Klaim Aman Pertamina di Tengah Jeritan Sopir Riau: Antre 2 Jam demi Literan Solar!

Sabtu, 07 Maret 2026 | 20:08:42 WIB
Penampakan antrean BBM Solar di Pekanbaru

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU — Kenyataan di lapangan sangat kontradiksi tajam terjadi antara siaran pers di meja pejabat dengan realitas pahit di aspal jalanan.

Dimana sebelumnya PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melontarkan pernyataan percaya diri bahwa stok BBM dalam kondisi aman, namun ribuan kendaraan justru terjebak dalam antrean mengular yang melumpuhkan aktivitas ekonomi di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Riau.

Melansir dari riaupos.co, disebutkan bahwa sejak Kamis (5/3) hingga Jumat (6/3), pemandangan truk-truk raksasa yang memadati bahu jalan hingga radius kilometer menjadi pemandangan lazim di SPBU.

Tak lagi hitungan menit, para pengais rejeki di jalanan kini harus merelakan waktu produktif mereka habis hingga 2 jam hanya untuk mendapatkan jatah bahan bakar.

Suara dari Aspal: Waktu Habis di Antrean

Adalah Kiwil, seorang sopir dump truck yang ditemui di SPBU Simpang Pandau-Pasir Putih, mengungkapkan kemarahannya. 
Baginya, kelangkaan ini adalah kemunduran nyata dibanding awal tahun lalu.

“Iya, terjadi lagi kelangkaan sekarang. Antre hingga dua jam di SPBU. Dulu waktu tahun baru hanya satu jam, sekarang makin parah,” cetusnya dikutip dari riaupos.co, Jumat (6/3).

Kondisi serupa merata di perbatasan Pekanbaru-Kampar, Marpoyan Damai, hingga lintas Lipat Kain. Di Kubang Jaya, puluhan truk tonase raksasa bahkan mengepung akses SPBU, menciptakan kemacetan horor tanpa satupun petugas SPBU yang mampu memberikan penjelasan medis atas "penyumbatan" distribusi ini.

Sistem Barcode: Inovasi atau Beban Baru?

Bukan hanya soal fisik Solar yang raib, teknologi yang digadang-gadang sebagai solusi justru menjadi bumerang. Di Rokan Hulu, sistem barcode Pertamina dilaporkan seringkali "mati suri", memaksa pengendara gigit jari atau terpaksa membeli BBM nonsubsidi dengan harga selangit.

“Saya sudah antre satu jam, tapi saat akan isi BBM ternyata barcode-nya tidak bisa diproses. Harus tunggu sistem normal,” keluh Herianto, pengendara di Pasirpengaraian.

Pihak pengelola SPBU pun tampak angkat tangan. Manajer SPBU Km 4 Pasirpengaraian, Asvi, mengakui adanya pemangkasan kuota drastis dari 32 ton menjadi hanya 8 ton per hari.

Belum lagi gangguan sistem barcode yang sering error pada malam hari.

“Kita tidak tahu apa penyebab sering gagalnya masuk barcode ini,” tuturnya pasrah.

Alibi Pertamina vs Fakta Lapangan

Ironi memuncak ketika Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengeluarkan pernyataan yang seolah hidup di dunia berbeda.

Ia memastikan pasokan energi di Sumbagut dalam kondisi aman dan siap memenuhi kebutuhan Ramadan hingga Idulfitri.

“Langkah ini dilakukan agar penyaluran energi kepada masyarakat dapat berjalan lancar, aman, dan terukur. Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying,” tegas Fahrougi.

Namun, fakta di lapangan bicara lain. Di Pelalawan, sopir travel seperti Carles Sianipar harus "berburu" Solar hingga ke pelosok kecamatan karena SPBU di jalur utama sudah kosong melompong sejak siang hari.

Nanang Nurohim, pengawas SPBU di Pangkalan Kerinci, membeberkan fakta pahit: pasokan dibatasi ketat oleh Pertamina.

“Biasanya awal tahun cukup besar sampai 32 ton per hari, sekarang dibatasi cuma 16 ton. Kalau habis malam, ya nunggu besok siang lagi baru masuk,” ungkap Nanang.

Bahkan, alasan klasik seperti armada pengangkut yang rusak kembali muncul menjadi dalih tertundanya pengiriman.

Ketimpangan Distribusi: Meranti dan Inhil ‘Adem Ayem’

Menariknya, krisis ini tidak terjadi secara merata. Di Rokan Hilir, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti, distribusi dilaporkan normal tanpa antrean berarti.

Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharuddin, bahkan menjamin stok di wilayahnya berlebih.

Hal ini memicu pertanyaan besar: Mengapa daerah lintas utama Sumatera yang menjadi urat nadi logistik justru mengalami kelangkaan akut?

Apakah ada kesalahan manajemen distribusi di tubuh Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, ataukah "keamanan" stok yang diklaim hanya berlaku di atas kertas laporan internal saja?

Masyarakat kini tidak butuh imbauan untuk "jangan panik". 

Mereka butuh Solar tersedia di pompa bensin, sistem barcode yang tidak penyakitan, dan kejujuran pejabat atas kondisi distribusi yang sebenarnya sedang karut-marut.

Terkini