Alarm Bahaya DBD di Riau, 1.682 Warga Terjangkit, 12 Orang Meninggal Dunia

Jumat, 22 Mei 2026 | 18:37:10 WIB
Foto ilustrasi (Unplash.com)

GAGASANRIAU.COM, PEKANBARU -- Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kesehatan (Diskes) menabuh genderang alarm kewaspadaan tinggi menyusul ledakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyebar masif di seluruh wilayah Bumi Lancang Kuning.

Dinkes Provinsi Riau mencatat, dalam kurun waktu singkat sejak Januari hingga April 2025, serangan virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk ini telah menjangkiti total 1.682 warga di 12 kabupaten/kota, serta merenggut 12 korban jiwa.

Tingginya angka kematian ini merefleksikan bahwa ancaman DBD di Riau sudah masuk dalam fase yang mengkhawatirkan dan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Zulkifli, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, mengungkapkan bahwa hulu dari ledakan kasus ini berakar pada buruknya tata kelola kebersihan lingkungan masyarakat, yang memicu munculnya banyak genangan air sebagai sarang empuk pembiakan nyamuk Aedes aegypti.

“Selama empat bulan terakhir, sebanyak 1.682 warga Riau telah terjangkit DBD. Ini bukan hal yang bisa kita anggap sepele. Semua pihak harus berperan aktif dalam pencegahannya,” tegas Zulkifli dikutip dari Riauposco.

Peta Zona Merah: Rokan Hilir dan Pekanbaru Tertinggi

Berdasarkan data forensik epidemiologi Diskes Riau, sebaran kasus terbanyak alias zona merah terpusat di Kabupaten Rokan Hilir.

Wilayah ini mencatatkan rekor kelam dengan 282 kasus, di mana empat pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan medis.

Menempel ketat di posisi kedua adalah ibu kota provinsi, Kota Pekanbaru, yang mencatatkan 251 kasus intervensi medis tanpa adanya laporan korban jiwa.

“Kasus DBD selanjutnya ada di Kabupaten Bengkalis yakni 230 kasus, dengan satu orang diantaranya meninggal dunia,” urai Zulkifli merinci peta kerawanan wilayah.

Selanjutnya, tren lonjakan kasus juga menghantam Kota Dumai dengan temuan 208 kasus yang menelan satu korban jiwa. 
Kabupaten Kampar mencatat 165 kasus dengan angka fatalitas mencapai tiga orang meninggal dunia, diikuti Kabupaten Rokan Hulu dengan 98 kasus dan satu korban jiwa.

Sementara itu, wilayah Kabupaten Kuantan Singingi mencatatkan 130 kasus aktif, disusul Kabupaten Indragiri Hulu dengan 80 kasus dan satu orang meninggal dunia.

Untuk wilayah Kabupaten Pelalawan terdeteksi 72 kasus, dan Kabupaten Siak mencatatkan 50 kasus serangan nyamuk.

Pembersihan Sarang Nyamuk Jadi Harga Mati

Di ekor peta sebaran, serangan virus dengue menyasar Kabupaten Indragiri Hilir dengan raihan 81 kasus yang mengakibatkan satu pasien meninggal dunia.

Posisi terakhir ditempati oleh wilayah kepulauan, yakni Kabupaten Kepulauan Meranti dengan deteksi terkecil sejumlah 35 kasus.

“Kemudian di Kabupaten Indragiri Hilir 81 kasus dengan satu meninggal dunia dan Kepulauan Meranti 35 kasus,” sebut Zulkifli secara rigid.

Merespons rembetan kasus yang kian tak terkendali ini, Diskes Riau mendesak seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah di 12 kabupaten/kota untuk tidak pasif.

Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui skema menguras, menutup, dan mendaur ulang (3M Plus) dinilai sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar untuk memutus mata rantai penularan di tingkat tapak.

Terkini