Warga Bagan Sinembah Blokir Jalan Akibat Debu Truk Sawit PTPN IV dan PT Lahan Tani Sakti, Minta Kompensasi Obat ISPA

Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:57:59 WIB
Aksi protes warga blokir jalan di Bagan Sinembah, Rokan Hilir, Riau

GAGASANRIAU.COM, BAGAN SINEMBAH - Lantaran sudah membuat polusi debu hingga menimbulakn penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut, (ISPA) yang menimpa warga Dusun Murini Simpang Joko dan Simpang Acong, Kepenghuluan Persiapan Murni Makmur, Kecamatan Bagan Sinembah, Rokan Hilir, amarah akhirnya memuncak.

Sebagai aksi protes, masyarakat nekat menggelar aksi pemblokiran jalan atas pekatnya polusi debu yang dipicu tingginya lalu lintas armada perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Protes tersebut mengarah pada operasional PTPN IV Regional I Kebun Tanjung Medan serta PT Lahan Tani Sakti (LTS) perusahaan perkebunan anak usaha grup agribisnis Minamas Plantation (Sime Darby Plantation).

Aksi penutupan akses ini berlangsung di ruas jalan lintas Bagan Batu–Tanjung Medan pada Selasa (18/8/2026).

Masyarakat menilai paparan debu yang kian pekat telah merenggut kenyamanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kondisi tersebut diperparah oleh perataan (grader) jalan yang baru saja dilakukan oleh pihak perusahaan.

Aktivitas perataan tanah itu membuat material jalan semakin gembur dan menyebarkan polusi debu tebal setiap kali dilintasi kendaraan heavy-duty.

Dampak paling parah dirasakan langsung oleh pemukiman warga yang berdiri tepat di sepanjang pinggir jalan tersebut.

Deklarasi Imbauan dan Tuntutan Kompensasi Obat ISPA

Sebelum aksi pemblokiran meletus, warga sebenarnya telah melayangkan seruan terbuka sehari sebelumnya, Senin (17/8/2026).

Imbauan tersebut ditujukan kepada manajemen perusahaan serta para pemilik ram atau peron sawit yang rutin melintasi jalur tersebut.

Dalam pernyataan resminya, warga mendesak agar seluruh sopir mengurangi kecepatan kendaraan saat melintasi pemukiman.

Masyarakat juga menuntut perusahaan melakukan penyiraman jalan secara berkala, minimal tiga kali dalam sehari.

Tak hanya persoalan lalu lintas, warga menuntut kepedulian atas dampak kesehatan yang mulai menyerang warga sekitar.

Masyarakat mendesak adanya kompensasi bantuan obat-obatan bagi warga yang terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan debu.

Warga menegaskan, jika imbauan tersebut diabaikan, mereka bakal melakukan penyiraman jalan secara swadaya.

Konsekuensinya, seluruh kendaraan operasional perusahaan maupun truk pengangkut sawit milik ram akan dihentikan sementara selama proses penyiraman berlangsung.

“Masyarakat: Siram! Siram! Siram!” seru warga dalam pernyataan sikap mereka.

Keluhan Warga dan Jalan yang Baru Digrader

Salah seorang warga setempat, Ismail Siregar, mengonfirmasi langsung aksi pemblokiran jalan tersebut.

Ismail menyebut hingga aksi digelar, belum ada iktikad atau solusi nyata dari perusahaan maupun pemilik ram sawit.

Ia menuturkan, kondisi lingkungan permukiman kian tak menentu setelah jalan raya tersebut diratakan.

“Untuk kawan-kawan yang melintas dari Simpang Pujud ke Tanjung Medan, mohon maaf perjalanan saat ini terhambat,” kata Ismail dikutip dari Riauterkinicom.

Hambatan itu, lanjut Ismail, terjadi karena jalan baru digrader perusahaan dan memicu polusi debu hebat di kawasan padat penduduk.

Ia meminta para pengemudi truk sawit untuk menahan diri dan menurunkan laju kendaraan.

“Diharapkan kepada sopir-sopir agar bersabar sejenak, menunggu penyiraman jalan agar debu tidak mengenai rumah-rumah masyarakat,” ucapnya.

Ismail menyayangkan lambatnya respons pihak-pihak yang bertanggung jawab atas fasilitas publik tersebut.

“Sampai saat ini belum ada kejelasan siapa yang akan menyiram jalan ini,” kata Ismail menegaskan.

Secara umum, masyarakat berharap perusahaan dan pemilik peron sawit segera mengambil langkah konkret di lapangan.

Penyiraman jalan secara rutin dinilai sebagai solusi jangka pendek yang mendesak untuk menyelamatkan warga dari ancaman penyakit.

Blokir Jalan Dibuka Sementara Usai Turun Hujan dan Mediasi

Setelah memanas sepanjang hari, penutupan jalan akhirnya mulai melunak menjelang tengah malam.

Tokoh warga setempat, Salman Paris Siringoeingo, menyampaikan bahwa blokir jalan dibuka sekitar pukul 22.00 WIB.

Salman mengungkapkan ada dua alasan utama yang membuat warga bersedia membuka barikade jalan.

Pertama, faktor cuaca karena hujan mulai turun membasahi dan meredam debu di lokasi tersebut.

Kedua, adanya kesepakatan awal dari hasil perundingan bersama Unsur Pimpinan Kecamatan (Upika) Bagan Sinembah.

“Sekitar pukul 22.00 WIB, blokir dibuka,” ujar Salman saat memberikan keterangan.

Ia menjelaskan, jajaran Upika berjanji akan memediasi pertikaian ini secara langsung di titik lokasi pemblokiran.

“Upika Bagan Sinembah berjanji siang ini, Rabu (19/8/2026), akan menghadirkan pihak perusahaan PT LTS dan PTPN IV Regional I Kebun Tanjung Medan serta pengusaha ram atau peron di titik blokir jalan,” tutur Salman.

Terkini