GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan (Menhut) RI, meluncurkan klaim optimistis terkait capaian penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tahun pertama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Meski angka kebakaran masih menyentuh angka ratusan ribu hektare, dia bersikeras bahwa terdapat tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut dipandang sebagai modal penting untuk menekan angka karhutla lebih rendah lagi, terutama sebagai persiapan menghadapi potensi ancaman El Nino tahun depan.
Menakar Penurunan 4,5 Persen
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada tahun 2024 luas karhutla tercatat mencapai 376.805 hektare. Namun pada 2025, angka tersebut berhasil ditekan sebesar 17.186 hektare, menjadi 359.619 hektare.
Penurunan yang tipis secara statistik ini dinilai pemerintah sebagai hasil kerja bersama seluruh pihak yang terlibat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
"Alhamdulillah, angka karhutla tahun 2025, tahun pertama kepemimpinan Pak Presiden Prabowo Subianto sudah turun dibanding tahun sebelumnya. Jika di tahun 2024 angkanya itu 376.805 hektare, tahun 2025 bisa ditekan menjadi 359.619 hektare," ujar Menhut saat Apel Kesiapsiagaan Karhutla Nasional 2026 di Lanud Rsn Pekanbaru, Riau, Kamis (5/3/2026).
Dia berdalih bahwa capaian tersebut bukan hasil kerja satu institusi semata, melainkan buah dari koordinasi lintas sektor yang berjalan efektif.
Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta pihak swasta.
"Ini semua bisa diwujudkan dengan kerja yang terkoordinasi dan kolaboratif. Tentunya berkat kerja sama semua pihak baik itu di kementerian/lembaga, pusat dan daerah," ujarnya.
Ketergantungan pada Modifikasi Cuaca
Di balik narasi keberhasilan tersebut, Menhut juga menyoroti peran strategis BMKG dalam menyediakan data dan prediksi cuaca. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan langkah antisipasi di lapangan agar api tidak meluas.
Kata Menhut, data cuaca dari BMKG dapat dimanfaatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Strategi ini dinilai cukup efektif dalam mencegah meluasnya titik api di sejumlah wilayah rawan karhutla.
"BMKG membuat data atau prediksi tentang cuaca dan membantu untuk memberikan informasi kepada BNPB untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC), alhamdulillah berjalan dengan efektif," terangnya.
Beban Berat di Garis Depan
Selain dukungan teknologi dan analisis cuaca, Menhut menyatakan bahwa keberhasilan menekan angka karhutla juga tidak terlepas dari kerja keras pasukan darat.
Unsur TNI/Polri, Manggala Agni, hingga masyarakat peduli api dinilai bergerak cepat dan terkoordinasi dalam melakukan patroli serta pemadaman dini.
"Begitu juga pasukan darat, TNI/Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api dan sebagainya bergerak secara koordinatif," sebutnya.
Meski menebar nada positif, Menhut tak menampik bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan. Ia mematok target ambisius agar angka kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2026 dapat ditekan lebih rendah lagi, di tengah ancaman kemarau yang diprediksi lebih ekstrem.
"Jadi meskipun tahun lalu angkanya turun, tahun ini kita harapkan bisa ditekan lebih turun lagi angka karhutla. Karena tahun ini menjadi penting untuk pembelajaran sekaligus persiapan menghadapi El Nino pada tahun depan," pungkasnya.