GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU-- Lantaran ganasnya luapan Sungai Kuantan nyaris memakan korban jiwa. Akibat tidak kuat menahan hantaman arus yang meningkat drastis, satu unit kompang (rakit penyeberangan tradisional) di Desa Simandolak, Kecamatan Benai, dilaporkan putus tali dan diseret arus pada Kamis (14/5) pagi.
Insiden tersebut mengancam keselamatan warga ini menjadi potret nyata bagaimana masyarakat di wilayah pedalaman Riau terpaksa bertaruh nyawa menggunakan transportasi berisiko tinggi demi memangkas jarak tempuh.
Detik-Detik Tali Kompang Snapped
Mengutip Riaupos.co, peristiwa mendebarkan tersebut terjadi sekitar pukul 08.15 WIB. Kejadian bermula saat beberapa orang warga berniat menyeberang dari Desa Simandolak menuju Desa Tanjung yang berada di bagian seberang Sungai Kuantan dengan menggunakan fasilitas kompang tersebut.
Nahas, sesampainya di tengah sungai yang sedang berarus deras, tali penambat kompang tiba-tiba putus. Di luar dugaan, situasi mencekam tersebut dihadapi dengan kepala dingin.
Beberapa warga beserta pengemudi kompang yang berada di atas rakit yang tak terkendali itu dilaporkan tetap tenang dan tidak gusar. Kompang yang kehilangan kendali itu kemudian hanyut terseret arus sungai yang deras menuju ke bagian hilir.
Beruntung, setelah terombang-ambing, kompang tersebut akhirnya tersadar dan menepi di pinggiran Sungai Kuantan, tepatnya di kawasan Desa Pulau Kalimanting, Kecamatan Benai. Seluruh penumpang langsung menepi dan dipastikan selamat.
"Alhamdulillah tidak ada korban atas kejadian itu. Beberapa orang warga selamat setelah kompang yang hanyut menepi di Desa Pulau Kalimanting di bagian seberang Sungai Kuantan," ungkap Camat Benai, Paimun Hendro, saat dikonfirmasi pada Jumat (15/5).
Dilema Jalur Memutar dan Penghentian Operasi
Dijelaskan Paimun, fasilitas kompang Simandolak ini merupakan urat nadi transportasi yang rata-rata digunakan oleh masyarakat Desa Tanjung, Kecamatan Benai.
Warga lebih memilih menggunakan sarana kompang yang berisiko karena jaraknya jauh lebih dekat untuk sampai ke Desa Tanjung dibandingkan harus melintasi jalur darat.
"Kalau lewat jalan poros melintasi jembatan dan memutar ke Desa Gunung Kesiangan. Kalau kompang kan tidak, warga langsung sampai ke Desa Tanjung," kata Paimun.
Mengingat kondisi Sungai Kuantan yang masih dalam dan arusnya sangat membahayakan, Paimun mengeluarkan instruksi tegas demi keselamatan publik.
Dia meminta warga untuk sementara waktu bersedia melewati jalan poros yang ada meskipun harus memutar. Sementara itu, seluruh aktivitas kompang penyeberangan resmi dihentikan total hingga kondisi Sungai Kuantan kembali normal.
Kondisi Banjir Benai vs Pangean
Secara umum, luapan Sungai Kuantan di wilayah Kecamatan Benai dinilai tidak terlalu berdampak parah dibandingkan wilayah tetangga. Pada Kamis kemarin, terjangan air terpantau hanya sampai menggenangi halaman beberapa rumah warga.
Kondisi ini dikarenakan geografis Kecamatan Benai berada di dataran yang lebih tinggi daripada Kecamatan Pangean, yang pada hari Kamis kemarin mencatatkan banyak rumah warga terendam banjir akibat luapan sungai yang sama.
Per Jumat (15/5) hari ini, kondisi permukaan air Sungai Kuantan dilaporkan sudah mulai surut jika dibandingkan dengan hari Kamis kemarin. Kendati demikian, otoritas setempat meminta masyarakat untuk tidak lengah dan tetap berada dalam kondisi waspada tinggi terhadap potensi banjir susulan.