurah untuk menjadi "benteng pendukung" bagi LPS.
Menurutnya, kebersihan bukan sekadar urusan memindahkan kotoran dari satu titik ke titik lain. Kebersihan adalah cermin dari kekompakan dan kesadaran kolektif sebuah peradaban.
“Kebersihan itu mahal, tidak bisa diukur dengan uang. Ukurannya adalah kekompakan dan keikutsertaan kita semua,” ujar Agung menutup sambutannya.
Di sore itu, di bawah langit Pekanbaru yang kian bersih, para anggota LPS pulang dengan kepala tegak. Mereka bukan lagi sekadar pemungut sampah, melainkan pahlawan yang memulihkan martabat kota mereka sendiri satu kantong sampah dalam satu waktu.