GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU, — Di bawah langit sore Pura Agung Jagatnatha, Pekanbaru, Rabu (18/3), umat Hindu di Riau melakukan sebuah prosesi yang lebih dari sekadar arak-arakan. Tawur Kesanga bukan hanya ritual kalender Saka, melainkan upaya radikal manusia untuk kembali "berdamai" dengan alam semesta dan menundukkan ego yang liar.
Mengutip dari riauonlinecoid, Pembimbing Masyarakat Hindu Kanwil Kemenag Riau, Mustakim, menyebut ritual ini sebagai momen purifikasi.
Dalam teologi Hindu, manusia (Buana Alit) dan alam semesta (Buana Agung) adalah cermin yang saling memantul.
"Apa yang ada di alam—tanah, udara, air, api, dan eter, semuanya ada dalam tubuh kita. Jika alam bergejolak, manusia pun terganggu. Tawur Kesanga adalah titik temu untuk menetralkan keduanya," ujar Mustakim.
Ogoh-ogoh: Memvisualisasikan Monster Internal
Sorotan utama jatuh pada sosok Jagal Abirawa. Terinspirasi dari keteguhan Bima saat menumpas Hidimba, replika raksasa ini bukan sekadar pajangan seni.
Ia adalah personifikasi dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia: nafsu, amarah, keserakahan, kebingungan, kesombongan, dan iri hati.
Arak-arakan menuju persimpangan jalan bukan tanpa alasan. Di titik-titik konflik ruang publik itulah, energi negatif diserap oleh sang ogoh-ogoh sebelum akhirnya dimusnahkan.
"Ogoh-ogoh adalah simbol kekuatan negatif. Kita mengaraknya, lalu membakarnya. Itu pesan kuat bahwa sebelum memasuki heningnya Nyepi, kita harus selesai dengan 'monster' di dalam diri kita sendiri," tambah Mustakim.
Gerbang Menuju Sunyi
Setelah keriuhan Tawur Kesanga usai, umat Hindu bersiap memasuki fase paling krusial. Catur Brata Penyepian.
Sebuah jeda total dari duniawi, tanpa api (Amati Geni), tanpa kerja (Amati Karya), tanpa perjalanan (Amati Lelungan), dan tanpa hiburan (Amati Lelanguan).
Melalui 24 jam dalam sunyi, umat diajak melakukan evaluasi eksistensial. Menekan energi negatif dan menyalakan kembali cahaya kebijaksanaan dalam hati yang bersih. Sebuah perayaan kemenangan atas diri sendiri di tengah hiruk-pikuk dunia.