GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU, -- Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, memilih bungkam dan langsung meninggalkan area kampus Universitas Riau (Unri) di tengah kepungan mahasiswa yang menagih janji kedaulatan pangan, Kamis (30/4/2026).
Dimana saat itu aspirasi disampaikan langsung oleh Presiden Mahasiswa Unri, Muhammad Azhari, bersama sejumlah mahasiswa yang telah menunggu usai kegiatan kuliah umum.
Dalam aksinya BEM Unri membawa enam poin tuntutan mendesak yang menjadi rapor merah tata kelola pangan nasional saat ini.
Enam Poin Tuntutan Mahasiswa:
Stabilisasi Harga Pangan
Mahasiswa mendesak pemerintah melalui Kemenko Pangan untuk memastikan stabilisasi harga berbasis intervensi konkret, bukan sekadar operasi pasar musiman.
Transparansi Rantai Distribusi
Kedua, mendesak adanya transparansi serta pengawasan rantai distribusi pangan. Kita meminta pemerintah membongkar dan menindak tegas praktik kartel/mafia pangan serta membuka data distribusi pangan secara transparan ke publik," tegas Azhari.
Penguatan Produksi Lokal
Penekanan pada perlindungan lahan pertanian di Provinsi Riau, pemberian subsidi tepat sasaran bagi petani, serta peningkatan infrastruktur pertanian.
Evaluasi Kebijakan Impor
Mendesak evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan impor yang dinilai mematikan nasib petani lokal dan menuntut prioritas hasil produksi dalam negeri.
Akurasi Data Pangan
Meminta penyediaan data real-time yang dapat diakses publik sebagai dasar penyusunan kebijakan yang transparan dan akuntabel.
Perlindungan Daya Beli
Pemerintah didesak memperluas program bantuan pangan sekaligus memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
Insiden Ketuk Kaca Mobil: Nihil Respon
Ironisnya, sederet tuntutan substansial tersebut hanya berakhir di aspal kampus. Rombongan Wamenko Pangan langsung meninggalkan lokasi tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi mahasiswa untuk berdialog atau sekadar memberikan tanggapan.
Puncak kekecewaan terjadi saat para mahasiswa berupaya mengejar kendaraan dinas yang ditumpangi sang Wamenko.
Azhari mengaku pihaknya bahkan mencoba menarik perhatian dengan mengetuk kaca mobil sang pejabat, namun kendaraan tetap melaju tanpa membuka kaca sedikit pun.
"Sudah coba kami kejar dan ketuk-ketuk kaca mobilnya, tapi tidak ada respon. Tuntutan kami tidak diterimanya," tutur Azhari.
Aksi bungkam sang Wamenko di lingkungan akademis ini menjadi catatan kelam bagi keterbukaan pemerintah dalam merespons kritik terkait persoalan perut rakyat, di tengah klaim ketahanan pangan yang terus didengungkan di podium kuliah umum.