GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU, — Budiman Lubis, Wakil Ketua DPRD Riau, mengungkap tabir di balik kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang belakangan meresahkan masyarakat.
Dia menengarai adanya "tangan-tangan gelap" atau oknum spekulan yang sengaja melakukan penimbunan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Diungkapkan Budiman para oknum tersebut memanfaatkan isu kenaikan harga BBM subsidi dan memanasnya tensi geopolitik dunia untuk meraup keuntungan pribadi dengan cara menahan pasokan ke pasar.
"Saya sudah telepon satuan pengawasannya (Wilayah 1). Mereka menyatakan ada semacam kewaspadaan masyarakat yang dimanfaatkan. Jadi penimbunan minyak itulah yang menyebabkan kelangkaan kemarin. Ada yang sengaja menciptakan situasi karena isu harga Pertalite mau naik," ujar Budiman, Selasa (12/5).
Bantah Harga Pertalite Bakal Melejit
Selain itu juga, Politisi Gerindra asal daerah pemilihan Rokan Hulu ini menepis keras rumor yang menyebut pemerintah akan menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat.
Menurutnya, pemerintah tidak akan mengambil langkah gegabah yang berpotensi memicu inflasi gila-gilaan pada harga kebutuhan pokok.
Dia menegaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga saat ini hanya menyasar sektor BBM nonsubsidi, sementara Pertalite tetap dipertahankan guna menjaga daya beli masyarakat bawah.
"Jika BBM subsidi naik, maka akan memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok. Sampai hari ini tidak ada kenaikan untuk BBM subsidi. Yang ada hanya kenaikan untuk BBM nonsubsidi," tegasnya.
Bayang-bayang Selat Hormuz dan Beban Negara
Di sisi lain, Budiman tak menampik bahwa ketahanan energi Indonesia tengah diuji oleh bara konflik di Timur Tengah.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang mengancam penutupan Selat Hormuz menjadi variabel paling krusial.
Sebagai jalur nadi yang memasok 20 persen minyak dunia, gangguan di Selat Hormuz secara otomatis meroketkan harga minyak mentah global. Imbasnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus bekerja ekstra keras menahan gempuran tersebut.
Budiman mengungkapkan, subsidi yang harus digelontorkan negara saat ini telah mencapai angka yang fantastis, yakni ratusan triliun rupiah. Angka ini diakui menjadi beban yang sangat berat bagi postur keuangan negara.
"Ini tentu sangat membebani negara. Oleh sebab itu, saya mengajak seluruh masyarakat untuk ikut mengawasi pendistribusian BBM di lapangan, terutama di wilayah Riau. Jangan biarkan oknum bermain di atas beban negara," tutupnya.