GAGASANRIAU.COM, SIAK, — Lagi-lagi masalah di Kabupaten Siak bikin heboh. Kal ini pelayanan kesehatan di Kabupaten Siak berada di titik nadir.
Tercatat, puluhan dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tengku Rafi'an secara resmi menyatakan berhenti melayani pasien rawat jalan mulai Selasa (17/3).
Aksi tersebut merupakan mosi tidak percaya terhadap Pemerintah Kabupaten Siak yang menunggak pembayaran "Uang Kelangkaan Profesi" selama enam bulan terakhir.
Dan ironisnya, di tengah ancaman lumpuhnya layanan medis bagi ribuan warga, Bupati Siak Afni Zulkifli justru tidak menampakkan batang hidungnya dalam dua kali kesempatan audiensi krusial.
Baca juga : Maladministrasi di Siak: Bupati Afni Z Sunat TPP 50 Persen, Tabrak Perda APBD 2026?
Efisiensi Anggaran yang Diskriminatif
Macetnya hak para dokter spesialis ini terjadi sejak September 2025 hingga Februari 2026.
Pemkab Siak berdalih langkah ini merupakan bagian dari efisiensi anggaran daerah.
Namun, alasan tersebut dinilai janggal dan diskriminatif oleh para tenaga medis.
"Pelayanan dan absensi setiap hari telah dilaksanakan. Kewajiban ditunaikan, hak tidak dibayarkan. Kalau alasan efisiensi, mengapa RSUD Tualang justru menerima dokter kontrak baru?" tegas salah satu dokter spesialis senior dalam rapat audiensi, Senin (16/3).
Kejanggalan manajemen fiskal ini memicu kecurigaan bahwa efisiensi hanyalah "tameng" untuk menutupi ketidakmampuan daerah dalam mengelola prioritas belanja, sementara nasib garda terdepan kesehatan dikorbankan.
Pemimpin yang Menghilang di Saat Kritis
Ketegangan memuncak bukan hanya karena masalah materi, melainkan sikap abai para pemangku kebijakan. Bupati Afni Zulkifli dan Kepala Dinas Kesehatan (DKP2KB) Siak, dr. Handry, mangkir dalam audiensi di RSUD.
Bahkan, saat Sekretaris Daerah (Sekda) Mahadar memfasilitasi pertemuan di rumah dinas bupati pada sore harinya, sang bupati kembali tidak hadir.
Absennya "Orang Nomor Satu" di Siak ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap kedaulatan pelayanan publik.
"Jangan ada diskriminasi, mohon segera hak kami dikeluarkan sesuai kompetensi yang kami miliki," tulis pernyataan sikap para dokter ASN tersebut.
Ancaman Penutupan Pendaftaran
Daftar absensi menunjukkan puluhan dokter spesialis dari berbagai bidang vital, mulai dari kandungan, anak, bedah, penyakit dalam, hingga kejiwaan telah menandatangani kesepakatan penolakan pelayanan.
Mulai Selasa pagi, pendaftaran pasien rawat jalan resmi ditutup hingga ada kejelasan pembayaran hak mereka.
Mogok massal ini dipastikan akan memicu gelombang kekecewaan dari masyarakat luas.
Jika Bupati Siak tidak segera turun tangan dan memberikan solusi konkret, RSUD Tengku Rafi'an terancam menjadi monumen kegagalan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas sistem kesehatan di Negeri Istana.
Mengutip ANTARA, derdasarkan daftar absensi yang dibubuhi tanda tangan, puluhan dokter spesialis yang hadir pada rapat/audiensi itu di antaranya dokter spesialis kandungan dr. Raffi Fauzi, dr. Hendri Adi Saputra, dr. Rika Efendi, dokter penyakit dalam dr. Izwar dan Abdul Karim.
Kemudian dokter spesialis anak dr. Devi Gusmaiyanto, dr. Wilson, dr. Destri Linjani. Dokter spesialis bedah dr. Syafed Rianda dan dr. Tondy Arian Pakpahan lalu dokter spesialis paru dr. Erneti Aziz dan dr. Pofi Risanti Yarsy.
Selanjutnya dokter spesialis dermatologi venerologi Dr. dr. Dina Devi, dokter spesialis mata dr. Alfida Yanti dan dr. Kahermasari serta dokter spesialis rehabilitasi medik dr. Akhmad Yahin dan dokter spesialis kejiwaan dr. Dwi Wijayanti serta dokter spesialis bedah tulang dr. Loli Anton.